Aceh Utara – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Dr. Suharyanto memastikan bahwa upaya pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Utara telah berjalan secara terarah dan ditangani oleh pihak-pihak yang memiliki kompetensi teknis sesuai bidangnya.
“Dengan koordinasi lintas sektor yang solid, proses rehabilitasi dan rekonstruksi diharapkan mampu memulihkan kehidupan masyarakat sekaligus meningkatkan ketahanan wilayah terhadap risiko bencana di masa mendatang,” Kata Letjen TNI Dr. Suharyanto dalam keterangan resminya, Jumat (30/1/2026).
Dalam rangka memastikan kebutuhan penanganan di lapangan sesuai dengan kondisi riil, Kepala BNPB menyusuri sejumlah titik terdampak dengan menggunakan motor trail pada Kamis (29/1).
“Langkah ini dilakukan untuk melihat langsung tingkat kerusakan struktural serta memastikan rekomendasi teknis yang diambil benar-benar sejalan dengan karakter geografis dan potensi risiko setempat,” Ujarnya.
Kepala BNPB menjelaskan, Salah satu fokus pemulihan adalah pembangunan kembali jembatan gantung di Desa Sawang yang terputus akibat meningkatnya debit air sungai saat bencana. Jembatan tersebut merupakan akses vital penghubung antarpermukiman sekaligus jalur utama distribusi ekonomi warga. Pembangunan kembali jembatan diarahkan tidak hanya untuk memulihkan konektivitas, tetapi juga memastikan desain yang lebih adaptif terhadap potensi banjir dan arus deras di masa mendatang.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut ke Desa Tumpok Blang dan Desa Babah Krueng, wilayah yang terdampak tumpukan material lumpur dan sedimentasi pascabencana.
“Pentingnya pengelolaan sisa material bencana secara terencana dan berkelanjutan. Penanganan yang tepat dinilai krusial untuk mencegah risiko lanjutan, seperti tersumbatnya alur sungai yang berpotensi memicu banjir susulan,” Terangnya.
Sepanjutnya, Selain infrastruktur, perhatian juga diarahkan pada pembangunan hunian sementara (huntara) bagi masyarakat terdampak. Penempatan huntara didorong agar memperhatikan tata ruang berbasis risiko bencana sehingga tidak kembali berada di zona rawan.
Pembangunan huntara ditargetkan rampung dan sudah dapat ditempati sebelum bulan Ramadan, agar masyarakat dapat menjalani ibadah dengan lebih aman dan nyaman.
“Prosesnya sudah terarah dan semakin baik. Saya minta agar huntara ini dapat selesai sebelum bulan ramadan tahun ini,” jelas Suharyanto.
Di Desa Paya Rabo Lhok, kondisi huntara dipastikan berada dalam keadaan aman serta mampu mendukung keberlanjutan layanan dasar masyarakat, seperti akses air bersih dan sanitasi. Pemulihan sektor hunian dinilai sebagai fondasi utama dalam membangun kembali ketahanan komunitas pascabencana, baik secara sosial maupun ekonomi.
Kehadiran Kepala BNPB di Aceh Utara mencerminkan komitmen pemerintah dalam memastikan proses pemulihan berjalan efektif dan tepat sasaran. Negara hadir tidak hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui keterlibatan langsung untuk melihat kondisi lapangan dan memastikan kebutuhan masyarakat terdampak benar-benar terpenuhi.
Pendekatan ini menegaskan state presence yang konkret, di mana pemerintah bersinergi dengan pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan masyarakat.
“Pemulihan pascabencana tidak hanya dimaknai sebagai membangun kembali infrastruktur fisik, tetapi juga sebagai upaya memperkuat ketahanan sosial, ekonomi, dan lingkungan secara berkelanjutan, dengan masyarakat sebagai pusat dalam setiap proses pengambilan keputusan,” Demikian Letjen TNI Dr. Suharyanto.
Editor: Amiruddin. MK










