Sigli – Sepak bola di Kabupaten Pidie tak pernah benar-benar mati. Ia hanya sempat tertidur panjang, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit. Dan ketika momentum itu datang, satu nama kembali menggema: PSAP Sigli.
Mantan Sekretaris Umum (Sekum) PSAP Sigli tahun 2010-2012, Suadi Sulaiman atau lebih dikenal dengan Adi Laweung kepada media ini menuturkan, didirikan pada 1970, PSAP bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah identitas, kebanggaan, dan denyut nadi masyarakat Pidie. Dalam perjalanan panjangnya, PSAP pernah mencicipi kerasnya kompetisi nasional hingga mencapai puncak di Indonesia Super League (ISL) tahun 2012—sebuah fase emas yang masih lekat dalam ingatan para pecinta bola di Aceh. “Saat ini PSAP menjadi tim terbaik di Aceh”jelasnya.
Namun kata Adi Laweung, seperti banyak kisah besar lainnya, kejayaan itu tak berlangsung selamanya.Jatuh ke titik terendah dalam 15 tahun terakhir, PSAP mengalami dua kali degradasi yang memukul keras. Klub ini perlahan kehilangan arah. Manajemen tak stabil, perhatian meredup, dan prestasi pun ikut tergerus.
Tak hanya itu kata Adi Laweung, PSAP sempat seperti “mati suri” hidup, tapi tanpa denyut. Stadion yang dulu riuh oleh sorak sorai, perlahan menjadi sunyi. Nama besar PSAP seolah hanya tinggal kenangan. Padahal, dulu mereka pernah begitu menakutkan.
Pada 3 April 2011, PSAP mencatat kemenangan fenomenal 9-0 atas Persih Tembilahan di Stadion Kuta Asan, Sigli. Sebuah malam yang menjadi simbol superioritas dan kekuatan Laskar Aneuk Nanggroe di tanah sendiri. “,ini sebuah kemenangan yang fantastis dan mampu bersaing ditingkat nasional,”ungkap Adi.
Hal itu kata Adi Laweung, tidak terlepas tim itu dihuni pemain-pemain tangguh seperti Suheri Daud, Wahyudi, Bustami, Ikhwani Hasanuddin, hingga Fakhturrazi Cuba. Di balik layar, ada sosok pelatih Anwar yang meracik strategi, serta manajemen solid di bawah kepemimpinan Muhammad Yasin M. Amin dan Suadi Sulaiman alias Adi Laweung.
Dan di atas semuanya, sebut Adi Laweung, ada dukungan penuh dari sosok pemimpin daerah saat itu: Sarjani Abdullah. Benang Merah Kebangkitan nama Sarjani Abdullah kembali menjadi bagian penting dalam cerita kebangkitan PSAP.
Setelah kembali terpilih sebagai Bupati Pidie periode kedua pada Pemilu 2024, perhatian terhadap klub kebanggaan daerah ini kembali digelorakan.
Sepak bola kembali ditempatkan sebagai alat pemersatu dan kebanggaan masyarakat. PSAP tak lagi dibiarkan berjalan sendiri.
Di sisi lain, tongkat estafet kepemimpinan klub kini berada di tangan Muhammad Yusri Syamaun, atau yang lebih dikenal dengan Amad Tong. Sosok yang dikenal dekat dengan pemain dan berani mengambil langkah tegas.
Di bawah duet Sarjani Abdullah dan Amad Tong, PSAP mulai menemukan kembali “rohnya”.
Generasi Baru, Semangat Lama
Musim Liga 4 tahun 2026 menjadi titik balik. PSAP tidak hanya kembali berkompetisi, tetapi tampil sebagai kekuatan dominan.
Menariknya, cerita Adi Laweung, kebangkitan ini juga menghadirkan nuansa nostalgia. Mukhlis Rasyid salah satu pemain era emas kini dipercaya sebagai pelatih. Ia membawa filosofi lama: bermain dengan hati, disiplin, dan tanpa rasa takut. “Jadi Mukhlis Rasyid, Safrijani dan Herman juga penentu PSAP menjadi Juara Liga 4 Zona Aceh”,paparnya.
Hasilnya? Luar biasa.
Sejak fase penyisihan hingga semifinal Liga 4 Zona Aceh, PSAP tak tersentuh kekalahan. Mereka tampil solid, agresif, dan penuh determinasi.
Kemenangan telak 5-0 atas Kuala Nanggroe FC di semifinal menjadi bukti bahwa PSAP bukan sekadar bangkit, mereka kembali menakutkan. Permainan cepat, pressing tinggi, dan kerja sama tim yang padu menjadi ciri khas. Laskar Aneuk Nanggroe kembali menemukan identitasnya.
Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Kebangkitan PSAP bukan hanya soal hasil di lapangan. Ia adalah refleksi dari harapan yang kembali tumbuh di tengah masyarakat Pidie.
Di tribun, dukungan mulai mengalir deras. Warna kebanggaan kembali berkibar. Anak-anak muda kembali punya idola. Dan stadion kembali hidup. PSAP telah kembali menjadi milik rakyat.
Peran Sarjani Abdullah sebagai pemimpin daerah memberi fondasi kuat. Sementara Amad Tong menghadirkan energi baru di tubuh manajemen. Kombinasi keduanya menciptakan keseimbangan antara visi dan eksekusi.
Menuju Masa Depan
Perjalanan PSAP masih panjang. Liga 4 mungkin baru langkah awal. Namun, fondasi yang sedang dibangun memberi harapan besar.
Dengan manajemen yang solid, dukungan pemerintah daerah, serta regenerasi pemain yang berjalan baik, bukan tidak mungkin PSAP akan kembali ke level nasional bahkan mengulang kejayaan seperti era ISL.
Sejarah telah membuktikan, klub ini pernah berdiri di puncak. Dan kini, mereka sedang menapaki jalan yang sama, PSAP Sigli telah bangkit. Dan kali ini, mereka datang dengan cerita yang lebih kuat tentang jatuh, bertahan, dan kembali berdiri dengan penuh kebanggaan.
Editor: Amiruddin. MKReporter: Amir Sagita













