Home / Politik

Senin, 7 Juli 2025 - 16:32 WIB

Masyarakat Aceh Ramai-ramai Tolak Pendirian Batalyon Baru, Mantan Kombatan Turun Aksi

Redaksi

Sejumlah Aliansi Rakyat Menggugat melakukan aksi demo di depan Kantor Gubernur Aceh sejak pukul 10.00 WIB. Senin,(07/07/2025). Foto:Dok. Aininadhirah/Noa.co.id

Sejumlah Aliansi Rakyat Menggugat melakukan aksi demo di depan Kantor Gubernur Aceh sejak pukul 10.00 WIB. Senin,(07/07/2025). Foto:Dok. Aininadhirah/Noa.co.id

Banda Aceh– Ratusan warga Aceh, termasuk mantan kombatan dan pegiat sipil, menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Aceh menolak rencana pendirian empat batalyon militer baru. Massa menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap upaya militerisasi pasca perjanjian damai, sekaligus menyoroti permasalahan administratif pulau Aceh dan pengembalian tanah wakaf Blang Padang. Senin,(07/07/2025).

Dalam orasinya, Azhar selaku mantan kombatan menegaskan rasa ketidakadilan yang dirasakan rakyat:

“yang kamoe rasakan saat ini adalah, kamoe sebagai bangsa Aceh menjadi penonton di Nanggroe kamoe sendiri, yang mana hasil bumi Aceh yang di bawah na minyeuk dan di atas pih na minyeuk, di miyup minyeuk bumoe dan di ateuh minyeuk ue. Tapi kamoe sebagai bangsa Aceh sampoe uroenyoe sebagai penonton di Nanggroe droe”.

Baca Juga :  Perempuan PKB dan ORWARI Dukung AMIN di Pilkada 2024

Kalimat tersebut mencerminkan frustrasi masyarakat Aceh yang merasa diabaikan meski berada di atas tanah dan sumber daya mereka sendiri.

Azhar juga menyoroti janji pemerintahan yang tak terpenuhi:

“Sekian tahun kami semua sudah melaksanakan apa yang telah dianjurkan oleh pemerintah, namun sampai saat ini kami tidak mendapat bagian, baik itu lowongan kerja maupun bagian-bagian yang memang wajib kami terima salah satunya adalah kesejahteraan mantan kombatan dan juga kesejahteraan masayrakat Aceh yang dulunya moyang-moyang kami telah memperjuangkan hingga menjadi NKRI”.

Baca Juga :  Salman Sebut Kemenangan Mualem Akan Membawa Kemajuan Bagi Aceh

Pernyataan ini merefleksikan kekecewaan mendalam atas kurangnya akses terhadap pekerjaan, kesejahteraan mantan pejuang, dan pengakuan atas kontribusi historis Aceh dalam pembentukan NKRI.

Koordinator lapangan, Yulinda Wati, menambahkan empat poin utama yang menjadi isu sentral aksi: menolak empat batalyon militer baru karena dikhawatirkan menggagalkan proses pemulihan pasca-konflik; menyoroti tumpang tindih SK Mendagri terkait empat pulau Aceh yang dicabut pada 2022 namun SK 2025 tidak mencabut SK sebelumnya, menimbulkan ketidakpastian administratif; menuntut pertanggungjawaban Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tito Karnavian melalui jalur hukum atas perannya dalam konflik kepulauan; serta meminta pengembalian tanah wakaf Blang Padang dari militer kepada Masjid Raya Baiturrahman.

Baca Juga :  PKB Dukung Hasanuddin Berlaga di Pilkada Banda Aceh 2024

Aksi yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB itu berlangsung damai dengan pengawalan dari polisi dan Satpol PP. Massa membawa spanduk dan orasi yang tegas menuntut agar pintu kantor gubernur dibuka sayangnya, hingga sore hari tak satupun pejabat yang muncul.

Massa menyatakan akan bertahan hingga pukul 18.00 WIB sesuai izin aksi, dan siap melakukan aksi lanjutan setiap hari hingga aspirasi mereka ditanggapi secara resmi oleh Pemprov Aceh.

Editor: Amiruddin. MKReporter:

Share :

Baca Juga

Politik

Ketua DPA Laskar Panglima Nanggroe Ajak Rakyat Aceh Jaga Mualem dari Upaya Pembunuhan Karakter

Aceh Barat Daya

Panglima Do Klarifikasi Pernyataan Jubir DPW Partai Aceh Abdya

Daerah

Marak Terjadi Perusak Baliho, Ketua Poros Muda : InsyaAllah Kami SABAR Menuju Kemenangan

Politik

Kembali Diusung Partai Aceh Maju DPRA, Sulaiman SE: Bismillah, Kita Lanjutkan Pengabdian

Daerah

Baliho Pasangan SABAR Di Rusak OTK

Peristiwa

Di Acara Rakorda Gerindra Aceh, Prabowo Minta Anggota Dewan Gerindra Kawal Keistimewan Aceh

Politik

Ada Pihak yang Manfaatkan Integritas Pansel JPT untuk Loloskan Putra Mahkota

Politik

Menko Polhukam : Intelijen Keamanan Polri Harus Jadi Penjuru Terdepan