Home / Advetorial

Minggu, 7 September 2025 - 18:00 WIB

Aroma Kopi Gayo dari Pondok Baru

mm Syaiful Anshori

Secangkir kopi gayo. dok. Ist

Secangkir kopi gayo. dok. Ist

Redelong – Di pagi yang sejuk di Pondok Baru, aroma kopi khas Gayo tercium kuat dari setiap sudut desa. Udara dingin yang menyelimuti kawasan ini seolah menjadi teman akrab bagi para petani dan penikmat kopi yang memulai hari dengan secangkir hangat minuman beraroma tajam dan cita rasa khas pegunungan.

Syarif, Minggu (7/9/2025), salah seorang warga Pondok Baru yang sudah puluhan tahun bergelut dengan dunia kopi, tersenyum ketika ditanya tentang keistimewaan kopi Gayo.

Baca Juga :  Serunya Perjalanan Menuju Burni Kelieten, Rekomendasi Wisata Mendaki di Aceh Tengah
Aroma Kopi Gayo
Tampilan Biji kopi gayo. dok. Ist

“Aroma kopi dari sini itu berbeda. Tanah di dataran tinggi Bener Meriah ini memberi karakter rasa yang kuat, ada asamnya sedikit, tapi lembut di lidah. Dan yang paling khas, aromanya tidak bisa ditiru,” ujarnya sambil menuang bubuk kopi hasil sangainya sendiri.

Menurut Syarif, hampir setiap rumah di Pondok Baru memiliki hubungan dengan kopi, baik sebagai petani, peracik, maupun penikmatnya. Kopi bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat.

Baca Juga :  Tingkatkan Kapasitas Kebencanaan, Japan International Cooperation Agency Kunjungi Museum Tsunami Aceh

“Kopi itu sudah jadi bagian hidup kami. Dari kebun sampai ke cangkir, semua ada cerita dan maknanya,” katanya.

Di warung-warung sederhana yang berdiri di sepanjang jalan utama Pondok Baru, pengunjung bisa menemukan berbagai varian kopi Gayo dari yang diseduh dengan cara tradisional menggunakan saringan kain, hingga yang diracik dengan alat modern seperti French press atau V60. Namun, apapun cara penyajiannya, aroma khasnya tetap sama menyapa dengan hangat dan meninggalkan kesan mendalam.

Baca Juga :  Almuniza Temui Konsul Jenderal Malaysia dan Kadisbudpar Sumut di Medan, Ini Hasilnya

Syarif menambahkan, keharuman kopi Gayo bukan hanya daya tarik wisatawan, tetapi juga pengikat kebersamaan warga.

“Kami sering duduk ramai-ramai di warung kopi, berbagi cerita sambil menikmati kopi dari kebun sendiri. Dari situ, lahir ide-ide, kerja sama, dan rasa persaudaraan,” ungkapnya. [Adv]

Editor: Amir SagitaReporter: Syaiful Anshori

Share :

Baca Juga

Advetorial

Menikmati Memek, Kuliner Khas Favorit Simeulue yang Menggugah Selera

Advetorial

Terus Berlanjut, Capaian Vaksinasi Covid-19 Pemerintah Aceh Kini Mencapai 94.210

Advetorial

Pemerintah Tegaskan Komitmen dan Tanggung Jawab Perusahaan terhadap Tenaga Kerja

Advetorial

Diskop UKM Aceh Bina Puluhan Pelaku Usaha Pengolahan Makanan

Advetorial

Perpustakaan Desa di Aceh Jadi Motor Literasi dan Pemberdayaan Ekonomi

Advetorial

Kadisbudpar Aceh: Turis Asing Meningkat pada Agustus, Capai 3.042 Orang

Advetorial

Yuk Malam Mingguan di Taman Budaya, Ada Pentas Aceh Milenial

Advetorial

Majunya Pendidikan di Indonesia untuk Menuju Indonesia Emas 2045 dengan : Sejahterahakan Tenaga Pendidik (Guru)