Aceh Barat Daya – Pemerintah Provinsi Aceh menetapkan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) sebagai tuan rumah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Provinsi Aceh ke-38 tahun 2027.
Berbagai kalangan sambut antusias ajang dua tahunan ini. Acara ini akan menarik ribuan kafilah dari seluruh kabupaten dan kota di Aceh, beserta official, dewan hakim, dan tamu undangan dari berbagai daerah.
Semua pihak percaya perhelatan ini akan berikan dampak signifikan bagi sektor ekonomi, perhotelan, UMKM, dan infrastruktur daerah
Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Abdya belum menunjukkan upaya persiapan yang jelas. Pihaknya belum lakukan sosialisasi resmi kepada masyarakat, belum bentuk panitia besar, dan belum publikasikan rencana pembangunan atau renovasi sarana pendukung MTQ.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat. Dengan waktu pelaksanaan tinggal sekitar satu tahun lagi, banyak pihak menilai persiapan harus mulai digerakkan sejak dini, terutama untuk pembenahan infrastruktur, penataan lokasi utama, dan kesiapan akomodasi.
Tokoh masyarakat Abdya, M. Yusuf, Minggu (1/3/2026) menyebutkan, penetapan sebagai tuan rumah merupakan kehormatan besar yang harus diimbangi kerja nyata.
“Ini momentum langka. Tidak semua daerah dapat kesempatan menjadi tuan rumah MTQ tingkat provinsi. Kami harap Pemkab segera tunjukkan langkah konkret, minimal dengan membentuk panitia persiapan dan lakukan sosialisasi kepada masyarakat,” katanya.
Menurutnya, perencanaan matang sejak awal akan tentukan keberhasilan penyelenggaraan. MTQ tidak hanya seremonial pembukaan dan penutupan, melainkan melibatkan banyak cabang lomba yang butuh lokasi representatif dan fasilitas pendukung memadai
Daerah Abdya masih memiliki keterbatasan hotel dan penginapan skala besar untuk menampung ribuan peserta dan tamu.
Sisi ekonomi menjadi harapan bagi pelaku UMKM di Abdya. Mereka sambut baik penetapan tersebut dan harap MTQ 2027 bisa jadi ajang promosi produk lokal mulai dari kuliner khas hingga kerajinan tangan.
“Kalau kelola dengan baik, ini bisa jadi peluang emas bagi pelaku usaha kecil. Tapi tentu perlu arahan dan pembinaan dari pemerintah sejak sekarang,” ujar Yuli, salah satu pelaku UMKM di Blangpidie.
Berbagai kalangan menilai bahwa persiapan MTQ tidak hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan butuh kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, pemuda, dan organisasi kemasyarakatan.
Namun demikian, inisiatif dan koordinasi harus mulai dari pemerintah daerah sebagai leading sector.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak terkait belum berikan keterangan resmi tentang roadmap persiapan MTQ Aceh ke-38 tahun 2027. Tim media terus lakukan upaya konfirmasi kepada pihak terkait.
Selain ajang kompetisi membaca dan memahami Al-Qur’an, kegiatan ini juga jadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah antar daerah.
Bagi Abdya, kesempatan menjadi tuan rumah bukan hanya kehormatan, melainkan juga ujian kapasitas dalam menyelenggarakan event berskala besar.
Waktu satu tahun mungkin terlihat panjang, namun tanpa perencanaan terstruktur dan kerja terukur, rentang waktu tersebut bisa terasa singkat.
Jika persiapan berjalan matang, MTQ Aceh ke-38 tahun 2027 bisa jadi panggung kebangkitan Abdya di tingkat provinsi dari sisi religiusitas, infrastruktur, dan geliat ekonomi.
Sebaliknya, tanpa kesiapan sejak dini, momentum bersejarah ini berpotensi kehilangan maknanya.
Semua pihak pantau langkah Pemkab Abdya. Akankah “Bumi Breuh Sigupai” catat sejarah gemilang, atau terlambat melakukan perbaikan. Waktu akan memberikan jawaban.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar










