Aceh Besar – Tidak semua politisi lahir dari ruang nyaman kekuasaan. Sebagian tumbuh dari lapangan dari interaksi nyata dengan masyarakat, dari pengalaman jatuh bangun di dunia kerja, hingga akhirnya menemukan panggilan untuk mengabdi melalui jalur politik. Apriono, ST yang akrab disapa OPI adalah salah satu di antaranya.
Dari sudut pandang akademisi, sosok Apriono menarik untuk dikaji bukan hanya karena posisinya sebagai anggota DPRK Aceh Besar, tetapi karena pola kepemimpinan yang ia bangun: kombinasi antara pengalaman praktis, kesadaran intelektual, dan kedekatan sosial dengan masyarakat.
Perjalanan politiknya tidak instan. Ia berproses sejak 2009 hingga 2023 bersama Partai Aceh (PA), sebelum akhirnya bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 2024 sebuah keputusan yang diambil hanya tujuh hari sebelum penetapan Daftar Calon Tetap (DCT). Dalam perspektif komunikasi politik, langkah ini mencerminkan kemampuan adaptasi strategis, sebuah kualitas penting dalam kepemimpinan modern.
Dari sisi akademik, Apriono merupakan alumni Teknik Mesin Universitas Iskandar Muda (UNIDA). Latar belakang ini membentuk cara berpikir yang sistematis dan berbasis solusi. Tidak berhenti di situ, ia juga tengah melanjutkan studi Magister Hukum Keluarga Islam di STIS NU Aceh. Pilihan ini menunjukkan kesadaran bahwa kepemimpinan tidak cukup hanya dengan pengalaman, tetapi juga harus diperkuat oleh landasan keilmuan, khususnya dalam memahami aspek hukum dan sosial masyarakat.
Secara profesional, rekam jejaknya menunjukkan kapasitas yang tidak bisa dipandang sederhana. Ia pernah menjadi bagian dari BRR Aceh-Nias (2006-2009) sebagai staf aset, kemudian bekerja di Bank BRI (2009-2010), hingga akhirnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Samana Citra Persada (2010-2024), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor-impor. Pengalaman lintas sektor ini memperlihatkan kematangan manajerial serta kemampuan mengelola sistem yang kompleks.
Namun, yang paling penting dalam perspektif akademis adalah bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata saat ia menjadi anggota DPRK. Apriono menunjukkan orientasi kebijakan yang berbasis kebutuhan masyarakat. Pembangunan 21 unit MCK pada 2024 di Deunong, Darul Imarah, dan Darul Kamal merupakan langkah konkret dalam menjawab persoalan sanitasi.
Pada 2025, ia mendorong pembangunan irigasi, distribusi pupuk bagi petani, serta pembangunan talud di Darul Kamal. Program-program ini memperlihatkan keberpihakan pada sektor dasar masyarakat: pertanian dan infrastruktur lingkungan. Memasuki 2026, fokusnya tetap konsisten pada pembagian pupuk, pembangunan jalan, dan penguatan kegiatan masyarakat.
Dalam kajian pembangunan, pola seperti ini dikenal sebagai pendekatan bottom-up, di mana kebijakan berangkat dari kebutuhan riil masyarakat, bukan dari kepentingan elite. Ini menunjukkan bahwa Apriono tidak sekadar menjalankan fungsi politik, tetapi juga memahami esensi representasi publik.
Di luar parlemen, pengalaman organisasinya di PMI, Mapala UNIDA, dan HMI memperkuat kapasitas kepemimpinan sosialnya. Organisasi menjadi ruang pembentukan karakter melatih kepekaan, komunikasi, dan kemampuan membangun jaringan.
Yang membedakan Apriono dari banyak politisi lainnya adalah kesederhanaannya. Ia hadir sebagai figur yang tidak berjarak, mudah diakses, dan lebih menonjolkan kerja daripada retorika. Dalam konteks politik lokal, karakter seperti ini menjadi modal sosial yang sangat penting dalam membangun kepercayaan publik.
Lebih jauh, dalam dinamika internal partai saat ini, Apriono, ST juga dikenal sebagai salah satu calon kuat Ketua DPC PKB Aceh Besar. Dari perspektif akademisi, dengan melihat rekam jejak, pengalaman, serta kedekatannya dengan masyarakat, saya menilai bahwa ia sangat layak untuk memimpin DPC PKB Aceh Besar. Ia memiliki kombinasi antara kapasitas teknokratis, pengalaman organisasi, dan legitimasi sosial yang dibutuhkan untuk membesarkan partai sekaligus menjaga arah perjuangan yang tetap berpihak pada rakyat.
Sebagai akademisi, saya melihat bahwa Apriono, ST merepresentasikan model kepemimpinan yang tumbuh dari bawah, diperkuat oleh pengalaman, dan dijalankan dengan kesadaran intelektual. Ia bukan hanya bekerja untuk rakyat, tetapi juga bersama rakyat.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara, tetapi siapa yang paling konsisten bekerja dan hadir di tengah rakyat. Dalam hal itu, Apriono telah menunjukkan arah yang jelas bahwa politik bisa tetap membumi, bersahaja, dan bermakna.
Editor: Amiruddin. MK












