Banda Aceh – Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (Diskopukmdag) Kota Banda Aceh mencatat kenaikan harga daging sapi menjelang tradisi meugang Idul Adha 1447 Hijriah. Lonjakan permintaan masyarakat terhadap kebutuhan pangan membuat harga sejumlah komoditas berbasis daging mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir.
Berdasarkan data pemantauan harga kebutuhan pokok yang dirilis Diskopukmdag Banda Aceh, harga daging sapi segar bagian paha belakang naik 5,88 persen dari Rp170 ribu per kilogram pada pekan lalu menjadi Rp180 ribu per kilogram pada pekan ini. Kenaikan juga terjadi pada komoditas tetelan yang meningkat dari Rp55 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.
Kepala Diskopukmdag Kota Banda Aceh, Bukhari Sufi, mengatakan kenaikan harga tersebut merupakan dampak meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat menjelang meugang, tradisi yang selalu mendorong tingginya permintaan daging di Aceh.
“Ketika permintaan masyarakat meningkat dalam waktu bersamaan, harga akan ikut bergerak naik. Ini menjadi pola yang hampir selalu terjadi menjelang meugang,” kata Bukhari, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, lonjakan permintaan tidak hanya berasal dari kebutuhan konsumsi harian, tetapi juga karena banyak masyarakat membeli dalam jumlah lebih besar untuk kebutuhan keluarga dan persiapan menyambut hari raya.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada aktivitas perdagangan di pasar tradisional. Sejumlah pedagang mengaku mengalami peningkatan penjualan dibanding hari biasa meskipun harga jual mengalami kenaikan.
Pedagang daging di Pasar Al Mahira, Alimuddin, mengatakan harga daging sapi yang sebelumnya berada di kisaran Rp150 ribu per kilogram kini dijual antara Rp170 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram.
“Biasanya Rp150 ribu per kilogram, sekarang naik menjadi Rp170 ribu sampai Rp180 ribu per kilogram karena permintaan menjelang meugang meningkat,” ujarnya.
Selain daging sapi, kenaikan harga juga terjadi pada ayam potong. Pedagang ayam di Pasar Al Mahira, Rahmat, mengatakan harga ayam broiler naik dari Rp65 ribu menjadi Rp70 ribu per ekor. “Hari biasa Rp65 ribu per ekor, sekarang Rp70 ribu karena permintaan sedang tinggi,” katanya.
Bukhari menjelaskan tradisi meugang memiliki pengaruh besar terhadap dinamika perdagangan pangan di Banda Aceh. Pada periode tersebut, perputaran uang di pasar tradisional meningkat signifikan karena masyarakat berbondong-bondong membeli daging, ayam, bumbu dapur, dan berbagai kebutuhan konsumsi lainnya.
Disis lain pemerintah kota telah menyediakan pasar murah daging meugang untuk warga kota Banda Aceh dengan harga yang relatif murah setekah disubsidi. “Di pasar murah harga dahing hanya Rp150 ribu per kilogram,” sebutnya. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK












