Banda Aceh – Kasus tuberkulosis (TBC) di Kota Banda Aceh paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif hingga menjelang lanjut usia. Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mencatat kelompok umur 45-54 tahun menjadi penyumbang kasus tertinggi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, mengatakan sebanyak 248 kasus TBC ditemukan pada kelompok usia 45-54 tahun. Sementara kelompok usia 55-65 tahun berada di posisi kedua dengan 222 kasus.
“Pada tahun 2025, kelompok usia 45 sampai 54 tahun menjadi yang tertinggi dengan 248 kasus, disusul usia 55 sampai 65 tahun sebanyak 222 kasus,” kata Wahyudi, Kamis (4/6/2026).
Tingginya kasus pada kelompok usia dewasa tersebut menunjukkan TBC masih menjadi ancaman bagi masyarakat usia produktif yang memiliki mobilitas dan aktivitas tinggi.

Selain menyerang orang dewasa, Dinas Kesehatan juga menemukan kasus TBC pada anak-anak. Hingga saat ini tercatat sebanyak 61 kasus terjadi pada anak usia 0-4 tahun dan 57 kasus pada kelompok usia 5-14 tahun.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan penularan TBC masih terjadi di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Dalam upaya pengendalian penyakit tersebut, Dinas Kesehatan mencatat tingkat keberhasilan pengobatan pasien TBC di Banda Aceh mencapai 86 persen pada 2025.
Menurut Wahyudi, capaian tersebut menunjukkan sebagian besar pasien yang menjalani pengobatan berhasil menyelesaikan terapi hingga tuntas sesuai standar pengobatan TBC.
Dari sisi penemuan kasus, Dinas Kesehatan menerapkan metode passive case finding atau penemuan kasus pasif melalui fasilitas pelayanan kesehatan. Hingga 2025, cakupan skrining yang dilakukan melalui rumah sakit, puskesmas, klinik, dan dokter praktik mandiri mencapai 105 persen dari target yang ditetapkan.
“Penemuan kasus dilakukan melalui seluruh fasilitas pelayanan kesehatan yang aktif memeriksa dan menangani pasien TBC,” ujarnya.
Saat ini, program penanggulangan TBC di Banda Aceh didukung oleh sedikitnya 12 rumah sakit pemerintah dan swasta, 11 puskesmas, 22 klinik, serta empat dokter praktik mandiri yang terlibat dalam pelayanan TBC.
Meski demikian, Wahyudi mengakui belum seluruh puskesmas memiliki layanan TBC yang terintegrasi secara penuh. Hal itu karena sistem pelayanan kesehatan saat ini telah menerapkan pendekatan klaster, di mana penanganan TBC dibagi dalam beberapa layanan sesuai kelompok usia, surveilans, laboratorium, dan farmasi.
Ia mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala TBC seperti batuk lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, demam berkepanjangan, dan keringat malam agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK















