Sigli – Kelangkaan semen di Aceh mulai terasa bukan sekadar sebagai persoalan distribusi barang. Ketika kebutuhan pembangunan terus berjalan, pasokan semen justru tersendat. Harga pun berpotensi terdorong naik. Di tengah situasi itu,
Aceh sebenarnya memiliki sejumlah modal industri yang semestinya bisa menjadi bagian dari jawaban atas persoalan tersebut.
Salah satunya adalah pabrik semen di Lhoknga, Aceh Besar, yang dikelola Solusi Bangun Aceh (SBA). Ada pula proyek pembangunan pabrik Semen Indonesia Aceh (SIA) di Laweung, Kabupaten Pidie, yang hingga kini belum kunjung memberikan kepastian mengenai kelanjutan pembangunannya.
Bagi Teguh Agam Di Pidieya, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, kondisi ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah untuk melihat persoalan semen Aceh secara lebih mendasar.
“Jangan hanya berpikir bagaimana mengatasi kelangkaan semen hari ini, tetapi bagaimana Aceh memiliki solusi jangka panjang dengan menghidupkan potensi industri yang sudah ada,” kata Teguh.
Menurut dia, pemerintah Aceh bersama pemerintah pusat perlu melihat persoalan tersebut sampai ke akar masalah. Pemerintah, kata Teguh, perlu duduk bersama pihak-pihak terkait untuk mencari jalan keluar atas persoalan industri semen, termasuk memastikan nasib proyek pabrik semen di Laweung.
Pabrik yang berada di kawasan Laweung itu bukan sekadar proyek industri bagi masyarakat setempat. Bila dapat dilanjutkan dan beroperasi, keberadaannya berpotensi berkaitan dengan kebutuhan bahan bangunan, penyerapan tenaga kerja, aktivitas ekonomi masyarakat, hingga perputaran ekonomi di wilayah Pidie dan Aceh.
Karena itu, menurut Teguh, proyek tersebut tidak semestinya dibiarkan berada dalam ketidakpastian tanpa langkah penyelesaian yang jelas.
“Pabrik semen Laweung tidak boleh dibiarkan tanpa kepastian. Pemerintah perlu memberikan perhatian serius agar ada langkah nyata untuk melanjutkan proyek ini,” ujarnya.
Teguh, yang merupakan putra Laweung, melihat persoalan tersebut dari dua sisi sekaligus: kepentingan daerah dan kepentingan masyarakat. Di satu sisi, Aceh membutuhkan pasokan semen untuk menopang pembangunan. Di sisi lain, Aceh mempunyai potensi industri yang dapat dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Pertanyaan yang muncul kemudian sederhana: mengapa ketika semen langka, potensi yang dimiliki sendiri belum menjadi bagian utama dari pembicaraan mengenai solusi?
Bagi Teguh, kelangkaan semen seharusnya tidak berhenti pada persoalan mencari pasokan tambahan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam waktu singkat. Pemerintah perlu menjadikannya sebagai bahan evaluasi terhadap tata kelola industri dan ketahanan pasokan bahan bangunan di Aceh.
“Jangan sampai saat semen langka, potensi yang kita miliki sendiri justru dibiarkan terbengkalai,” katanya.
Ia berharap pemerintah tidak hanya mengambil kebijakan yang bersifat sementara ketika terjadi kelangkaan. Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat dinilai perlu menyusun langkah jangka panjang, termasuk menginventarisasi persoalan yang menyebabkan proyek industri semen Laweung tidak berjalan sebagaimana diharapkan.
Menurut Teguh, kepastian terhadap proyek tersebut penting bukan hanya bagi industri semen. Keberlanjutan pembangunan pabrik juga menyangkut peluang kerja, kegiatan ekonomi masyarakat sekitar, kebutuhan pembangunan daerah, serta cita-cita Aceh membangun kemandirian ekonomi.
Kelangkaan semen dengan demikian semestinya menjadi alarm. Bukan hanya bagi pelaku usaha dan masyarakat yang membutuhkan semen, tetapi juga bagi pemerintah yang memiliki kewenangan memastikan rantai pasokan kebutuhan dasar pembangunan tetap berjalan.
“Persoalan ini benar-benar harus mendapatkan perhatian bersama dan segera ditemukan jalan keluar yang terbaik bagi kemandirian maupun ketahanan daerah,” kata Teguh.
Bagi Laweung, persoalan itu bahkan memiliki makna yang lebih dekat. Tanah yang diharapkan menjadi lokasi tumbuhnya industri dan sumber ekonomi baru tidak seharusnya terus menunggu tanpa kepastian.
Dan bagi Aceh, kelangkaan semen semestinya menjadi pengingat: ketahanan pasokan tidak cukup dibangun dengan mendatangkan barang ketika stok menipis. Ia membutuhkan industri yang hidup, investasi yang pasti, dan keberanian pemerintah menyelesaikan persoalan yang telah terlalu lama tertunda.
Editor: Amiruddin. MKReporter: Amir Sagita





















