Oleh Amiruddin Anggota PWI Pidie
Di tengah hamparan sawah yang menghijau, ketika tanaman padi mulai tumbuh dan harapan akan datangnya musim panen mulai disemai, masyarakat Aceh memiliki sebuah tradisi yang sarat makna: Khenduri Blang.
Bagi masyarakat Aceh, Khenduri Blang bukan sekadar kenduri biasa. Ia merupakan perpaduan antara adat, budaya, doa, dan kebersamaan masyarakat petani yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi itu masih hidup dan terpelihara di Kemukiman Kalee, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie. Setiap tahun, ketika tanaman padi mulai tumbuh, para petani bersama masyarakat melaksanakan Khenduri Blang sebagai bentuk syukur sekaligus doa agar tanaman yang mereka tanam mendapat keberkahan dari Allah SWT hingga tiba masa panen.
Di Kemukiman Kalee, pelaksanaan Khenduri Blang bukan dalam skala kecil. Untuk sebuah kenduri, masyarakat bahkan dapat menyembelih tiga hingga enam ekor kerbau. Jumlah tersebut menggambarkan betapa kuatnya ikatan masyarakat terhadap tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan petani.
Penyembelihan kerbau menjadi bagian penting dalam rangkaian kenduri. Daging kemudian dibagikan kepada para petani dan masyarakat. Masing-masing membawa bagian yang diperoleh untuk dimasak, sebelum akhirnya makanan tersebut disantap bersama.
Namun, yang paling penting bukanlah banyaknya daging atau besarnya kenduri.
Di balik hidangan yang tersaji, tersimpan harapan yang jauh lebih besar. Sebelum makanan disantap, masyarakat terlebih dahulu berkumpul untuk berdoa. Mereka memohon kepada Allah SWT agar tanaman padi yang sedang tumbuh diberikan kesuburan, dijauhkan dari hama dan bencana, serta kelak menghasilkan panen yang melimpah.
Khenduri Blang pun menjadi ruang pertemuan antara manusia, alam dan Sang Pencipta. Bagi petani, sawah bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di sanalah sebagian besar kehidupan mereka bergantung. Setiap bulir padi yang tumbuh membawa harapan bagi keluarga. Karena itu, ketika tanaman mulai menghijau, doa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan menuju panen.
Tradisi ini juga memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat Kalee. Tidak ada sekat antara satu petani dengan petani lainnya. Mereka berkumpul, berbagi makanan, berbagi cerita dan mempererat hubungan sosial.
Di tengah perubahan zaman, ketika berbagai tradisi lokal perlahan mulai ditinggalkan, Khenduri Blang di Kemukiman Kalee justru masih bertahan. Ia menjadi semacam penanda bahwa modernisasi tidak selalu harus menghapus akar budaya masyarakat.
Generasi muda pun memiliki peran penting untuk menjaga tradisi tersebut. Sebab Khenduri Blang bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga identitas masyarakat agraris Aceh yang masih relevan hingga hari ini.
Ada nilai syukur di dalamnya. Ada doa. Ada kebersamaan. Ada kepedulian terhadap sesama. Dan yang tidak kalah penting, ada penghormatan terhadap alam yang menjadi sumber kehidupan. Bagi masyarakat Kalee, sawah yang menghijau bukan hanya pemandangan biasa. Ia adalah simbol harapan.
Di antara batang-batang padi yang mulai meninggi, masyarakat menitipkan doa agar kerja keras selama berbulan-bulan tidak sia-sia. Semoga hujan turun pada waktunya, hama tidak menyerang, tanaman tumbuh subur dan ketika musim panen tiba, bulir-bulir padi menguning membawa kegembiraan bagi seluruh keluarga petani, itulah Khenduri Blang.
Sebuah tradisi yang mungkin terlihat sederhana dari luar, tetapi menyimpan makna yang dalam. Dari seekor kerbau yang disembelih, dari sepiring nasi yang disantap bersama, hingga doa yang dipanjatkan di tengah masyarakat, semuanya bermuara pada satu harapan: keberkahan atas tanah, tanaman, rezeki dan kehidupan.
Dan selama masyarakat Kalee masih turun ke sawah, selama padi masih ditanam dan doa masih dipanjatkan, Khenduri Blang akan tetap menjadi bagian dari denyut kehidupan mereka menjaga adat, merawat budaya, sekaligus menyatukan manusia dalam rasa syukur kepada Allah SWT.
Editor: Amiruddin. MKReporter: Amir Sagita

























