Banda Aceh – Kasus HIV/AIDS di Kota Banda Aceh masih menjadi tantangan serius di sektor kesehatan. Hingga akhir Maret 2026, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mencatat sebanyak 891 kasus HIV/AIDS, terdiri dari 735 kasus HIV dan 156 kasus AIDS.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, mengatakan tingginya angka kasus tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam upaya menekan penularan dan meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA).
“Kasus HIV/AIDS masih menjadi perhatian serius. Sampai akhir Maret 2026 tercatat 891 kasus, terdiri dari 735 kasus HIV dan 156 kasus AIDS,” kata Wahyudi, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, tren penemuan kasus HIV/AIDS dalam beberapa tahun terakhir cenderung meningkat. Namun, peningkatan tersebut tidak sepenuhnya menunjukkan bertambahnya penularan, melainkan juga dipengaruhi semakin luasnya layanan skrining dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan.

Dinas Kesehatan mencatat, akses tes HIV kini semakin mudah diperoleh melalui fasilitas kesehatan. Selain itu, kegiatan penjangkauan kelompok berisiko dan deteksi dini yang dilakukan petugas kesehatan turut berkontribusi terhadap meningkatnya temuan kasus.
Meski demikian, Wahyudi mengakui pengendalian HIV/AIDS masih menghadapi sejumlah hambatan. Salah satu tantangan terbesar adalah stigma dan diskriminasi yang masih dialami oleh penderita HIV/AIDS di tengah masyarakat.
Selain stigma, rendahnya kesadaran untuk melakukan tes HIV serta masih adanya pasien yang menghentikan pengobatan sebelum tuntas juga menjadi persoalan yang harus dihadapi.
“Masih ada masyarakat yang enggan melakukan tes HIV karena takut atau khawatir mendapat stigma. Di sisi lain, terdapat pasien yang putus pengobatan sehingga berisiko memperburuk kondisi kesehatan dan meningkatkan potensi penularan,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Kesehatan terus memperluas layanan tes HIV dan pengobatan di berbagai fasilitas kesehatan. Edukasi kepada masyarakat juga terus ditingkatkan guna mendorong kesadaran pentingnya deteksi dini dan pengobatan secara rutin.
Selain itu, pendampingan terhadap pasien diperkuat melalui kerja sama dengan komunitas, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, serta organisasi masyarakat.
Wahyudi menegaskan, deteksi dini dan kepatuhan menjalani terapi menjadi kunci utama dalam pengendalian HIV/AIDS. Dengan pengobatan yang teratur, penderita HIV dapat hidup sehat dan produktif serta menekan risiko penularan kepada orang lain. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK















