Sigli – Pada suatu sore yang teduh di Kota Sigli, aroma kopi dari warung-warung pinggir jalan bercampur dengan obrolan hangat tentang satu hal yang sama: sepak bola kembali pulang ke Pidie. Setelah bertahun-tahun menunggu momen besar, masyarakat akhirnya mendapat kabar yang membuat jantung para pecinta bola berdetak lebih cepat—Stadion Blang Paseh terpilih sebagai tuan rumah Babak Delapan Besar Liga 4 PSSI Aceh 2025–2026.
Kabar itu datang lewat surat Asprov PSSI Aceh, bernomor 174/PSSI-Aceh/X/2025, yang menetapkan tanggal 13 Desember 2025 sebagai hari dimulainya pertarungan delapan klub terbaik Aceh. Sontak, atmosfer Sigli berubah. Kota kecil yang biasanya tenang mendadak berdenyut dengan energi baru, seolah bersiap menyambut pesta yang sudah lama dinantikan.
Menyambut Para Kesatria Lapangan Hijau
Delapan tim terbaik Aceh akan bertarung habis-habisan:
PSAP Sigli, PSST Simpang Tiga, PSGL Gayo Lues, Alfarlaky FC Aceh Timur, Persas Sabang, Persabar Meulaboh, PSAB Aceh Besar, dan Kuala Nanggroe Banda Aceh.
Mereka dibagi ke dalam dua grup besar—Grup E dan F—yang masing-masing berisi cerita, gaya bermain, dan ambisi berbeda. Namun semua mengarah pada satu tujuan: menjadi yang terbaik di antara yang terbaik.
Di Grup F, sang tuan rumah PSAP Sigli memikul harapan besar publik. Mereka tidak hanya bermain untuk kemenangan, tetapi juga untuk harga diri kota. Sementara lawan-lawannya—Persabar Aceh Barat, PSAB Aceh Besar, dan PSGL Gayo Lues—datang membawa semangat untuk merebut panggung dari pemilik rumah.
Pidie dan Kerinduan yang Terbayar
Bagi masyarakat Pidie, sepak bola bukan sekadar olahraga; ia adalah hiburan, kebanggaan, dan denyut kultur yang menyatukan. Banyak yang masih mengingat masa ketika stadion penuh sesak, lengkap dengan teriakan suporter yang menggelegar. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tontonan besar terasa jauh, seakan hilang dari kalender kota.
Karenanya, kabar Blang Paseh menjadi tuan rumah disambut seperti seorang sahabat lama yang akhirnya pulang.
Di sela-sela obrolan sore di sebuah warung kopi, Irwansyah, pendukung setia PSAP Sigli, berkisah dengan mata berbinar:
“Kami sangat berterimakasih kepada Asprov PSSI Aceh atas kepercayaannya kepada Pidie. Masyarakat sudah lama ingin menonton pertandingan berskala besar. Liga 4 Aceh pun tidak kalah seru, karena tim-tim yang lolos ke Delapan Besar semuanya berkualitas.”
Irwansyah lalu terdiam sejenak, seolah membayangkan riuh tribun yang akan segera kembali menggema. “Alhamdulillah, kita bisa menonton kembali tim-tim terbaik di Aceh,” ujarnya sambil tersenyum.
Kerinduan publik Pidie bukan hanya soal pertandingan, tetapi juga tentang kebersamaan—tentang keluarga yang datang ke stadion, anak-anak yang mengecat wajahnya, hingga pedagang kecil yang menyiapkan dagangan ekstra karena tahu stadion akan penuh.
Blang Paseh, Sang Panggung Utama
Stadion Blang Paseh perlahan bersolek. Rumput diperkeras, garis lapangan dicat ulang, tribun dibersihkan dari debu. Panitia lokal bekerja siang-malam memastikan pertandingan berjalan aman dan nyaman.
Di balik persiapan teknis itu, ada harapan besar yang tidak terlihat oleh mata: harapan bahwa event ini mampu menghidupkan kembali gairah sepak bola di Sigli, membuka peluang baru bagi talenta muda, dan mengembalikan kejayaan yang dulu sempat redup.
Menanti Dentum Kick-Off
Selluruh Kota Sigli kini serasa berdetak menuju satu tanggal: 13 Desember 2025. Pada hari itu, stadion yang mungkin sudah lama merindukan hiruk pikuk penonton akhirnya kembali bernafas.
PSAP Sigli akan turun sebagai tuan rumah, membawa ambisi dan beban sekaligus. Namun satu hal pasti: mereka tidak berjuang sendirian. Ribuan pasang mata akan mengiringi, ratusan suara akan menggema, dan satu kota akan memeluk mereka dalam doa yang sama—menjadi kebanggaan Aceh.
Babak Delapan Besar ini bukan sekadar turnamen. Ia adalah cerita tentang harapan, kesetiaan, dan semangat sebuah kota yang kembali bangkit lewat sepak bola.
Dan ketika peluit pertama ditiup, seluruh Sigli akan berseru bersama: Selamat datang kembali, sepak bola!
Editor: Amiruddin. MKReporter: Amir Sagita









