Aceh Barat Daya — Rencana Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) menertibkan kendaraan yang diduga berulang kali mengisi solar bersubsidi dinilai belum menunjukkan hasil nyata.
Kendaraan yang warga sebut sebagai “mobil hantu” masih terlihat mendominasi antrean di sejumlah SPBU.
Padahal, Pemkab Abdya sebelumnya mengancam akan menyerahkan pelaku penyalahgunaan BBM bersubsidi kepada aparat penegak hukum.
Pantauan di SPBU menunjukkan antrean kendaraan mengular hingga sekitar satu kilometer. Puluhan kendaraan sudah menunggu sejak pagi sebelum pasokan solar tiba.
Sejumlah warga mempertanyakan efektivitas penertiban yang selama ini digaungkan pemerintah.
Mereka menilai pernyataan tegas tanpa tindakan di lapangan hanya menjadi omongan belaka jika kendaraan yang dugaan melakukan pengisian berulang tetap bebas mengantre.
Seorang warga yang meminta identitasnya tidak sebutkan mengatakan kendaraan tua dengan tipe yang sama hampir setiap hari terlihat mengantre di SPBU.
“Mobil itu hampir setiap hari kami lihat mengantre. Setelah mengisi, tidak lama kemudian muncul lagi,” ujarnya.
Warga menduga pola tersebut membuat masyarakat yang hanya membutuhkan BBM untuk keperluan sehari-hari semakin sulit mendapatkan solar bersubsidi.
Kondisi itu juga memperpanjang antrean di SPBU. Bahkan, warga harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan solar.
Menurut Bupati Abdya Safaruddin, panjangnya antrean tidak hanya berkaitan dengan keterbatasan kuota solar bersubsidi.
Dugaan pengisian BBM secara berulang oleh kendaraan tertentu turut memperparah kondisi tersebut.
Safaruddin menilai praktik semacam itu dapat mengurangi jatah masyarakat yang memang berhak menerima BBM bersubsidi.
Pemkab Abdya telah mengusulkan penambahan kuota BBM bersubsidi kepada Pertamina.
Pemerintah juga mendorong penerapan sistem prioritas bagi kendaraan pelayanan publik dan sektor ekonomi yang bersifat esensial.
Selain itu, Pemkab Abdya berencana memperkuat pengawasan distribusi BBM dengan melibatkan unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Namun, warga berharap langkah tersebut tidak berhenti pada rapat, imbauan, atau ancaman penindakan.
Mereka meminta pemerintah dan aparat langsung menindak kendaraan yang terbukti menyalahgunakan BBM bersubsidi.
“Kalau memang ada yang mengisi berulang kali dan melanggar aturan, jangan hanya teguran. Tindak saja sesuai aturan,” kata warga tersebut.
Persoalan antrean solar bersubsidi di Abdya kini bukan sekadar masalah panjangnya barisan kendaraan.
Kondisi itu juga menyangkut pengawasan distribusi dan ketepatan sasaran subsidi.
Jika dugaan pengisian berulang terus berlangsung tanpa tindakan tegas, masyarakat khawatir kelangkaan solar akan terus berulang.
Serta antrean panjang kembali menjadi pemandangan sehari-hari di SPBU Abdya.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar
























