Aceh Utara – Terik matahari menyengat halaman lokasi pelantikan. Panas terasa menyusup hingga ke kulit, namun tak sedikit pun mengusik fokus Herawati dan Maryani. Di antara deretan peserta yang berdiri rapi, dua perempuan itu menyimpan cerita panjang tentang kesabaran, pengabdian, dan penantian yang akhirnya menemukan ujungnya.
Hari ini, Kamis, 5 Februari 2026, keduanya resmi dilantik sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu formasi 2025. Sebuah status yang bagi sebagian orang mungkin terdengar administratif, tetapi bagi Herawati dan Maryani adalah pengakuan atas tahun-tahun pengabdian yang dijalani dalam senyap.
Herawati bukan nama baru di Puskesmas Muara Batu. Sejak 2012, ia telah menjadi bagian dari denyut pelayanan kesehatan di fasilitas itu. Lebih dari satu dekade, ia menjalani peran sebagai tenaga honorer—datang lebih awal, pulang paling akhir, melayani pasien tanpa membedakan status, sembari menyimpan satu harapan sederhana: kepastian.
Maryani memulai langkahnya sebagai honorer pada 2024. Tahun-tahun pengabdian itu ia jalani dengan ketekunan yang sama. Meski belum lama dibanding Herawati, Maryani merasakan langsung bagaimana rapuhnya posisi tenaga honorer. Namun, pilihan untuk bertahan selalu ia sandarkan pada keyakinan bahwa kerja yang jujur akan menemukan jalannya.
Pelantikan siang itu menjadi titik balik. Status yang selama ini hanya bertuliskan “honorer” akhirnya berganti. Bukan sekadar perubahan nomenklatur, melainkan simbol kehadiran negara yang mengakui jerih payah para pelayan publik di lini terdepan.
Di bawah terik matahari, senyum Herawati dan Maryani mengembang. Ada kelegaan yang tak perlu banyak kata. Perjalanan panjang mereka belum usai, tetapi hari itu menjadi penanda bahwa kesetiaan dan kesabaran, meski berjalan perlahan, tetap menemukan waktunya sendiri.***
Editor: Amiruddin. MKReporter: Syaiful Anshori











