Home / Daerah / Pemerintah / Peristiwa

Kamis, 8 Januari 2026 - 18:00 WIB

Balai KSDA Aceh relokasi tulang gajah Sumatera

Farid Ismullah

Gajah Sumatera Mati Akibat Bencana Hidrometeorologi ditemukan di sekitar pemukiman warga Dusun Pante Geulima, Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu pada Jumat tanggal 28 november 2025. (Foto : NOA.co.id/HO-Dok.BKSDA Aceh).

Gajah Sumatera Mati Akibat Bencana Hidrometeorologi ditemukan di sekitar pemukiman warga Dusun Pante Geulima, Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu pada Jumat tanggal 28 november 2025. (Foto : NOA.co.id/HO-Dok.BKSDA Aceh).

Banda Aceh – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) merelokasi tulang belulang dan sisa-sisa organ gajah sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang ditemukan mati terseret banjir di kawasan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh.

Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata mengatakan relokasi tulang belulang dan sisa-sisa organ satwa dilindungi tersebut guna mencegah hal yang tidak diinginkan.

“Kami akan relokasi tulang belulang dan sisa-sisa organ gajah yang ditemukan mati akibat banjir akhir November 2025. Bangkai gajah tersebut ditemukan di kawasan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya,” kata Ujang dalam keterangan resminya, Kamis, 8 Januari 2025.

Sebelumnya, BKSDA Aceh menerima informasi dari Keuchik (Kepala Desa) Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, terkait dengan penemuan gajah mati terbawa banjir pada 28 November 2025.

Baca Juga :  Polres Pidie Jaya Terapkan FIFO pada Layanan Satpas Prototype

Diketahui, Bangkai gajah tersebut ditemukan di sekitar pemukiman warga Dusun Pante Geulima, Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meureudu.

Menindaklanjuti informasi tersebut, BKSDA Aceh berkoordinasi dengan Satuan Reserse Kriminal Polres Pidie Jaya. Selanjutnya, mengecek lokasi keesokan harinya di mana akses dan medan ke lokasi gajah mati tersebut sulit dilalui karena banyak material banjir, seperti kayu.

“BKSDA mengerahkan tiga personel, termasuk dokter hewan dibantu empat personel Polres Pidie Jaya, mencapai lokasi bangkai gajah pada hari berikutnya,” katanya.

Hasil pemeriksaan bangkai, kata dia, tidak ditemukan luka di tubuh gajah. Usia bangkai saat ditemui sekitar empat hari. Jenis kelamin gajah jantan dan umur diperkirakan 10 tahun dengan sepasang gading patah.

Penyebab kematian, kata dia, terseret arus banjir bandang. Bangkai ditemukan tertimbun lumpur dan puing-puing kayu. Areal di sekitar lokasi masih terendam banjir dan akses ke lokasi sulit dilalui.

Baca Juga :  LSM PuTra : Terkait Putusan MK, Kami Apresiasi Kinerja panwaslih Pidie Jaya  

“Saat itu, tidak ada alat berat yang tersedia, sehingga penanganan darurat awal pada bangkai dengan menyeterilkan lokasi, serta menguburkan secara darurat dengan menutup bangkai gajah lumpur dan serpihan kayu,” katanya.

Pihaknya juga memantau secara berkala lokasi penguburan darurat bangkai gajah tersebut. Pada 10 Desember 2025, tim BKSDA dan Polres Pidie Jaya mendatangi lokasi penguburan darurat.

Kondisi bangkai saat itu, kata dia, sudah mulai terjadi pembusukan. Petugas juga menambah timbunan secara manual bangkai gajah tersebut guna mengurangi bau. Apalagi di sekitar lokasi juga berasal dari bangkai hewan ternak yang terdampak banjir.

Baca Juga :  Perdamaian Aceh Adalah Warisan Perjuangan, Bang Li Raja: Jangan Ternoda oleh Provokasi

Saat itu, petugas juga mengamankan sepasang gading dengan ukuran kiri sepanjang 38 centimeter dan kanan sepanjang 36 centimeter. Diameter pangkal dan ujung masing-masing gading 18 centimeter dan 17 centimeter.

Tim BKSDA dan Polres Pidie Jaya kembali mendatangi lokasi pada Selasa (6/1). Kondisi bangkai sudah mulai terurai dan menyisakan tulang belulang dan tengkorak serta bau busuk sudah mulai menghilang.

Namun, kata dia, ada indikasi lokasi penguburan dibongkar karena sempat berkembang isu adanya gading. Tim kemudian menutup lokasi penguburan dengan terpal dan menambah timbunan tanah.

“Selanjutnya, terhadap tulang belulang dan sisa-sisa organ gajah yang masih tertinggal akan dibawa ke Pusat Latihan Gajah Saree di Kabupaten Aceh Besar guna penguburan permanen satwa dilindungi tersebut,” kata Ujang Wisnu Barata.

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Aceh Besar

Pemkab Aceh Besar Gelar Apel Hari Krida Pertanian

Aceh Besar

Pemkab Aceh Besar Prioritaskan dan Optimalisasi Pelayanan Publik 

Daerah

Kemenag Pidie Jaya Kurbankan 122 Ekor Sapi dan 6 Ekor Kambing 

Internasional

KemenP2MI bersama KBRI Den Haag Petakan Peluang Pengiriman Pekerja Migran ke Belanda

Daerah

Saat Laka Lantas, Mahasiswa Ini Bawa Ganja, Polisi Pun Mengambil Tindakan

Aceh Besar

Asisten III Sekdakab Aceh Besar Hadiri Buka Puasa Bersama

Peristiwa

15 Hektare Lahan Terbakar di Aceh Besar

Pemerintah

Disdik Aceh Salurkan Gaji P3K Tahap I Pengangkatan April 2024