Home / Sosial Budaya

Senin, 14 September 2026 - 15:33 WIB

Uroe Lahee Pidie ke-515, Menghidupkan Kembali Budaya yang Nyaris Terlupakan

mm Amir Sagita

Baliho Uroe Lahee Pidie ke 515 yang akan digelar Rabu (16/9/2026) (Foto.IST).

Baliho Uroe Lahee Pidie ke 515 yang akan digelar Rabu (16/9/2026) (Foto.IST).

Sigli – Suara rapai, ragam kesenian tradisional, pawai budaya, hingga atraksi geudeu-geudeu akan mengisi perayaan Uroe Lahee Pidie ke-515. Perhelatan tahunan ini bukan semata-mata perayaan hari lahir Kabupaten Pidie, tetapi juga menjadi ruang untuk mengingat kembali adat dan kebudayaan yang perlahan mulai ditinggalkan.

Rangkaian kegiatan Uroe Lahee Pidie ke-515 dijadwalkan berlangsung mulai Rabu, 16 September 2026. Puncak perayaan akan digelar pada Sabtu, 19 September 2026.

Sekretaris Umum Panitia Pelaksana Uroe Lahee Pidie, Teuku Ikbal, mengatakan tahun ini panitia sengaja menempatkan seni dan budaya sebagai bagian penting dalam rangkaian acara. Masyarakat tidak hanya diajak menikmati hiburan, tetapi juga mengenali kembali identitas daerahnya.

“Semua kegiatan ini khusus untuk menghibur masyarakat dengan menampilkan seni budaya Pidie. Ini agenda tahunan untuk memperingati hari kelahiran Pidie,” kata Ikbal kepada NOA.co.id, Senin, 14 September 2026.

Baca Juga :  Berusia Ratusan Tahun, Menelusuri Masjid Bung Sidom di Aceh BesarĀ 

Menurut dia, perkembangan zaman membuat sebagian generasi muda mulai jauh dari pengetahuan tentang adat dan budaya daerah. Karena itu, Uroe Lahee menjadi salah satu momentum untuk memperkenalkan kembali tradisi yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pidie.

Salah satu yang akan ditampilkan adalah geudeu-geudeu. Tradisi permainan rakyat Aceh yang pernah dikenal luas di Pidie itu kini semakin jarang disaksikan.
“Geudeu-geudeu hampir punah dan banyak orang sudah tidak tahu budaya ini,” ujar Ikbal.

Ia berharap pertunjukan tersebut dapat menjadi semacam pengingat bagi generasi muda bahwa Pidie memiliki warisan budaya yang panjang dan beragam.
“Kita berharap masyarakat dapat menyaksikan pagelaran adat dan budaya ini,” katanya.

Dari Panggung hingga Makam Raja
Rangkaian Uroe Lahee Pidie tahun ini dikemas dalam sejumlah kegiatan. Selain pentas seni dan budaya Pidie, panitia menyiapkan pameran pembangunan dan ekspo UMKM.

Baca Juga :  Kolaborasi Tour APEKSI 2026, Dessy Ajak Delegasi Kenali Ciri Khas Budaya Lokal Banda Aceh

Agenda pemerintahan juga masuk dalam rangkaian peringatan, yakni sidang paripurna DPRK Pidie dengan agenda memperingati Uroe Lahee Pidie ke-515.

Nuansa sejarah akan hadir melalui ziarah ke makam Raja Pedir atau Sultan Ma’rufsyah. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perayaan hari lahir Pidie tidak terlepas dari perjalanan sejarah dan pemerintahan daerah tersebut.

Berbagai kegiatan lain turut disiapkan, antara lain Festival Anak Saleh Indonesia, temu ramah atau Malam Meuproe Ureung Pidie, pawai budaya, khenduri raya dan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Panitia juga menjadwalkan gala dinner atau Peumulia Jamee, malam puncak yang disebut Malam Meusaree, serta kegiatan olahraga masyarakat berupa senam dan sepeda santai.

Untuk pencinta olahraga, agenda Uroe Lahee juga diramaikan jambore sepeda, drag race, serta Kejurda Karate Forki Aceh Piala Bupati dan Wakil Bupati Pidie.

Baca Juga :  Kolaborasi Tour APEKSI 2026, Delegasi Diajak Telusuri Wisata Sejarah dan Tsunami di Banda Aceh

Namun, di antara padatnya agenda tersebut, pesan yang ingin ditinggalkan panitia bukan hanya kemeriahan. Ada upaya untuk membawa kembali ingatan masyarakat terhadap kebudayaan yang mulai kehilangan ruang dalam kehidupan sehari-hari.

Ikbal mengatakan generasi muda perlu mengetahui batas antara adat dan budaya Pidie dengan kebiasaan yang berkembang seiring zaman. “Mungkin generasi muda saat ini tidak tahu lagi mana yang adat dan mana budaya Pidie,” katanya.

Karena itu, Uroe Lahee Pidie ke-515 diharapkan tidak berhenti sebagai pesta tahunan. Panggung-panggung kesenian, pawai budaya dan atraksi tradisional menjadi cara untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan warisan leluhur mereka.

Puncaknya pada 19 September nanti, ketika masyarakat berkumpul dalam Malam Meusaree, perayaan itu sekaligus menjadi kesempatan untuk bertanya kembali: sejauh mana sebuah daerah masih mengenali jati dirinya sendiri setelah 515 tahun perjalanan sejarah?

Editor: Amiruddin. MKReporter: Amir Sagita

Share :

Baca Juga

Aceh Besar

Pantai Pasir Putih Lhok Mee, Permata Tenang di Pesisir Aceh Besar

Aceh Barat

Kerajinan Kasab Aceh Barat, Warisan Budaya Bernilai Ekonomi yang Terus Dilestarikan

Aceh Barat Daya

Sepak Bola Sarung Meriahkan HUT RI ke-81 di Pulau Kayu

Keagamaan

Ketua DPRK Banda Aceh Dukung Pengembangan Nasyid sebagai Media Dakwah dan Identitas Syariat

Sosial Budaya

Peringati Hari Lahir Pidie ke 514, Wabup Ziarah ke Makam Raja Pedir

Banda Aceh

Kolaborasi Tour APEKSI 2026, Delegasi Diajak Telusuri Wisata Sejarah dan Tsunami di Banda Aceh

Sosial Budaya

Pidie Sambut HUT ke-514 dengan Penuh Semarak, Warga Antusias Rayakan Uroe Lahe

Daerah

Revitalisasi Lembaga Adat Aceh: MAA Perkuat Budaya dan Agama di Era Digital