Jakarta — Modernisasi transportasi di ibu kota berlangsung sangat cepat dalam satu dekade terakhir. Kehadiran moda transportasi berbasis aplikasi, integrasi angkutan umum, serta pembenahan sistem mobilitas perkotaan membuat wajah Jakarta berubah drastis. Namun di tengah perubahan itu, masih ada kendaraan klasik yang terus bertahan di jalanan: bajai. Kendaraan roda tiga yang dulu menjadi primadona kini perlahan tersisih, tetapi belum sepenuhnya hilang.
Di antara para pengemudi yang masih setia mengoperasikan bajai, terdapat sosok Yuster (38). Pria ini telah menarik bajai sejak tahun 1998. Hampir separuh hidupnya dihabiskan di jalanan Jakarta, menyusuri gang sempit, pasar tradisional, hingga ruas jalan padat di pusat kota. Bagi Yuster, bajai bukan sekadar alat transportasi, melainkan sumber penghidupan sekaligus bagian dari perjalanan hidup yang tidak bisa dipisahkan.
Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WIB, Yuster sudah mulai berkeliling mencari penumpang. Ia biasa mangkal di kawasan Jalan Mangga Besar, Jakarta Barat, lokasi yang menurutnya masih memiliki peluang mendapatkan penumpang, terutama warga yang hendak menuju gang-gang kecil atau lokasi yang sulit dijangkau kendaraan roda empat. Meski begitu, jumlah penumpang tidak lagi seperti dulu.
Dahulu, dalam sehari ia bisa mendapatkan penumpang tanpa harus menunggu lama. Kini, Yuster bisa menunggu berjam-jam tanpa satu pun penumpang yang menghampiri. Masyarakat lebih memilih transportasi online yang dinilai lebih praktis, cepat, dan terintegrasi dengan sistem pembayaran digital.
Persaingan tersebut membuat penghasilan Yuster menurun drastis. Dalam sehari, ia rata-rata hanya memperoleh sekitar Rp100 ribu. Dari pendapatan itu, ia masih harus membayar setoran kepada pemilik bajai serta membeli bahan bakar. Setelah dipotong kebutuhan tersebut, sisa uang yang dibawa pulang nyaris tidak cukup untuk kebutuhan hidup layak di Jakarta.
Kondisi ekonomi yang sulit membuat Yuster harus berhemat dalam segala hal. Ia bahkan sering kali memilih beristirahat di dalam bajainya pada malam hari karena tidak memiliki biaya untuk menyewa kamar kos. Baginya, bajai bukan hanya tempat bekerja, tetapi juga menjadi tempat berteduh ketika kondisi memaksa.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Yuster tidak kehilangan harapan. Ia menyadari bahwa perkembangan zaman tidak bisa dihindari. Namun menurutnya, bajai masih memiliki fungsi penting yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh moda transportasi lain. Bajai dinilai lebih fleksibel untuk menjangkau kawasan padat penduduk dengan akses jalan sempit, terutama di perkampungan kota.
Yuster juga memiliki gagasan agar bajai bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Ia berharap suatu saat bajai dapat terintegrasi dengan sistem pemesanan berbasis aplikasi, sehingga penumpang dapat dengan mudah menemukan layanan bajai melalui ponsel mereka.
“Kalau bajai bisa masuk aplikasi seperti kendaraan lain, mungkin kami masih bisa bersaing dan bertahan,” ujarnya penuh harap.

Menurut Yuster, banyak sopir bajai lain yang sebenarnya memiliki semangat yang sama untuk beradaptasi, tetapi keterbatasan akses teknologi dan kebijakan membuat mereka sulit mengikuti perubahan. Padahal, bajai telah menjadi bagian dari sejarah transportasi Jakarta sejak puluhan tahun lalu dan memiliki nilai historis yang kuat di mata masyarakat.
Keberadaan bajai bukan hanya soal kendaraan, tetapi juga tentang nasib para pengemudi yang menggantungkan hidup dari roda tiga tersebut. Di balik kemajuan sistem transportasi modern, terdapat kelompok pekerja sektor informal yang berjuang agar tidak sepenuhnya tersingkir oleh perubahan.
Kisah Yuster menjadi potret nyata bagaimana modernisasi membawa konsekuensi sosial bagi sebagian masyarakat. Ia tetap memilih bertahan, menyusuri jalanan Jakarta dengan bajainya, sambil berharap ada ruang bagi transportasi tradisional untuk tetap hidup berdampingan dengan moda modern.
Di tengah hiruk pikuk kota metropolitan yang terus berubah, suara mesin bajai mungkin tidak lagi dominan seperti dulu. Namun bagi Yuster dan rekan-rekannya, bunyi itu adalah simbol perjuangan, ketahanan, dan harapan untuk tetap bertahan di tengah arus zaman yang terus melaju.
Editor: Amiruddin. MK













