Home / Advetorial / Pemerintah Aceh

Jumat, 21 Agustus 2026 - 14:30 WIB

Bangun Generasi Berakhlak di Era Modern, DSI Aceh Perkuat Kolaborasi dengan Dunia Pendidikan

mm Redaksi

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Tgk. H. Misran Fuadi, S.Ag., MAP. Foto: Dok. Pribadi

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Tgk. H. Misran Fuadi, S.Ag., MAP. Foto: Dok. Pribadi

Banda Aceh – Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh memperkuat strategi pembinaan generasi muda melalui kerja sama lintas sektor, khususnya dengan Dinas Pendidikan Aceh. Langkah ini diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai syariat Islam di lingkungan sekolah dengan pendekatan edukasi yang santun, bermoral, dan sesuai dengan prinsip dakwah Islam.

Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Dr. Tgk. H. Misran Fuadi, S.Ag., M.AP., mengatakan penguatan pemahaman agama bagi generasi muda tidak dapat dilakukan hanya melalui satu lembaga, tetapi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama sektor pendidikan dan keluarga.

Menurutnya, DSI Aceh telah melakukan komunikasi dengan Dinas Pendidikan Aceh untuk menyusun langkah bersama dalam menghadirkan edukasi keislaman di sekolah-sekolah.

“Kami juga kemarin sudah duduk dengan Kepala Dinas Pendidikan, dan beliau akan turun ke sekolah-sekolah memberikan edukasi yang sangat beradab dan sangat bermoral,” ujar Misran, Jumat (21/8/2026).

Ia menegaskan, pola edukasi yang diberikan harus mengedepankan pendekatan yang bijak dan tidak menggunakan cara-cara keras. Sebab, menurutnya, nilai-nilai agama akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan cara yang baik.

“Kalau edukasi diberikan dengan beradab, kita akan melahirkan peradaban. Tapi kalau edukasi disampaikan dengan sesuatu yang anarkis, yang kasar, mungkin mereka akan menjauh,” katanya.

Baca Juga :  Ramadhan Berilmu: DPKA Aceh Ajak Masyarakat Isi Waktu Puasa dengan Berkunjung ke Mall Baca
Pembinaan Generasi Muda Butuh Proses, Bukan Hasil Instan

Misran menjelaskan, tantangan dalam membina generasi muda saat ini jauh berbeda dibandingkan masa sebelumnya. Perkembangan teknologi, perubahan gaya hidup, serta kuatnya pengaruh budaya modern menjadi tantangan yang harus dihadapi dengan strategi yang tepat.

Karena itu, ia menilai pembinaan nilai-nilai agama tidak bisa dilakukan secara cepat atau berharap menghasilkan perubahan dalam waktu singkat.

Menurutnya, proses pendidikan dan dakwah membutuhkan kesabaran dan konsistensi, sebagaimana Rasulullah SAW membangun masyarakat Islam melalui tahapan yang panjang.

“Islam ini saat dikembangkan oleh Rasulullah juga membutuhkan proses dan waktu. Apalagi generasi sekarang yang sudah sangat kental dengan berbagai dunia kehidupan dan gaya hidup modern, tentu membutuhkan waktu,” ujarnya.

ilustrasi sosialisasi edukasi nilai-nilai syariat di lingkungan sekolah. Foto: Dok. Istimewa

Ia menegaskan, pendidikan karakter tidak bisa dilakukan secara instan. “Nasehat itu bukan seperti makanan instan yang dipanaskan langsung jadi. Ini proses panjang, jangka panjang, dengan catatan semua pihak memberikan perhatian yang sama dan serius,” katanya.

Baca Juga :  Mualem Pimpin Rapat Bahas Validasi Data JKA Bersama Sekda dan Dinkes

Sekolah, Masjid, dan Keluarga Harus Berjalan Bersama
Program edukasi syariat Islam di sekolah nantinya akan menjadi bagian dari upaya pembinaan yang lebih luas yang dilakukan DSI Aceh.

Selain sekolah, DSI juga terus menjalankan pembinaan melalui masjid, pengajian, serta berbagai kegiatan keagamaan di tengah masyarakat.

Misran menyebut pembentukan karakter generasi muda harus dilakukan secara menyeluruh melalui tiga lingkungan utama, yaitu sekolah, rumah ibadah, dan keluarga.

Menurutnya, pendidikan agama yang kuat tidak hanya bergantung pada lembaga pemerintah, tetapi harus dibangun melalui keterlibatan semua pihak.

“Semua ini membutuhkan perhatian yang sama dan serius. Tidak bisa hanya berharap kepada satu pihak saja,” katanya.

Namun di sisi lain, bahwa peran orang tua tetap menjadi faktor paling penting dalam membentuk karakter anak. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kemudian orang tuanyalah yang memiliki peran besar dalam membentuk pendidikan dan arah kehidupan anak.

Menurutnya, pengawasan paling dekat terhadap anak berada di tangan keluarga, bukan sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah atau lembaga tertentu.

Baca Juga :  Pulang dari Jakarta, Salihin Tegaskan Revisi UUPA dan Otsus Demi Masa Depan Aceh

“Ketika berbicara pendidikan, pengawasan, dan pencegahan, yang paling melekat adalah orang tua. Karena orang tua yang memiliki hubungan paling dekat dengan anak,” ujarnya.

Ia menjelaskan, orang tua memiliki ruang yang lebih besar dalam memberikan arahan maupun teguran kepada anak dibandingkan pihak luar.

Sementara lembaga pemerintah seperti DSI, menurutnya, memiliki peran membantu melalui edukasi, pembinaan, dan penguatan pemahaman agama.

Misran juga mengingatkan agar masyarakat tidak hanya menyalahkan satu pihak ketika muncul persoalan sosial di tengah masyarakat.

Menurutnya, persoalan pembinaan moral generasi muda merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

“Tidak mungkin semua persoalan itu dibebankan kepada satu institusi. Ada hal-hal yang memang menjadi tanggung jawab bersama,” katanya.

Ia menegaskan, peran pemerintah adalah menghadirkan kebijakan dan program pembinaan, sementara keluarga menjadi benteng utama dalam mengawasi dan membimbing anak.

Dengan kerja sama lintas sektor dan pendekatan yang mengedepankan nilai-nilai Islam, DSI Aceh berharap generasi muda Aceh dapat tumbuh dengan karakter yang kuat, memahami agama, serta mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. (Adv)

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Advetorial

Generasi Z di Banda Aceh Incar Lowongan Kerja Digital dan Kreatif

Pemerintah Aceh

M. Nasir Buka Forum Konsultasi Publik RKPA 2027, Dorong Pembangunan Tangguh dan Sinergi Pusat-Daerah

Pemerintah Aceh

Baitul Mal Buka Pendaftaran Bantuan Modal Usaha

Pemerintah Aceh

DPRA Mendesak Penetapan Bencana Nasional

Daerah

Wagub Aceh Minta Bantuan Banjir Tak Ditahan, Helikopter Disiagakan untuk Wilayah Terisolir

Advetorial

Lhokseumawe Bersih dan Berbenah: Langkah Awal Sayuti Abubakar Memimpin Kota

Daerah

Lantik Bupati Singkil, Gubernur Aceh: Jaga Keharmonisan dengan Legislatif

Pemerintah Aceh

Gubernur Aceh Lepas Bantuan Logistik Bencana untuk Sejumlah Kabupaten