Banda Aceh – Lonjakan harga cabai dalam beberapa pekan terakhir mulai menekan daya beli masyarakat di Banda Aceh. Sejumlah konsumen terpaksa mengurangi jumlah pembelian setelah harga cabai merah dan cabai rawit mengalami kenaikan signifikan di pasar tradisional.
Data pemantauan harga kebutuhan pokok yang dirilis Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (Diskopukmdag) Kota Banda Aceh menunjukkan kenaikan terjadi pada hampir seluruh jenis cabai. Harga cabai merah keriting naik 22,86 persen dari Rp35 ribu menjadi Rp43 ribu per kilogram dalam sepekan terakhir.
Kenaikan lebih tinggi terjadi pada cabai rawit. Harga cabai rawit hijau melonjak 50 persen dari Rp30 ribu menjadi Rp45 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit merah juga mengalami kenaikan serupa, dari Rp30 ribu menjadi Rp45 ribu per kilogram.

Kepala Diskopukmdag Kota Banda Aceh, Bukhari, mengatakan lonjakan harga terjadi karena meningkatnya kebutuhan pasar yang tidak diimbangi ketersediaan pasokan dalam jumlah cukup. Kondisi tersebut membuat harga komoditas hortikultura mudah berfluktuasi.
“Banda Aceh masih bergantung pada pasokan dari luar daerah. Ketika kebutuhan meningkat sementara pasokan terbatas, harga otomatis naik,” kata Bukhari, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, pasokan cabai yang sebagian besar berasal dari Aceh Tengah dan Sumatera Utara membuat harga di Banda Aceh sangat sensitif terhadap gangguan distribusi. Biaya transportasi dan keterlambatan pengiriman juga turut memengaruhi harga jual di tingkat pedagang.
Dampak kenaikan harga mulai terasa di pasar. Pedagang cabai di Pasar Al Mahira, Fajri, mengatakan banyak pembeli kini membeli cabai dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan biasanya untuk menyesuaikan pengeluaran rumah tangga.
“Harga cabai merah sekarang sudah Rp50 ribu per kilogram. Biasanya Rp35 ribu per kilogram. Pembeli ada yang mengurangi belanja karena harga sudah tinggi,” ujarnya.
Fajri menjelaskan kenaikan harga telah berlangsung sekitar dua minggu terakhir. Ia memastikan kondisi tersebut bukan dipicu tradisi meugang, melainkan berkurangnya pasokan dari distributor yang masuk ke Banda Aceh.
Meski aktivitas perdagangan di pasar masih ramai menjelang meugang, tingginya harga cabai menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat. Komoditas yang menjadi kebutuhan utama dapur tersebut kini menyerap anggaran belanja rumah tangga lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Diskopukmdag memperkirakan harga cabai masih berpotensi berfluktuasi mengikuti perkembangan pasokan dan distribusi barang. Pemerintah terus memantau kondisi pasar guna memastikan ketersediaan kebutuhan pokok tetap terjaga dan lonjakan harga tidak semakin membebani masyarakat. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK












