Aceh Jaya – Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Aceh Jaya, Muslim HS, menyatakan dukungannya terhadap wacana penggeseran waktu pelaksanaan Pekan Olahraga Aceh (PORA) XV yang semula dijadwalkan berlangsung pada akhir tahun 2026 di Kabupaten Aceh Jaya.
Pernyataan tersebut disampaikan Muslim HS saat ditemui awak media NOA.co.id, di kantor Koni Aceh Jaya, Desa Dayah Baro Kota Calang, Kecamatan Krueng Sabee, Jumat (6/2/2026).
Ia menilai, wacana penggeseran pelaksanaan PORA ke musim kering pada tahun berikutnya dapat dipahami, mengingat kondisi cuaca ekstrem yang belakangan ini melanda Aceh.
“Pada prinsipnya kami mendukung wacana tersebut, sebagaimana yang disampaikan Ketua KONI Aceh. Curah hujan yang tinggi pada akhir tahun serta kondisi cuaca ekstrem berdasarkan data BMKG tentu menjadi pertimbangan utama,” ujar Muslim.
Selain faktor cuaca, Muslim juga Menyoroti Daerah yang terdampak banjir dan Tanah Lonsor bencana alam yang masih transisi sejumlah rekan – rekan kita kabupaten/kota di Aceh. Menurutnya, kondisi tersebut mempengaruhi kesiapan daerah dalam mempersiapkan atlet untuk mengikuti PORA.
“Beberapa daerah masih fokus pada pemulihan pascabencana, bahkan ada yang masyarakatnya masih berada di tenda pengungsian. Dalam kondisi seperti ini, tentu sulit bagi daerah untuk memaksimalkan persiapan atlet,” dan Kontingen yg Maksimal jelasnya.
Meski mendukung wacana penggeseran, Muslim menegaskan bahwa keputusan terkait pelaksanaan PORA sepenuhnya berada di tangan Pemerintah Aceh, Dispora Aceh dan KONI Aceh.Pora ini Kan Pekan Olahraga Aceh, Even Olahraga terbesar yg dilaksanakan 4 tahunan sekali, Ia meminta agar keputusan tersebut segera diambil guna memberikan kepastian kepada Tuan Rumah Penyelenggaraan dan seluruh kabupaten/kota.
“Keputusan harus segera ditetapkan, apakah PORA tetap digelar pada akhir 2026 atau digeser. Kepastian ini penting agar kabupaten/kota dapat mempersiapkan kebutuhan kontingen masing-masing secara terencana dan maksimal,” tegasnya.
Terkait kesiapan infrastruktur, Muslim menekankan bahwa penggeseran jadwal PORA tidak boleh berdampak pada terhentinya pembangunan venue olahraga yang telah direncanakan dan dianggarkan pada tahun 2026. Ia meminta Pemerintah Aceh tetap berkomitmen melanjutkan pembangunan infrastruktur dan Peralatan Tanding,Peralatan pendukung Cabang Olahraga sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan.
“Jangan sampai karena penyelenggaraan ditunda, pembangunan venue juga ikut tertunda. Anggaran yang sudah dialokasikan harus tetap direalisasikan agar pembangunan tidak terbengkalai,” ujar Muslim.
Ia menyebutkan, sebagian besar venue yang dibangun pada tahun 2025 telah selesai. Sementara pembangunan stadion utama saat ini telah mencapai kira² sekitar 55 persen dan akan dilanjutkan melalui anggaran APBA tahun 2026
“Target kami, seluruh venue yang direncanakan pada 2026 tetap diselesaikan pada tahun ini. Sehingga jika PORA digelar pada 2027, Kabupaten Aceh Jaya Selaku tuan rumah Panitia Besar ( PB PORA ) hanya fokus penbetukan Panitia dan perangkat penyelenggaraan,” katanya.
Dari sisi pembinaan atlet, Muslim memastikan KONI Aceh Jaya Bersama Seluruh Cabor siap menurunkan kontingen Sesuai dengan target Daerah Namun ia mengingatkan, apabila PORA tetap digelar pada akhir 2026, maka proses tender dan pembangunan venue yang direncanakan pada tahun tersebut harus segera dilaksanakan.
“Kalau soal atlet, kami siap. Tetapi untuk infrastruktur, itu kewenangan pemerintah. Jika PORA tetap digelar akhir 2026, di 2027 Pemerintah Aceh tinggal Menganggarkan Anggaran Penyelenggaraan, maka paling lambat awal tahun seluruh venue harus sudah ditender dan mulai dikerjakan,” pungkasnya.
Sebelumnya beredar informasi, Ketua KONI Aceh Saiful Bahri yang akrab disapa Pon Yahya, seperti yang kabarkan media pada Rabu 4 februari 2026 menyampaikan wacanakan penggeseran pelaksanaan PORA 2026 ke tahun berikutnya akibat kondisi cuaca ekstrem dan dampak banjir yang masih melanda sejumlah daerah di Aceh saat usai pertemuan dengan Sekretaris Daerah Aceh.
Editor: Amiruddin. MKReporter: Sanusi













