Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan tidak boleh berhenti pada peningkatan kapasitas semata, tetapi harus mampu melahirkan perempuan-perempuan yang berperan sebagai pemimpin dan penggerak pembangunan di berbagai sektor.
Menurut Illiza, Pemerintah Kota Banda Aceh terus berupaya membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dalam pemerintahan, pembangunan gampong, hingga program-program strategis yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Saat ini, keterlibatan perempuan di Banda Aceh terus menunjukkan peningkatan. Tercatat satu gampong dipimpin oleh keuchik perempuan, 90 perempuan menjadi anggota Tuha Peut Gampong, serta 130 perempuan menduduki jabatan struktural di lingkungan Pemerintah Kota Banda Aceh.
“Ini adalah bukti bahwa Banda Aceh terus membuka ruang bagi perempuan untuk berkontribusi. Tapi perjuangan kita belum selesai. Kita ingin perempuan bukan hanya hadir dalam angka, tapi juga kuat dalam pengaruh,” kata Illiza dalam sebuah discus lokakarya beberapa waktu lalu.

Ia menilai meningkatnya keterwakilan perempuan dalam berbagai posisi strategis menjadi indikator bahwa program pemberdayaan perempuan mulai memberikan hasil nyata. Perempuan kini tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Lebih lanjut, Illiza mencontohkan keberhasilan program Women’s Centered Plastic (WCP) sebagai salah satu bukti nyata pemberdayaan perempuan yang berdampak langsung terhadap masyarakat. Program pengelolaan sampah berbasis perempuan tersebut saat ini dijalankan melalui 28 depot yang dikelola oleh 210 perempuan dan telah menjangkau lebih dari 60 persen wilayah Kota Banda Aceh.
Program itu bahkan berhasil mengantarkan Banda Aceh meraih penghargaan internasional Grand Prize CityNet SDG Awards 2025 atas keberhasilan kepemimpinan perempuan dalam bidang lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.
Selain WCP, Pemko Banda Aceh juga terus memperkuat berbagai program yang berorientasi pada pengembangan kapasitas perempuan, seperti Musrena (Musyawarah Rencana Aksi Perempuan), Balee Inong, Banda Aceh Academy, serta Gampong Ramah Anak dan Perempuan.
Illiza mengatakan berbagai program tersebut dirancang untuk menciptakan ekosistem pemberdayaan yang memungkinkan perempuan berkembang, menyampaikan aspirasi, hingga mengambil peran penting dalam pembangunan daerah.
“Semua program ini menjadi ekosistem kepemimpinan perempuan di kota kami,” ujarnya.
Ia menambahkan, semangat pemberdayaan perempuan yang terus dibangun di Banda Aceh juga sejalan dengan sejarah Aceh yang telah melahirkan banyak tokoh perempuan berpengaruh, seperti Sultanah Safiatuddin, Laksamana Keumalahayati, Cut Nyak Dhien, dan Cut Meutia.
Karena itu, Pemko Banda Aceh berkomitmen untuk terus memperkuat program pemberdayaan perempuan agar semakin banyak perempuan yang mampu berkontribusi, memimpin, dan menjadi bagian penting dalam pembangunan kota. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK















