Banda Aceh – Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh terus memperkuat upaya penanganan HIV/AIDS, tuberkulosis (TBC), dan malaria melalui kolaborasi lintas sektor. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pengendalian penyakit menular sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, mengatakan pengendalian HIV/AIDS, TBC, dan malaria tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak mulai dari fasilitas kesehatan, lembaga pendidikan, hingga organisasi masyarakat.

“Kolaborasi menjadi kunci dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Karena itu, kami terus memperkuat kerja sama dengan rumah sakit, puskesmas, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dan organisasi masyarakat,” kata Wahyudi, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, untuk penanganan HIV/AIDS, Dinas Kesehatan saat ini terus mengembangkan berbagai inovasi program, seperti perluasan layanan skrining HIV, penguatan edukasi kepada generasi muda dan kelompok rentan, serta peningkatan layanan berbasis komunitas guna mendukung deteksi dini dan keberlanjutan pengobatan pasien.
Selain itu, kerja sama dengan rumah sakit dan puskesmas juga diperkuat untuk memastikan layanan tes dan pengobatan HIV/AIDS dapat diakses masyarakat secara optimal.
Tak hanya fokus pada HIV/AIDS, Dinkes Banda Aceh juga terus menggenjot upaya pengendalian TBC dan mempertahankan status Banda Aceh sebagai daerah bebas malaria.
Wahyudi mengatakan berbagai program edukasi, sosialisasi, skrining, dan pendampingan masyarakat terus dilakukan sebagai bagian dari strategi menekan angka penularan penyakit menular di ibu kota Provinsi Aceh tersebut.
Melalui penguatan koordinasi lintas sektor, pemerintah berharap berbagai target kesehatan masyarakat dapat tercapai secara lebih efektif.
“Waktu ini yang kita dorong adalah sinergi seluruh pihak. Dengan persiapan yang matang dan kolaborasi yang kuat, target pengendalian TBC, HIV/AIDS, malaria, serta peningkatan cakupan kesehatan masyarakat dapat dicapai secara berkelanjutan,” ujar Wahyudi.
Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan program kesehatan, terutama dalam meningkatkan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sejak dini serta menghilangkan stigma terhadap penderita penyakit menular.
Dinas Kesehatan berharap penguatan kolaborasi yang terus dilakukan dapat mempercepat deteksi kasus, memperluas jangkauan layanan kesehatan, serta menekan angka penularan HIV/AIDS dan TBC, sekaligus mempertahankan Banda Aceh sebagai wilayah bebas malaria. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK















