Aceh Barat Daya – Deretan bendera putih tampak terpasang di sepanjang jalan lintas nasional yang melintasi Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Bendera-bendera tersebut terlihat di sejumlah desa dalam wilayah Kecamatan Blangpidie dan menjadi simbol kepasrahan masyarakat yang mengaku tidak lagi sanggup menghadapi dampak bencana yang melanda Provinsi Aceh dalam beberapa pekan terakhir.
Pantauan di lapangan, pemasangan bendera putih mulai terlihat sejak Minggu, 14 Desember 2025. Bendera tersebut dipasang di pinggir jalan utama, di depan rumah warga, hingga pada tiang-tiang sederhana di kawasan pemukiman penduduk.
Beberapa desa yang terlihat memasang bendera putih antara lain Desa Lamkuta, Desa Baharu, Desa Keude Paya, serta sejumlah desa lainnya di Kecamatan Blangpidie.
Keberadaan bendera putih itu tampak mencolok karena terpasang di jalur nasional yang merupakan akses utama transportasi masyarakat dan distribusi logistik.
Masyarakat menyebutkan, pemasangan bendera putih dilakukan sebagai bentuk keputusasaan pascabencana banjir dan longsor yang terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Aceh sejak beberapa pekan terakhir.
Meski Kabupaten Aceh Barat Daya tidak terdampak langsung oleh banjir dan longsor tersebut, namun dampaknya dirasakan sangat signifikan oleh masyarakat.
Warga mengaku, sejak bencana melanda sejumlah daerah lain di Aceh, kondisi di Aceh Barat Daya ikut terganggu. Aliran listrik terputus, distribusi bahan bakar minyak (BBM) menjadi langka, serta gas elpiji (LPG) sulit didapatkan di pasaran.
“Secara langsung memang tidak kena banjir atau longsor, tapi dampaknya sangat terasa. Listrik mati, BBM susah, gas elpiji langka, harga-harga juga naik,” ujar Hamidi (37) seorang warga Blangpidie, Senin (15/12/2025).
Selain kelangkaan BBM dan LPG, warga juga mengeluhkan kenaikan harga kebutuhan pokok yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Harga bahan pangan seperti beras, minyak goreng, telur, hingga kebutuhan harian lainnya disebutkan mengalami kenaikan.
Kondisi tersebut membuat beban ekonomi masyarakat semakin berat. Banyak warga yang bergantung pada aktivitas harian dan sektor informal mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga akibat meningkatnya biaya hidup, sementara pendapatan tidak bertambah.
“Bendera putih ini dipasang sebagai tanda bahwa sudah tidak mampu lagi bertahan dengan kondisi seperti ini. Ini bukan aksi politik, tapi jeritan masyarakat kecil,” kata Wisman warga lainnya.
Menurut warga, pemasangan bendera putih bukan dimaksudkan sebagai bentuk menyerah sepenuhnya, melainkan sebagai simbol agar pemerintah dapat melihat dan memahami kondisi riil masyarakat di lapangan.
Mereka berharap adanya perhatian serius dan langkah cepat dari pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi untuk menstabilkan kondisi.
Masyarakat meminta agar distribusi BBM dan LPG segera dipulihkan, pasokan listrik dipastikan stabil, serta pemerintah melakukan pengawasan terhadap harga kebutuhan pokok agar tidak terus melonjak.
Selain itu, warga berharap adanya bantuan atau kebijakan khusus untuk meringankan beban ekonomi masyarakat terdampak secara tidak langsung akibat bencana tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya terkait pemasangan bendera putih di sejumlah desa di Kecamatan Blangpidie.
Namun masyarakat berharap simbol yang mereka pasang dapat menjadi perhatian serius dan segera ditindaklanjuti.
Warga menegaskan, mereka hanya ingin kondisi kembali normal agar dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan layak.
“Kami ingin bangkit, tapi kami butuh kehadiran negara di saat kondisi sulit seperti sekarang,” pungkas Hamidi.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar










