Home / Aceh Barat Daya / Opini

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:29 WIB

Lebih dari Sekadar Paket Sembako dan Santunan: Saatnya Kesejahteraan Sosial Berorientasi pada Kemandirian

mm Teuku Nizar

Sri Handayani, S.Psi., M.M., CH., CHt.

Sri Handayani, S.Psi., M.M., CH., CHt.

Oleh: Sri Handayani, S.Psi., M.M., CH., CHt.

Penyuluh Sosial Dinas Sosial Kabupaten Aceh Barat Daya

Ketika masyarakat mendengar istilah kesejahteraan sosial atau Dinas Sosial, gambaran yang sering muncul ialah paket sembako, bantuan tunai, atau santunan bagi warga kurang mampu.

Pandangan tersebut wajar karena bantuan sosial memang menjadi salah satu instrumen penting dalam melindungi kelompok rentan. Namun, apabila kesejahteraan sosial hanya dipahami sebatas pembagian bantuan, kita sedang melihat persoalan dari sudut yang terlalu sempit.

Bantuan sosial memiliki fungsi penting sebagai jaring pengaman bagi masyarakat yang menghadapi situasi darurat. Kehadirannya mampu mencegah keluarga miskin terpuruk lebih dalam ketika menghadapi krisis ekonomi, bencana, atau kondisi sosial tertentu. Akan tetapi, kesejahteraan sosial tidak boleh berhenti pada aktivitas membagikan bantuan. Tujuan yang lebih besar ialah mendorong masyarakat agar mampu bangkit, mandiri, dan kembali menjalankan fungsi sosialnya secara optimal.

Sebagai Penyuluh Sosial yang mendampingi Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) di tengah masyarakat, saya melihat bahwa peningkatan kesejahteraan yang sesungguhnya memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh. Masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan materi, tetapi juga penguatan mental, peningkatan keterampilan, serta dukungan lingkungan yang sehat dan inklusif.

Baca Juga :  Peringati Hari Sumpah Pemuda, Pj Bupati Sampaikan Hal Ini 

Memulihkan Fungsi Sosial, Bukan Sekadar Memenuhi Kebutuhan Sesaat

Hakikat pekerjaan sosial terletak pada upaya mengembalikan keberfungsian sosial setiap individu. Seorang penyandang disabilitas, lansia, anak terlantar, maupun kepala keluarga miskin perlu memperoleh kesempatan agar mampu menjalankan perannya secara wajar di tengah masyarakat.

Paket bantuan memang dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, bantuan tersebut tidak mampu menghapus trauma psikologis seorang anak yatim, tidak dapat meningkatkan keterampilan pemuda putus sekolah, dan tidak otomatis membuka akses yang ramah bagi penyandang disabilitas.

Karena itu, penyuluhan sosial hadir melalui pendampingan, konseling, edukasi, serta penguatan motivasi. Pendekatan tersebut mendorong masyarakat agar memiliki kepercayaan diri dan keberanian untuk memperbaiki kehidupannya. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama perubahan.

Menghindari Mentalitas Ketergantungan

Tantangan yang cukup berat di lapangan muncul ketika sebagian masyarakat mulai memandang bantuan sosial sebagai tujuan, bukan sebagai sarana. Kondisi ini dapat melahirkan mentalitas ketergantungan. Bahkan, tidak sedikit orang yang berlomba-lomba mempertahankan status miskin demi memperoleh bantuan.

Fenomena tersebut tentu tidak sejalan dengan cita-cita kesejahteraan sosial. Keberhasilan program sosial justru terlihat ketika jumlah penerima bantuan terus berkurang karena semakin banyak keluarga yang berhasil mandiri dan keluar dari lingkaran kemiskinan.

Baca Juga :  Dapur MBG Yayasan Alfatih Gelar Family Gathering

Upaya itu memerlukan program pemberdayaan yang berkelanjutan. Pelatihan kerja yang sesuai dengan potensi daerah, pengembangan Kelompok Usaha Bersama (KUBE), serta pendampingan usaha secara konsisten akan menghasilkan dampak yang lebih besar. Bantuan modal memang penting, tetapi kemampuan dan kapasitas sumber daya manusia tetap menjadi faktor penentu keberhasilan.

Membangun Sistem Pendukung yang Kuat

Kesejahteraan sosial tidak hanya bergantung pada kondisi ekonomi seseorang. Lingkungan yang mendukung juga memiliki peran yang sangat besar. Keluarga, masyarakat, pemerintah desa, lembaga adat, dunia pendidikan, hingga sektor swasta perlu bergerak dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

Karena itu, penyuluhan sosial tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada penguatan kapasitas lingkungan. Desa perlu menghadirkan pelayanan yang ramah bagi penyandang disabilitas. Lembaga adat dapat mengambil peran dalam melindungi anak yatim dan kelompok rentan lainnya. Berbagai instansi harus membuka akses pelayanan yang mudah, cepat, dan inklusif.

Sinergi tersebut akan menciptakan sistem pendukung sosial yang kokoh. Masyarakat rentan pun memperoleh perlindungan secara berkelanjutan tanpa selalu menunggu bantuan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Baca Juga :  Zulkarnain Tegaskan: “Tidak Ada Warna PKB di Tubuh KONI”

Mengubah Paradigma Kesejahteraan Sosial

Sudah saatnya kita menggeser cara pandang terhadap kesejahteraan sosial. Program sosial bukan sekadar agenda membagikan bantuan, melainkan investasi untuk meningkatkan kualitas manusia. Bantuan sosial harus menjadi pintu masuk menuju pemberdayaan, bukan tujuan akhir yang memupuk ketergantungan.

Memberikan bantuan tanpa pemberdayaan ibarat memberi obat pereda nyeri kepada pasien yang membutuhkan operasi. Rasa sakit memang berkurang untuk sementara, tetapi sumber masalah tetap ada. Sebaliknya, pemberdayaan menghadirkan kesempatan bagi masyarakat untuk bangkit dan membangun masa depan yang lebih baik.

Pada akhirnya, kesejahteraan sosial harus menempatkan manusia sebagai subjek yang memiliki martabat, potensi, dan kemampuan untuk berkembang. Pemerintah, penyuluh sosial, dunia usaha, lembaga masyarakat, serta seluruh elemen bangsa perlu bergandengan tangan untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan sosial bukan terletak pada banyaknya bantuan yang tersalurkan, melainkan pada semakin banyaknya warga yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Kita tidak boleh hanya sibuk membagikan ikan. Kita harus mengajarkan cara memancing, menyediakan alatnya, serta memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh hasil dari usahanya sendiri.

Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar

Share :

Baca Juga

Aceh Barat Daya

Relawan Salman Alfarisi Sebut Agus Surya Penyebar Fitnah 

Aceh Barat Daya

Pimpinan DPRA dan Diskop Aceh Gelar Bimtek Menjahit dan Kuliner Di Abdya

Aceh Barat Daya

Berbagai Atraksi Warnai Upacara HUT TNI di Abdya

Aceh Barat Daya

Masyarakat Alue Pisang Santuni 35 Anak Yatim-Piatu

Aceh Barat Daya

Singgung Pengutipan, DPMP Desak Bersih-bersih Komite Sekolah

Aceh Barat Daya

Ibu Rumah Tangga di Abdya Diamankan Polisi, Ini Kasusnya

Aceh Barat Daya

Aktivis KPMA Minta Pj Bupati Untuk Terus Ikhlas Membangun Abdya

Aceh Barat Daya

Tes Uji Mampu Baca Al-Qur’an, Sayuti: yang dinilai tajwid dan adab