Home / Advetorial

Senin, 24 Oktober 2022 - 11:25 WIB

Syahdu, Gerimis Iringi Malam Terakhir Pekan Tari Gunongan

Redaksi

NOA | Banda Aceh – Malam terakhir atau malam penutupan Pekan Tari Gunongan berlangsung dalam kondisi hujan gerimis, Minggu (23/10/2022) di Taman Sari Gunongan, Banda Aceh. Kondisi itu justru membuat suasana perhelatan seni ini semakin syahdu.

Event yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh ini, selama dua malam, 22-23 Oktober 2022 menampilkan belasan sanggar hingga grup musik etnic.
Acara ditutup oleh Kepala Bidang Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh, Nurlaila Hamjah.

Selama dua hari digelar, Pekan Tari Gunongan mampu menarik animo warga Banda Aceh untuk kembali ‘menziarahi’ situs sejarah peninggalan Sultan Iskandar Muda itu.

Pada malam terakhir, panggung Pekan Tari Gunongan kembali dihentak dengan penampilan tari zapin, tari seudata, tari kopi, hingga tari cambuk. Beberapa tari tersbeut merupakan tari kreasi hasil karya para seniman Aceh.

Baca Juga :  Bosan ke Pantai, Ini Pesona Wisata Alam Pidie Jaya Yang Tersembunyi

Bahkan penampilan mahasiswa seni ISBI Aceh yang tergabung dalam Sisir Tengah Ensamble mampu memikat penonton. Perpaduan alunan musik etnik Sisir Tengah menambah suasana perhelatan itu menemukan ‘roh’seninya.

Meskipun malam terakhir berlangsung dalam kondisi gerimis, tap tidak menurutkan langkah penonton untuk hadir ke lokasi.

Kepala Bidang Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh, Nurlaila Hamjah mengatakan, pagelaran seni sengaja diselenggarakan di Taman Sari Gunongan untuk mengajak anak muda ke lokasi itu, sekaligus mengenal sejarah situs Gunongan yang sudah berumur ratusan tahun dan kini jadi ikon Banda Aceh.

Baca Juga :  Kadisdik Aceh Upayakan Mobil Antar Jemput untuk Siswa SLB Abdya

Dalam event Pekan Tari Gunongan, pengunjung selain menikmati penampilan seni, juga bisa melihat dari dekat bangunan yang dibangun para era 1600-an.

“Khusus pagelaran seni kali ini kita laksanakan di Taman Gunongan untuk memperkenalkan nilai sejarah bangunan ini dan peristiwa peristiwa yang terjadi dahulu di tempat ini,” ujar Nurlaila.

Sementara Anggota DPRA, Tezar Azwar dalam event itu menyampaikan, Pekan Tari Gunongan mengajak warga kembali ‘menziarahi’ situs sejarah Aceh tersebut. Katanya, masyarakat Aceh harus mengenal sejarah Gunongan. Bahwa bangunan dengan arsitektur yang indah itu sudah berdiri sejak ratusan tahun lalu.

Kondisi itu membuktikan kuatnya peradaban Aceh di masa lalu. Karena, katanya, pada masa itu saat kerajaan lain belum memikirkan bangunan berarsitektur tinggi, Kesultanan Aceh sudah mendirikan bangunan megah dengan desain yang indah.

Baca Juga :  TPID Lhokseumawe Bahas Strategi Pengendalian Inflasi Jelang Lebaran

Katanya, selaku anggota DPRA ia mendukung penuh terselenggarakan kegiatan Pekan Tari Gunongan. Sehingga ia memperjuangkan hadirnya kegiatan penuh sejarah daan seni ini, yang dilaksanakan oleh Disbudpar Aceh.

Sejumlah sanggar yang akan tampil dalam Pekan Tari Gunongan, yaitu Sanggar Geunaseh dengan tari zapin, Keumala Intan dengan tari meusare-sare, Geunta Nanggroe dengan tari canang trieng, Sanggar Buana dengan tari seudati.

Lalu ada Wondelust dengan tari kreasi, lalu penampilan tari kontemporer cambuk, oblivate dance, sisir tengah ensamble musik, ADT, FADCO, hingga atraksi apin uin ang opening art. []

Share :

Baca Juga

Advetorial

Ciptaan Tuhan Yang Indah di Balik Gunung Kulu Aceh Itu Bernama Pantai Poro Cut

Advetorial

Ruang Diorama Kearsipan Aceh Menyongsong Masa Depan Melalui Sejarah

Advetorial

Disbudpar Aceh Dorong Peningkatan Profesionalitas Pendamping Desa Wisata

Advetorial

Wakil Wali Kota Lhokseumawe Secara Resmi Membuka Pembagian Kanji Rumbi gratis di halaman Masjid Agung Islamic Center 

Advetorial

DPRA Minta Aparat Ungkap Motif Dibalik Kabur Napi di Lapas Kutacane

Advetorial

Meningkatkan Kesadaran Arsip Masyarakat Aceh: DPKA Sosialisasikan Aplikasi Telusur Arsip

Advetorial

Gandeng Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK, BPKA Gelar FGD Penyusunan Naskah Raqan Pajak Aceh

Advetorial

Rekam Jejak 11 Kali Bencana Tsunami Melanda Aceh Dipamerkan di Museum Tsunami