Home / News

Sabtu, 5 Maret 2022 - 17:30 WIB

Tidak Terima Dicoret Setelah Penetapan, Calon Keuchik di Abdya Mengadu ke YARA

REDAKSI - Penulis Berita

Iskandar saat melaporkan pencoretan dirinya dari calon Keuchik ke YARA Perwakilan Abdya

Iskandar saat melaporkan pencoretan dirinya dari calon Keuchik ke YARA Perwakilan Abdya

NOA l Abdya – Salah seorang calon Keuchik Gampong Geulanggang Gajah, Kecamatan Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Iskandar mengaku merasa terzalimi atas keputusan camat setempat yang meminta Panitia Pemilihan Keuchik (P2K) Gampong setempat untuk menggugurkan dirinya dari calon.

Iskandar kepada awak media disela-sela mengadukan hal tersebut di Kantor YARA Perwakilan Abdya, Sabtu (5/3/2022) mengaku, sejak pendaftaran diri lolos, hingga kemudian ditetapkan oleh P2K sebagai calon Keuchik.

Namun, katanya, tiba-tiba datang surat camat untuk mencoret dirinya sebagai calon. “Inikah aneh, tentu saya tidak bisa terima,” tegas Iskandar, Sabtu, 5 Maret 2022.

Oleh karena itu, katanya, dirinya mendatangi Kantor YARA Perwakilan perwakilan Abdya, untuk meminta pendampingan hukum.

Baca Juga :  Melacak Hari Keenam Invasi Rusia ke Ukraina Menggunakan Peta

Pada kesempatan itu, Iskandar mengakui, imbas dari surat camat terkait pencoretan diri dari salah satu calon berbuntut panjang. Pasalnya, P2K Gampong setempat mengundurkan diri karena tidak sanggup mengambil keputusan pencoretan tersebut.

“Saat ini Tuha peut telah memilih P2K baru, karena P2K lama mengundurkan diri dengan alasan tidak berani mengambil kebijakan (mencoret Iskandar sesuai surat camat),” sebut Iskandar.

Setelah P2K baru terbentuk, lanjutnya, kemudian dirinya langsung dicoret dari calon Keuchik.

“Alasan camat yang mencoret saya ini atas dasar Qanun Aceh tentang Nomor 4 tahun 2009 tentang cara pemilihan dan pemberhentian Keuchik di Aceh,” kata Iskandar.

Baca Juga :  Strategi Perang Informasi Rusia dan Dukungan Sebagian Publik Indonesia kepada Putin

Di mana, terangnya, pada Pasal 13 huruf J yang berbunyi tidak pernah dijatuhi pidana penjara karena melakukan kejahatan yang diancam dengan hukuman penjara paling singkat 5 tahun berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, kecuali tindak pidana makar atau politik yang telah mendapat amnesti/rehabilitasi.

“Kalau itu alasannya saya tidak bisa dicoret, karena saya tidak pernah dihukum seperti dalam Qanun itu. Maka dari itu saya merasa terzalimi,” sebut Iskandar.

Iskandar, mengaku selain merasa hak politiknya dicabut sepihak oleh camat dan pihak terkait, dirinya juga merasa namanya baiknya tercemar atas putusan camat yang terkesan mengada-ngada.

Baca Juga :  Tokoh Adat Aceh: Gestur Tubuh Gubernur di Hadapan Presiden Bentuk Ta’dzim Kepada Pimpinan

“Saya merasa dirugikan. Nama baik saya tercemar. Karena ini saya tidak bisa terima. Satu lagi, kalau memang berkas saya tidak lengkap kenapa tidak dari dulu, kenapa baru sekarang dan ini terkesan mengada-ngada,” imbuh Iskandar.

Katanya, jika memang putusan camat yang berpedoman pada Qanun itu tegas, maka di kecamatan lain juga harus digugurkan, karena banyak desa lain yang calon Kadesnya mantan narapidana.

“Kenapa penegasan ini hanya untuk saya, bagaimana dengan Gampang lain. Ini tidak adil,” pungkas Iskandar.(RED).

Share :

Baca Juga

News

Sumber Kekayaan Nirwan Bakrie, Bos Persija Jakarta

News

Walkot Ukraina Tewas Tangan Terikat hingga Korut Ancam Nuklir Korsel

News

Kolaborasi Apik Berbuah Ekspor Ikan Tuna ke Vietnam

News

Kalahkan Arema FC, Teco Sebut Bali United Bermain Lebih Bagus

News

Cabuli Anak Dibawah Umur,  Kakek 53 Tahun Dibekuk Polisi

News

Zelensky: Eropa Berakhir Bila 1 Reaktor Nuklir Ukraina Meledak

News

Anang Hermansyah Happy Dapat Dukungan HT Soal Token Kripto

News

Harga Minyak Goreng Terkendali, Jokowi Bandingkan dengan Negara Lain