Home / Nasional / News

Minggu, 6 September 2026 - 12:13 WIB

Memasuki Usia 40 Tahun, Arief Rosyid Bicara “Rute Baru Politik Islam”

mm Poppy Rakhmawaty

Tokoh kepemudaan M. Arief Rosyid Hasan menandai usia 40 tahun melalui tasyakuran, peluncuran buku, dan diskusi bertajuk “Memimpin Rute Baru Politik Islam” di Menteng, Jakarta Pusat.

Tokoh kepemudaan M. Arief Rosyid Hasan menandai usia 40 tahun melalui tasyakuran, peluncuran buku, dan diskusi bertajuk “Memimpin Rute Baru Politik Islam” di Menteng, Jakarta Pusat.

JAKARTA – Tokoh kepemudaan M. Arief Rosyid Hasan menandai usia 40 tahun melalui tasyakuran, peluncuran buku, dan diskusi bertajuk “Memimpin Rute Baru Politik Islam” di Menteng, Jakarta Pusat. Acara ini menjadi ruang refleksi dua dekade kiprahnya di dunia aktivisme, kaderisasi, kepemudaan, dan politik, dengan menghadirkan, di antaranya, cendekiawan Muslim Fachry Ali serta Direktur Akademi Partai Golkar Hajriyanto Y. Thohari.

“Alhamdulillah, memasuki usia 40 tahun ini saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk terus belajar, berkarya, dan mengabdi. Dua puluh tahun lebih perjalanan di berbagai ruang kaderisasi dan politik mengajarkan saya bahwa perubahan tidak lahir secara instan. Ia membutuhkan proses, pengalaman, kompetisi, dan yang paling penting, kaderisasi yang terus-menerus,” ujar Arief.

Bagi Arief, usia 40 tahun merupakan momentum melihat kembali perjalanan sekaligus menentukan arah pengabdian ke depan.

“Perjalanannya tidak singkat, tetapi masih jauh lebih banyak yang dapat kita tuju bersama. Insya Allah, yang terpenting adalah bagaimana perjalanan berikutnya semakin luas manfaatnya bagi umat dan bangsa,” katanya.

Mengawali rekam jejak dari tradisi intelektual Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga menjadi Ketua Umum PB HMI 2013–2015, Arief menekankan bahwa regenerasi kepemimpinan membutuhkan pembentukan jam terbang, bukan sekadar pemberian panggung.

Baca Juga :  Tgk Agam Sabang: Beasiswa Anak Yatim Adalah Hak, Bukan Pilihan

“Saya percaya demokrasi adalah kompetisi, dan kompetisi membutuhkan jam terbang. Orang muda tidak cukup hanya diberi ruang untuk bicara. Mereka harus memperoleh kesempatan untuk belajar, berproses, bertanding, menang, kalah, lalu kembali bertanding. Kaderisasi memastikan regenerasi politik tidak berhenti pada pergantian usia, tetapi melahirkan pemimpin yang memiliki kapasitas, pengalaman, dan daya juang,” ujarnya.

Kini, Sekretaris Akademi Partai Golkar sekaligus Sekretaris Jenderal DPP AMPI tersebut mengusung gagasan “Rute Baru Politik Islam”, sebuah dorongan agar politik Islam bergerak dari perdebatan identitas menuju politik gagasan, kaderisasi, karya, dan kontribusi nyata.

“Politik Islam harus hadir dengan wajah yang relevan dengan zaman. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang kita wakili, tetapi apa yang kita perjuangkan, gagasan apa yang kita tawarkan, dan seberapa besar kekuasaan yang kita miliki dapat melahirkan karya, keadilan, dan kemaslahatan,” kata Arief.
Ia menegaskan pentingnya keterlibatan aktif generasi muda dalam politik agar kekuasaan dapat diarahkan secara tepat.

Baca Juga :  Kapolda Aceh Terima Audiensi Plt Sekda Aceh: Bahas Sinergi Pemerintah dengan Kepolisian

“Rute baru politik Islam bukan tentang membawa Islam semakin dekat kepada kekuasaan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita membawa kekuasaan semakin dekat kepada amanah, keadilan, dan kemaslahatan rakyat,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut,

Cendekiawan Muslim Fachry Ali mengingatkan pentingnya menjaga daya kritis saat masuk ke dalam lingkaran kekuasaan serta meneladani integritas tokoh bangsa seperti Mohammad Hatta dan Prawoto Mangkusasmito.

“Tantangan Arief dan generasinya bukan sekadar masuk ke dalam kekuasaan, tetapi bagaimana tetap memiliki daya kritis ketika sudah berada di dalamnya. Aktivis tidak boleh menjadikan partai hanya sebagai tangga kekuasaan. Ia harus membawa pikiran, nilai, dan agenda perubahan ke dalam institusi politik,” ujar Fachry.

Sementara itu, Direktur Akademi Partai Golkar Hajriyanto Y. Thohari menilai pembaruan politik Islam dapat dilakukan secara substansial dari dalam institusi politik yang ada.
“Rute baru tidak selalu berarti pindah jalan. Bisa jadi tugas generasi sekarang adalah memperbarui jalan yang sudah ditempuh: melakukan pembaruan dari dalam partai, memperkuat kaderisasi, memperbarui gagasan, dan membuat politik kembali bekerja untuk kepentingan masyarakat. Di situlah relevansi rute baru politik Islam hari ini,” kata Hajriyanto.

Baca Juga :  Mualem Boyong 120 Anak Yatim Belanja Baju Lebaran di Suzuya Lhokseumawe 

Momen harlah ini juga ditandai dengan peluncuran delapan buku karya Arief Rosyid sebagai wujud tradisi mendokumentasikan pemikiran dan pengalaman pengabdian.

“Saya selalu percaya aktivisme tidak cukup hanya dengan bergerak, tetapi juga harus meninggalkan gagasan. Buku adalah salah satu cara mendokumentasikan perjalanan dan berbagi pemikiran. Mudah-mudahan apa yang ditulis dapat menjadi bahan bagi generasi berikutnya untuk melanjutkan yang baik sekaligus mengoreksi apa yang masih kurang,” ujar Arief.

Acara tasyakuran dan silaturahmi lintas generasi ini dihadiri oleh keluarga, sahabat, senior, dan rekan seperjuangan dari berbagai organisasi.

Melalui momentum 40 tahun ini, Arief Rosyid menegaskan komitmennya untuk terus melangkah pada rute baru: memperkuat kaderisasi, memperluas peran anak muda, memperkokoh institusi politik, serta membuktikan bahwa keberhasilan politik Islam diukur dari seberapa besar kekuasaan dapat diubah menjadi karya, keadilan, dan kemaslahatan nyata bagi umat dan bangsa.

Share :

Baca Juga

Daerah

Presiden Prabowo dan Gubernur Mualem Bahas Percepatan Penanganan Bencana Aceh di Rapat Terbatas

Nasional

KPK Apresiasi Langkah Presiden Jokowi

Hukrim

KPK Tetapkan Tiga Tersangka Terkait Korupsi APD Kemenkes

Nasional

Menteri P2MI : CPMI ke Korea Selatan bukan hanya mencari uang, memanfaatkan kesempatan untuk belajar

Ekbis

Bank Aceh Raih Penghargaan Bergengsi di 6th Anniversary Indonesia 20 Syariah Awards 2026, Direktur Utama Fadhil Ilyas Dinobatkan Sebagai Best CEO

News

Pangdam IM Terima Audiensi Kepala Perwakilan Kemenkeu Aceh di Makodam IM

Nasional

UNDIRA Hadirkan Model Pengembangan untuk Pemberdayaan UKM di Kabupaten Bekasi

Nasional

Skandal BGN, KNPI DKI Desak Reformasi Total Anggaran MBG