Kota Jantho – Ie Bu Kanji atau yang lebih dikenal dengan Kanji Glee Taron merupakan kuliner khas Aceh Besar yang diracik dari 44 jenis daun hutan yang dipetik dari kawasan Glee Taron Mata Ie. Makanan tradisional ini diproduksi oleh ibu-ibu Gampong Leu Ue, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.
Guna meningkatkan produksi serta memperkenalkan lebih luas kuliner tradisional tersebut kepada masyarakat, Ketua Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) Rimueng Tuhan Gampong Leu Ue, Hasan Bin Banta, menggelar pertemuan bersama kelompok ibu-ibu pengelola Kanji Glee Taron.
Pertemuan pengelolaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa 44 jenis daun hutan tersebut turut dihadiri Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Darul Imarah, Hasbi, serta Penyuluh Kehutanan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah I Aceh, Zura Amali, SP, di Gampong Leu Ue, Minggu (18/1/2026).
Hasan Bin Banta menyampaikan, pembinaan terhadap pelaku produksi Kanji Glee Taron bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas pemasaran, sekaligus memberikan kontribusi terhadap program ketahanan pangan nasional.
“Kita ingin kuliner tradisional khas Aceh Besar ini semakin dikenal masyarakat. Karena itu, kami menggerakkan kembali semangat ibu-ibu pelaku usaha untuk meningkatkan produksi dan memperkenalkan makanan khas Aceh agar tidak kalah saing dengan makanan modern. Kami juga membantu promosi dan pemasaran, sehingga dapat meningkatkan pendapatan mereka dan sekaligus mendukung program pangan nasional,” ujarnya.
Ketua KTNA Kecamatan Darul Imarah, Hasbi, menyambut baik upaya pelestarian dan pengembangan produk kearifan lokal tersebut. Menurutnya, Kanji Glee Taron merupakan kuliner yang sangat digemari masyarakat, terutama saat bulan Ramadan sebagai menu berbuka puasa.
“Ini makanan yang sangat diminati masyarakat. Selain rasanya khas, Kanji Glee Taron yang diracik dari berbagai jenis dedaunan juga memiliki manfaat bagi kesehatan,” ungkap mantan Imum Mukim Daroy Jeumpet itu.
Sementara itu, Penyuluh Kehutanan KPH Wilayah I Aceh, Zura Amali, SP, menyatakan pihaknya mendukung pemanfaatan HHBK untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian hutan.
“Produk kuliner ini merupakan kearifan lokal yang harus terus dilestarikan. Bahan bakunya berasal dari daun-daunan yang banyak tumbuh di kawasan Gunung Glee Taron. Dari sisi aturan kehutanan, pemanfaatan hasil hutan non kayu seperti daun ini tidak menjadi masalah,” pungkasnya.
Editor: Amiruddin. MK











