Home / Hukrim / Nasional

Sabtu, 18 Oktober 2025 - 15:30 WIB

OTT Terhadap Jaksa Tak Perlu Izin Jaksa Agung

mm Redaksi

Sebanyak empat orang tersangka yang ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) usai melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Bondowoso, Jawa Timur, dihadirkan dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis (16/11/2023). (KOMPAS.com/Fika Nurul Ulya)

Sebanyak empat orang tersangka yang ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) usai melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Bondowoso, Jawa Timur, dihadirkan dalam konferensi pers di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Kamis (16/11/2023). (KOMPAS.com/Fika Nurul Ulya)

Jakarta – Mahkamah Konstitusi (MK) menetapkan bahwa operasi tangkap tangan (OTT) terhadap jaksa tidak lagi memerlukan izin dari Jaksa Agung. Putusan tersebut dibacakan dalam sidang pengucapan perkara Nomor 15/PUU-XXIII/2025 di ruang sidang MK, Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Putusan ini disambut sebagai langkah maju dalam memperkuat transparansi dan akuntabilitas penegakan hukum, khususnya dalam upaya pemberantasan korupsi di lingkungan aparat penegak hukum.

Dalam amar putusannya, MK menegaskan bahwa pengecualian berlaku bagi jaksa yang diduga terlibat tindak pidana berat, termasuk kejahatan terhadap keamanan negara. Dengan demikian, aparat penegak hukum kini dapat melakukan OTT terhadap jaksa tanpa harus menunggu izin dari Jaksa Agung.

Baca Juga :  Gubernur Riau Apresiasi Gubernur Nova Iriansyah Terkait Penerapan Perbankan Syariah di Aceh

Gugatan terhadap aturan tersebut diajukan oleh tiga pihak, yakni Agus Setiawan (mahasiswa), Sulaiman (pengacara), dan organisasi masyarakat Perhimpunan Pemuda Madani yang diwakili oleh Ketua Umumnya, Furqan.

Mereka menggugat Pasal 8 ayat (5) Undang-Undang Kejaksaan, yang sebelumnya memberikan perlindungan khusus bagi jaksa karena proses pemeriksaan, penangkapan, atau penahanan harus mendapat izin dari Jaksa Agung.

Baca Juga :  Mendagri Dampingi Presiden Jokowi Resmikan Tujuh PLBN Secara Serentak

Dalam pertimbangannya, MK menilai bahwa meskipun jaksa memerlukan perlindungan hukum dalam menjalankan tugas, perlindungan tersebut tidak boleh menimbulkan ketimpangan atau membuka peluang penyalahgunaan wewenang.

Hakim Konstitusi Arsul Sani menegaskan pentingnya keadilan dan kesetaraan di hadapan hukum. “Setiap individu, termasuk jaksa, harus diperlakukan sama di hadapan hukum,” ujarnya.

Melalui putusan ini, MK merevisi tafsir Pasal 8 ayat (5) UU Kejaksaan dengan menambahkan klausul pengecualian terhadap jaksa yang diduga melakukan kejahatan serius atau mengancam keamanan negara.

Baca Juga :  Berikut Daftar Penerima Penghargaan Reformasi Birokrasi di Lingkungan Kejaksaan RI Tahun 2024

Keputusan ini dianggap sebagai langkah penting dalam reformasi kelembagaan kejaksaan, karena memperkuat prinsip transparansi dan akuntabilitas di tubuh institusi penegak hukum. Dengan demikian, OTT terhadap aparat kejaksaan kini dapat dilakukan tanpa hambatan administratif, sepanjang terdapat bukti permulaan yang cukup, sebagaimana berlaku bagi penegak hukum lainnya.

Putusan MK ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya hukum yang lebih bersih dan adil di Indonesia, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap lembaga penegak hukum.

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Hukrim

Jampidum Setujui Empat Restorative Justice, Salah Satunya Perkara warga Aceh Tengah

Hukrim

Keluarga Korban Rudapaksa Minta Polisi Tangkap Pelaku Lainnya, Iptu Dearma : Untuk Tersangka Lainnya Sudah Terbit Surat Penangkapan

Kesehatan

Imunisasi Investasi Penting untuk Generasi Sehat Menuju Generasi Emas Indonesia 2045

Nasional

100 Hari Kabinet, Pemerintah Berhasil Cegah Penyelundupan Barang Ilegal Rp 3,7 Triliun

Hukrim

Bongkar Dugaan Pembiayaan Fiktif Rp48 Miliar, Ditreskrimsus Polda Aceh Geledah Kantor BPRS Gayo Aceh Tengah

Daerah

SAPA Minta Pj Bupati Bireuen Bersikap Tegas Terhadap Dugaan Aktivitas Galian C Ilegal

Nasional

Menko Hadi Ajak Seluruh Pegawai Kemenko Polhukam Isi Kemerdekaan Dengan Tujuan Nasional

Hukrim

Sepanjang Tahun 2024, KPK Jerat 363 Legislator dan 201 Kepala Daerah