Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh menetapkan arah pembangunan tahun 2027 dengan menitikberatkan pada peningkatan layanan dasar, penguatan sumber daya manusia (SDM), serta kolaborasi lintas sektor.
Hal itu disampaikan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, saat membuka Musyawarah perencanaan pembangunan (Musrembang) dalam rangka penyusunan rencana kerja pemerintah daerah (RKPD) tahun 2027, Senin (13/4/2026).
Ia mengatakan bahwa fokus tersebut menjadi bagian dari strategi pembangunan yang lebih menyeluruh, tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga kualitas hidup masyarakat.
Menurutnya, tema pembangunan 2027 dirancang untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat, dengan menyeimbangkan pembangunan fisik dan peningkatan kapasitas manusia.
“Kita tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun manusia. Ini penting agar hasil pembangunan bisa berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam implementasinya, pemerintah memprioritaskan peningkatan akses pendidikan melalui program beasiswa, serta penguatan sektor kesehatan, khususnya penanganan stunting dan penyakit menular.
Illiza menegaskan, persoalan stunting tidak bisa dilihat semata dari aspek ekonomi, melainkan juga dipengaruhi pola hidup dan kesadaran masyarakat.
Selain itu, penguatan ekonomi masyarakat dilakukan melalui pelatihan bersertifikasi bagi pelaku UMKM, serta pengembangan program berbasis lingkungan, termasuk pengelolaan sampah yang berpotensi menjadi sumber pendapatan baru.
Sejumlah program yang telah berjalan, seperti pasar pangan murah dan subsidi kebutuhan pokok, juga akan terus dilanjutkan guna menjaga stabilitas daya beli masyarakat.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Banda Aceh terus mendorong model pembangunan berbasis kolaborasi dengan berbagai pihak, baik lembaga nasional maupun internasional. Salah satunya melalui kerja sama dengan Bank Indonesia dalam penerapan sistem pembayaran digital QRIS.
Kemitraan juga diperluas dengan perguruan tinggi, lembaga non-pemerintah, hingga kerja sama luar negeri, termasuk dengan kota-kota di Jepang dan Paris.
Illiza menyebut, capaian penurunan angka kemiskinan pada 2026 menjadi dasar untuk memperkuat program pembangunan ke depan. “Yang terpenting bagaimana capaian ini bisa kita jaga, bahkan ditingkatkan, sehingga kesejahteraan masyarakat terus membaik,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, Banda Aceh ditargetkan berkembang sebagai kota yang inklusif, adaptif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman, seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
Editor: Amiruddin. MK













