Banda Aceh – Seorang pria berinisial Andi (nama samaran) mengaku kehilangan uang hingga Rp 2 juta setelah bertemu dengan sejumlah perempuan yang dikenalnya melalui sebuah aplikasi kencan, Sabtu (24/10/2026).
Pertemuan yang semula diharapkan berujung pada transaksi jasa kencan itu justru berakhir dengan dugaan penipuan di kawasan Makam Pahlawan, Peniti, Banda Aceh.
Andi mengatakan dirinya dan seorang teman menjadi korban dalam peristiwa yang terjadi pada malam hari tersebut. Ia menduga para perempuan itu menjalankan modus serupa terhadap sejumlah pria lain di wilayah Banda Aceh.
Menurut Andi, perkenalan bermula melalui sebuah aplikasi yang ia sebut sebagai “APK ijo”. Setelah berkomunikasi, mereka sepakat bertemu di sebuah warung kopi di sekitar Makam Pahlawan, Peniti, Banda Aceh.
Saat pertemuan berlangsung, para perempuan tersebut menawarkan jasa dengan tarif Rp 900 ribu per orang untuk satu malam. Andi mengaku bersedia mengeluarkan uang dengan alasan pembayaran itu digunakan untuk memesan kamar indekos.
Namun, situasi kemudian berubah. Alih-alih dibawa ke tempat yang dijanjikan, Andi dan temannya justru diarahkan menuju lokasi lain. Ia menyebut ada sekitar enam perempuan yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
“Kereta kami ditinggalkan di sebuah warung bakso di daerah Makam Pahlawan, Peniti, Aceh. Kami dibonceng, kemudian hampir 100 meter dari situ mereka bilang, ‘Jalan aja, Bang’,” kata Andi menirukan ucapan perempuan yang menemuinya.
Setelah berjalan kaki, Andi mulai menyadari bahwa dirinya dan temannya diduga telah menjadi korban penipuan. Keduanya kemudian bergegas kembali untuk mengambil sepeda motor yang ditinggalkan di warung bakso tersebut.
“Kami berjalan kembali dengan jarak sekitar 200 meter untuk mengambil motor, tetapi para perempuan tadi sudah tidak terlihat,” ujarnya.
Andi mengaku mengalami situasi yang membuatnya merasa kehilangan kendali atas tindakannya. Ia bahkan menduga dirinya seperti berada di bawah pengaruh hipnotis hingga menyerahkan uang yang diminta.
Meski demikian, dugaan penggunaan hipnotis tersebut belum dapat dipastikan. Belum ada keterangan atau hasil pemeriksaan yang membuktikan bahwa para perempuan itu menggunakan metode tersebut untuk memengaruhi korban.
Sehari setelah kejadian, Andi mengaku menceritakan pengalamannya kepada seorang teman. Dari percakapan itu, ia mendapat informasi bahwa perempuan yang dimaksud diduga pernah melakukan tindakan serupa terhadap orang lain.
Andi berharap aparat penegak hukum menyelidiki dugaan penipuan tersebut dan menindak pihak-pihak yang terbukti terlibat.
Ia juga meminta masyarakat lebih berhati-hati ketika berkenalan dengan orang asing melalui aplikasi, terlebih jika pertemuan melibatkan permintaan uang atau ajakan menuju lokasi yang tidak dikenal.
“Saya berharap setelah kejadian ini ramai diberitakan, para pelaku bisa ditangkap agar tidak ada lagi korban berikutnya,” kata Andi.
Editor: Redaksi















