Oleh: Dr. Safwan, S.Pd.I., M.Ag.
Wakil Ketua MAA Kabupaten Pidie dan Ketua Prodi Studi Islam S2 STAI Nusantara Banda Aceh
Sigli – Senin pagi, 13 Juli 2026, akan menjadi hari yang istimewa bagi ribuan keluarga. Tahun ajaran baru dimulai. Jalan-jalan kembali dipenuhi anak-anak berseragam rapi, tas baru menggantung di pundak mereka, sementara para orang tua bergegas mengantar buah hati menuju gerbang sekolah.
Bagi banyak keluarga, pagi itu mungkin hanya terasa sebagai rutinitas tahunan. Bangun lebih awal, menyiapkan sarapan dan bekal, lalu bergegas menembus kepadatan lalu lintas agar anak tidak terlambat masuk kelas.
Padahal, di balik perjalanan yang mungkin hanya berlangsung 15 atau 30 menit itu, tersimpan kesempatan berharga yang sering luput disadari. Mengantar anak ke sekolah bukan sekadar urusan transportasi. Ia adalah investasi bagi tumbuhnya karakter, kedekatan emosional, dan budaya keluarga yang akan dikenang anak hingga dewasa.
Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kesibukan dan gawai, waktu berkualitas antara orang tua dan anak semakin sulit ditemukan. Ironisnya, kita sering berada di rumah yang sama, tetapi sibuk dengan layar masing-masing. Karena itu, perjalanan menuju sekolah justru menjadi ruang sederhana yang menghadirkan percakapan tanpa gangguan.
Di atas sepeda motor, di dalam mobil, atau bahkan saat berjalan kaki, orang tua memiliki kesempatan mendengarkan cerita anak, mengetahui kegelisahan mereka, memberi semangat menghadapi pelajaran, atau sekadar tertawa bersama karena hal-hal sederhana. Percakapan-percakapan kecil seperti inilah yang perlahan membangun hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan.
Lebih dari sekadar mengobrol, perjalanan pagi juga menjadi ruang belajar kehidupan. Anak melihat bagaimana orang tuanya bersikap saat menghadapi kemacetan, mematuhi aturan lalu lintas, menghormati pengguna jalan lain, hingga menyapa tetangga yang ditemui di sepanjang perjalanan. Tanpa disadari, semua itu adalah proses pewarisan nilai yang jauh lebih efektif daripada sekadar nasihat panjang di rumah.
Yang tidak kalah penting, kehadiran orang tua di pagi hari memberikan rasa aman bagi anak. Sebuah pelukan, senyuman, atau lambaian tangan sebelum memasuki gerbang sekolah mampu menjadi energi positif yang menemani mereka sepanjang hari. Anak merasa dicintai, diperhatikan, dan tahu bahwa mereka berangkat dari rumah yang selalu menjadi tempat pulang.
Memang tidak semua orang tua memiliki kesempatan yang sama. Kesibukan pekerjaan, jarak tempuh, atau tuntutan ekonomi membuat banyak keluarga harus mencari alternatif lain. Namun, bagi mereka yang memiliki kesempatan, terutama pada hari-hari penting seperti hari pertama sekolah, momen ini layak dijaga sebagai tradisi keluarga.
Sebab, ketika anak telah dewasa, mereka mungkin tidak lagi mengingat hadiah-hadiah mahal yang pernah diberikan. Akan tetapi, mereka akan selalu mengingat hangatnya perjalanan pagi bersama ayah atau ibu, obrolan sederhana di atas motor, atau tangan yang menggenggam erat saat menyeberang menuju sekolah.
Memori-memori sederhana itulah yang kelak membentuk cara mereka memaknai kasih sayang, keluarga, dan kehadiran orang tua.
Pada akhirnya, mengantar anak ke sekolah bukan hanya memastikan mereka tiba tepat waktu. Yang jauh lebih penting adalah memastikan mereka memulai hari dengan cinta, perhatian, dan rasa aman.
Karena masa depan anak tidak hanya dibangun oleh pelajaran yang mereka terima di ruang kelas, tetapi juga oleh percakapan-percakapan sederhana yang mereka dengar di sepanjang perjalanan menuju sekolah.
Maka, jika Senin pagi nanti kita masih memiliki kesempatan mengantar anak ke sekolah, jangan anggap itu sekadar rutinitas. Jadikanlah perjalanan singkat tersebut sebagai tradisi penuh kasih sayang, sebab dari sanalah keluarga yang kuat dan generasi yang berkarakter mulai dibangun.
Editor: Amiruddin. MK














