Banda Aceh – Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh mendorong penguatan kembali fungsi masjid sebagai pusat pembinaan umat, khususnya bagi generasi muda. Masjid tidak hanya dipandang sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang pendidikan, pengembangan karakter, dan wadah aktivitas positif bagi remaja.
Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Tgk. H. Misran Fuadi, S.Ag., M.AP., mengatakan upaya mengajak generasi muda mencintai masjid sebenarnya telah lama dilakukan. Namun, tingkat keterlibatan remaja di masjid masih beragam, ada daerah yang sudah bergerak masif, tetapi ada pula yang perlu didorong lebih kuat.
Menurutnya, sejumlah daerah di Aceh mulai menunjukkan perkembangan positif dengan hadirnya gerakan anak muda yang menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas mereka.
“Pembinaan remaja untuk mencintai masjid ini sudah lama dilakukan. Hanya saja ada yang masif, ada yang kurang masif, bahkan ada yang kurang peduli,” ujar Misran, Jumat (21/8/2026).
Ia mencontohkan, di Kota Banda Aceh gerakan salat Subuh berjamaah yang digerakkan oleh kalangan muda telah berkembang dan menjadi fenomena positif. Hal serupa juga terlihat di Kota Lhokseumawe melalui Gerakan Pemuda Subuh (GPS) yang menghubungkan aktivitas anak muda dengan kegiatan di masjid.
“Di Banda Aceh ini masif dengan gerakan salat Subuh oleh kaum muda. Ini bagus sekali. Di Lhokseumawe juga ada GPS, Gerakan Pemuda Subuh. Semuanya dikaitkan dengan masjid,” katanya.

Masjid Perlu Beri Ruang bagi Anak Muda
Misran menilai salah satu kunci agar generasi muda dekat dengan masjid adalah keterlibatan mereka secara langsung dalam aktivitas masjid.
Ia mengimbau pengurus masjid agar tidak menutup ruang bagi pemuda untuk ikut berperan, baik dalam kegiatan keagamaan maupun pengelolaan aktivitas masjid.
Menurutnya, anak muda perlu diberikan kesempatan untuk belajar dan berkembang melalui peran nyata, seperti menjadi imam, muazin, maupun terlibat dalam kegiatan sosial keagamaan.
“Pihak masjid juga kita imbau memberikan ruang sedikit untuk para pemuda. Karena dari situlah mereka bisa mencintai masjid,” ujarnya.
Ia mengatakan, apabila ada pemuda yang memiliki kemampuan menjadi imam atau muazin, pengurus masjid seharusnya memberikan kesempatan agar mereka merasa memiliki hubungan dan tanggung jawab terhadap masjid.
“Jangan sampai pengurus masjid enggan melibatkan anak muda. Berikan mereka kesempatan, karena masa edukasi ini harus melibatkan anak muda agar mereka tidak menjauh,” kata Misran.
Selain memberikan ruang partisipasi, Misran mengatakan masjid juga perlu berkembang mengikuti kebutuhan generasi saat ini.

Menurutnya, masjid modern tidak hanya mengandalkan fungsi utama sebagai tempat ibadah, tetapi juga dapat menyediakan fasilitas dan aktivitas yang menarik bagi anak muda selama tetap berada dalam koridor nilai Islam.
“Masjid modern saat ini menyediakan fasilitas-fasilitas yang digemari anak muda, tentunya yang tidak menyimpang,” jelasnya.
Ia menyebut keberadaan organisasi remaja masjid menjadi salah satu contoh wadah yang efektif untuk menarik generasi muda agar lebih dekat dengan masjid. Menurutnya, pembentukan organisasi remaja masjid sejak dahulu memang memiliki tujuan agar anak muda yang sebelumnya jarang datang ke masjid memiliki ruang untuk terlibat dan beraktivitas.
“Yang paling hidup saat ini adalah organisasi khusus remaja masjid. Memang dulu organisasi ini dibentuk agar menarik anak muda yang cenderung jarang ke masjid,” katanya.
DSI Aceh, kata Misran, terus mendorong kerja sama dengan berbagai kelompok pemuda, remaja masjid, dan komunitas keagamaan di daerah. Menurutnya, gerakan seperti komunitas pemuda masjid dan gerakan Subuh dapat menjadi pengaruh positif atau influencer bagi generasi muda lainnya.
“Kita sudah melalui daerah-daerah, melalui masjid-masjid, sekarang ada kerja sama dengan remaja masjid, pemuda, gerakan-gerakan Subuh seperti di Banda Aceh, Lhokseumawe, Sigli, dan sebagainya,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan komunitas tersebut memiliki peran penting dalam menciptakan tren positif di kalangan anak muda, terutama dalam membangun kebiasaan beribadah dan aktivitas sosial berbasis masjid.
Menurutnya, ketika anak muda melihat teman sebaya aktif di masjid, hal tersebut dapat menjadi dorongan bagi generasi lainnya untuk ikut terlibat.
Ke depan, DSI Aceh berkomitmen meningkatkan berbagai program yang berkaitan dengan penguatan syiar Islam, termasuk melalui masjid sebagai pusat pembinaan masyarakat. Misran mengatakan, penguatan fungsi masjid tidak hanya berbicara tentang peningkatan aktivitas ibadah, tetapi juga bagaimana masjid mampu menjadi tempat tumbuhnya generasi muda yang memiliki karakter dan kepedulian sosial.
Ia berharap semakin banyak masjid di Aceh yang mampu menjadi ruang terbuka bagi anak muda untuk belajar, berkarya, dan memperkuat pemahaman agama.
Dengan keterlibatan generasi muda, masjid diharapkan tidak hanya menjadi tempat yang ramai saat waktu salat, tetapi juga menjadi pusat pembentukan karakter dan peradaban masyarakat Aceh. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK

























