Aceh Barat Daya – Kondisi memprihatinkan terlihat SMP Negeri 3 Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya. Sekolah menengah pertama yang berdiri sejak 1 Januari 2009 ini kini menghadapi ancaman serius akibat minimnya jumlah peserta didik.
Hingga tahun ajaran berjalan, total siswa yang terdaftar hanya mencapai 18 orang yang tersebar dalam tiga tingkatan kelas.
Ironisnya, setelah lebih dari satu dekade berdiri, SMP Negeri 3 Blangpidie masih menjalankan kegiatan belajar mengajar dalam sistem satu atap bersama SD Negeri 13 Blangpidie.
Keterbatasan fasilitas dan kurangnya perhatian dari berbagai pihak menjadi salah satu penyebab utama rendahnya minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah tersebut.
Sejumlah pihak di Gampong Cot Jirat menyayangkan kondisi tersebut.
Mereka menilai bahwa keberadaan SMP Negeri 3 Blangpidie merupakan hasil perjuangan masyarakat setempat yang menginginkan akses pendidikan lebih dekat bagi anak-anak mereka.
Namun, seiring waktu, eksistensi sekolah tersebut justru semakin terancam.
“Kami sangat prihatin melihat kondisi sekolah ini. Dulu mendirikannya dengan penuh harapan agar anak-anak di gampong ini bisa mendapatkan pendidikan yang layak tanpa harus pergi jauh. Sekarang justru terancam tutup,” ujar Ketua Kobar GB Abdya, Rusli, Minggu (10/5/2026).
Berdasarkan data yang tercatat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik), SMP Negeri 3 Blangpidie saat ini berada dalam status “merah” akibat minimnya jumlah siswa.
Status tersebut menjadi indikator serius bahwa sekolah tersebut membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah daerah maupun instansi terkait lainnya.
Kepala SMP Negeri 3 Blangpidie, Muhammad Wahyu, mengakui bahwa kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi pihak sekolah.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak tinggal diam dan terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan jumlah siswa.
“Untuk tahun ajaran 2026–2027, kami terus berinovasi dan berupaya menarik minat masyarakat agar mau menyekolahkan anak-anak mereka di sini. Kami juga sangat mengharapkan dukungan dari aparatur gampong dan wali siswa,” kata Muhammad Wahyu.
Ia menambahkan bahwa salah satu langkah adalah menjalin komunikasi aktif dengan masyarakat serta memberikan pemahaman tentang pentingnya keberadaan sekolah tersebut bagi masa depan generasi muda di wilayah itu.
“Kami berharap aparatur gampong bisa ikut berperan aktif mengajak masyarakat agar tidak ragu mendaftarkan anak-anaknya ke SMP Negeri 3 Blangpidie. Ini bukan hanya tanggung jawab sekolah, tapi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Muhammad Wahyu juga mengungkapkan kekhawatirannya jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya solusi konkret.
Ia menilai bahwa kemungkinan penutupan sekolah bisa saja terjadi apabila jumlah siswa tidak mengalami peningkatan signifikan dalam waktu dekat.
“Jika kondisi ini terus seperti sekarang, kami khawatir sekolah ini bisa tutup. Ini tentu sangat menyayangkan, mengingat sekolah ini lahir dari perjuangan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, target minimal adalah memiliki setidaknya 60 siswa agar operasional sekolah dapat berjalan lebih optimal dan tidak lagi berada dalam kategori rawan.
“Kami akan terus berupaya sehingga jumlah siswa bisa bertambah, paling tidak mencapai 60 siswa. Itu menjadi target kami agar sekolah ini tetap bisa bertahan,” tegasnya.
Selain dukungan masyarakat, pihak sekolah juga berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah, khususnya dalam hal peningkatan fasilitas dan program pendukung lainnya yang dapat meningkatkan daya tarik sekolah.
Ketua Kobar GB menilai bahwa kondisi seperti yang dialami SMP Negeri 3 Blangpidie bukanlah kasus yang berdiri sendiri.
Banyak sekolah di daerah terpencil menghadapi tantangan serupa, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga kurangnya promosi dan dukungan kebijakan.
“Perlu ada intervensi khusus dari pemerintah, baik dalam bentuk program afirmasi maupun penguatan kualitas sekolah. Jika tidak, sekolah-sekolah kecil seperti ini akan terus terpinggirkan,” tambah Rusli.
Ia menambahkan bahwa pendekatan berbasis komunitas juga menjadi kunci penting dalam menyelamatkan sekolah-sekolah yang terancam tutup.
Keterlibatan aktif masyarakat dinilai dapat menjadi solusi jangka pendek sekaligus memperkuat keberlanjutan sekolah.
Keberlangsungan SMP Negeri 3 Blangpidie kini berada di persimpangan. Dengan jumlah siswa yang minim dan keterbatasan yang ada, masa depan sekolah tersebut sangat bergantung pada sinergi antara pihak sekolah, masyarakat, dan pemerintah.
Jika tidak ada langkah nyata dalam waktu dekat, bukan tidak mungkin sekolah yang lahir dari semangat gotong royong masyarakat Gampong Cot Jirat ini akan benar-benar tutup, meninggalkan harapan yang pernah tumbuh di awal pendiriannya.
Namun demikian, optimisme tetap dijaga oleh pihak sekolah. Dengan berbagai upaya yang terus dilakukan, mereka berharap SMP Negeri 3 Blangpidie dapat bangkit dan kembali menjadi pilihan utama bagi masyarakat dalam menyekolahkan anak-anak mereka.
“Ini bukan hanya soal sekolah, tapi soal masa depan anak-anak kita. Kami akan terus berjuang agar sekolah ini tetap hidup,” tutup Muhammad Wahyu.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar











