Sigli — Malam Ramadan ke 9 di Kemukiman Kalee, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, terasa lebih teduh dari biasanya. Usai salat tarawih, jamaah tetap bertahan di dalam Masjid Babussalam. Anak-anak ada yang bersandar di pangkuan orang tuanya, para orang tua duduk bersaf rapi, menyimak tausiah yang mengalir pelan namun sarat makna.
Di hadapan mereka, Tgk Muhammad Rizal, santri Dayah Darussalam Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan menyampaikan pesan tentang empat golongan manusia yang dirindukan oleh surga Allah SWT. Pesan itu ia sampaikan dalam rangkaian safari Ramadan, Kamis (26/2/2026).
“Pertama, orang yang senantiasa membaca Al-Qur’an,” ujarnya membuka tausiah. Baginya, Al-Qur’an bukan sekadar bacaan yang dilantunkan untuk menggugurkan kewajiban. Kitab suci yang diturunkan pada bulan Ramadan itu adalah pedoman hidup, penuntun arah di tengah perubahan zaman.
Membacanya berarti merawat hubungan dengan Tuhan sekaligus memperbaiki diri. Golongan kedua adalah mereka yang mampu menjaga lisan. Tgk Rizal mengingatkan, puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan ucapan yang sia-sia. Dalam kehidupan sehari-hari, kata-kata sering kali menjadi sumber luka. Karena itu, Ramadan menjadi ruang latihan untuk mengendalikan diri—menahan amarah, menghindari ghibah, dan memilih diam ketika kata-kata tak lagi membawa manfaat.
“Jangan sampai pahala puasa berkurang hanya karena lisan yang tidak terjaga,” tuturnya.
Golongan ketiga, lanjutnya, adalah orang-orang yang gemar memberi makan kepada yang membutuhkan. Ia menggambarkan, di bulan suci, satu piring makanan sederhana yang diberikan dengan tulus bisa menjadi jembatan kebaikan yang panjang. Memberi makan bukan hanya soal berbagi rezeki, tetapi juga menumbuhkan empati dan kepedulian sosial.
Adapun golongan keempat adalah mereka yang berpuasa dengan penuh keikhlasan di bulan Ramadan. Menurutnya, puasa merupakan ibadah istimewa yang balasannya langsung dari Allah SWT.
Di bulan inilah, umat Islam didorong memperbanyak amal, mulai dari salat tarawih, bersedekah, membaca Al-Qur’an, hingga memperbaiki hubungan dengan sesama.
Putra Ujong Rimba, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie itu menegaskan, amal yang banyak harus disertai adab dan etika. Menjaga sopan santun, memperbaiki niat, serta menghindari perbuatan yang tidak penting menjadi bagian dari kesempurnaan ibadah.
Menjelang akhir tausiahnya, ia kembali mengingatkan jamaah agar menjadikan Ramadan sebagai momentum memperbanyak sedekah dan membantu sesama. Kesempatan beribadah di bulan suci, katanya, adalah anugerah yang belum tentu terulang pada tahun berikutnya.
Di luar masjid, malam terus berjalan. Namun bagi para jamaah yang hadir, pesan tentang empat golongan yang dirindukan surga itu menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, melainkan tentang memperbaiki diri—dari lisan, dari kepedulian, hingga dari ketulusan hati.
Editor: Amiruddin. MKReporter: Amir Sagita










