Banda Aceh – UPTD Museum Tsunami Aceh resmi membuka pameran temporer terbaru bertajuk “TSUNAMI: Jejak Ingatan – Dari Hikayat ke Metadata” bertempat di Ruang Pameran Temporer Museum Tsunami Aceh, Senin (25/5/2026). Pameran ini mengupas tuntas transformasi panjang bagaimana memori kolektif masyarakat Aceh tentang bencana tsunami berevolusi dari tradisi tutur masa lalu menjadi basis data teknologi modern.
Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M Syahputra Azwar, menyatakan bahwa pameran ini bukan sekadar refleksi masa lalu, melainkan upaya krusial dalam membangun kesiapsiagaan masa depan.

“Tsunami adalah peristiwa yang meninggalkan jejak mendalam pada ingatan manusia. Melalui pameran ini, kita melihat bagaimana ingatan yang dulunya disimpan dalam hikayat dan tradisi lisan, kini bertransformasi menjadi metadata yang dibaca oleh sistem teknologi demi menyelamatkan kehidupan,” ujarnya di sela-sela peresmian pameran yang turut dihadiri oleh jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh.
Pameran temporer ini secara apik dibagi menjadi dua sub-tema utama yang merepresentasikan perjalanan waktu mitigasi bencana di tanah Rencong.
Zona Tradisi Lisan & Tulisan: Bagian ini menyajikan bukti sejarah dan ingatan masa lalu, termasuk visualisasi ilmiah “Jejak Tsunami Purba di Gua Ek Leuntie, Pesisir Pantai Aceh Besar”. Penelitian lapisan sedimen di gua tersebut membuktikan secara empiris bahwa tsunami besar telah melanda Aceh berulang kali selama ribuan tahun jauh sebelum peristiwa tahun 2004, yang kemudian diwariskan leluhur melalui cerita rakyat dan hikayat.

Zona Metadata (Masa Kini): Menyajikan implementasi teknologi mutakhir dalam mitigasi bencana. Pengunjung dapat melihat panel interaktif mengenai “Alat Pendeteksi Tsunami Masa Kini”, yang menampilkan visualisasi sistem peringatan dini, pengolahan data sensor laut, serta teknologi berbasis kecerdasan digital yang digunakan global saat ini.
Melalui pendekatan edukatif yang memadukan bukti arkeologis, manuskrip sejarah, dan perangkat digital interaktif, pameran ini diharapkan dapat memperkuat nilai smong (kearifan lokal) sekaligus meningkatkan literasi sains masyarakat terhadap risiko bencana global.
Pameran Temporer “Tsunami Jejak Ingatan: Dari Hikayat ke Metadata” terbuka untuk masyarakat umum, akademisi, serta wisatawan domestik dan mancanegara selama periode pameran berlangsung. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK














