Home / News

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:40 WIB

Puasa Tarwiyah dan Arafah: Menyelami Makna Spiritual Menjelang Idul Adha

mm Amir Sagita

DR Safwan, M.Ag

DR Safwan, M.Ag

Kajian Islam oleh Dr. Safwan, M.Ag, Ketua Prodi Studi Islam Pascasarjana STAI Nusantara Banda Aceh

Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, umat Islam di seluruh dunia kembali memasuki fase spiritual yang penuh makna. Tahun ini, Senin, 25 Mei 2026 bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 H, sementara Selasa, 26 Mei 2026 jatuh pada 9 Dzulhijjah atau yang dikenal sebagai Hari Arafah.

Dua hari istimewa ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk menunaikan dua ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, yakni Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah.

Bagi sebagian orang, puasa tersebut mungkin hanya dipahami sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga sebelum Idul Adha. Namun dalam perspektif kajian Studi Islam, dua puasa sunnah ini menyimpan kedalaman makna historis, spiritual, sosial, hingga dinamika pemikiran fikih kontemporer yang menarik untuk ditelaah.

Ketua Program Studi Studi Islam Pascasarjana STAI Nusantara Banda Aceh, Dr. Safwan, menjelaskan bahwa Puasa Tarwiyah dan Arafah bukan hanya ritual keagamaan semata, tetapi merupakan ruang refleksi spiritual yang sangat erat kaitannya dengan sejarah pengorbanan, ketaatan, dan ketundukan total seorang hamba kepada Tuhannya.

“Dalam kajian Islamic Studies, puasa Tarwiyah dan Arafah dipahami melalui banyak pendekatan. Tidak hanya dari sisi hukum fikih, tetapi juga sejarah, tasawuf, hingga sosiologi Islam,” ujarnya.

Jejak Sejarah Nabi Ibrahim: Dari Renungan Hingga Keyakinan
Puasa Tarwiyah yang dilaksanakan pada 8 Dzulhijjah memiliki akar sejarah yang erat dengan perjalanan ibadah haji dan kisah monumental Nabi Ibrahim AS. Secara etimologi, kata Tarwiyah berasal dari istilah tarawwa, yang bermakna merenung, berpikir mendalam, atau membawa persediaan air.

Dalam konteks ibadah haji, tanggal 8 Dzulhijjah menjadi hari ketika para jamaah mulai bergerak dari Kota Makkah menuju Mina. Pada masa lampau, mereka membawa persediaan air sebagai bekal menghadapi perjalanan menuju Arafah yang gersang dan penuh tantangan.

Baca Juga :  Gubernur Dukung Rencana Film Kesultanan Aceh-Ottoman, Siap Libatkan Tim Sejarah Terbaik

Namun makna Tarwiyah tidak berhenti pada aspek perjalanan fisik. Dalam sejumlah riwayat sejarah Islam, malam 8 Dzulhijjah juga diyakini sebagai momen ketika Nabi Ibrahim AS menerima mimpi pertama tentang perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.

Hari itu, Ibrahim tidak langsung mengambil keputusan. Ia merenung panjang, berpikir, dan mencoba memastikan apakah mimpi tersebut benar-benar wahyu ilahi atau sekadar godaan.

“Tarwiyah sesungguhnya mengajarkan kepada manusia pentingnya tafakkur atau refleksi mendalam sebelum mengambil keputusan besar dalam hidup,” terang Safwan.

Sementara itu, Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah memiliki makna yang lebih mendalam lagi. Kata Arafah sendiri berasal dari akar kata ‘arafa yang berarti mengetahui atau mengenal.

Dalam kisah Nabi Ibrahim AS, hari itu diyakini sebagai momen ketika beliau akhirnya yakin bahwa mimpi yang diterimanya benar-benar merupakan perintah Allah SWT yang harus dilaksanakan.

Keyakinan itu menjadi puncak ujian keimanan seorang ayah, sekaligus simbol totalitas kepasrahan manusia di hadapan Sang Pencipta.
Pada hari yang sama, jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf, sebuah ritual inti ibadah haji yang sering disebut sebagai miniatur Padang Mahsyar—tempat seluruh manusia kelak berkumpul mempertanggungjawabkan amalnya.

Sunnah yang Sangat Dianjurkan
Dalam perspektif fikih Islam, Puasa Tarwiyah dan Arafah memiliki status sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan, khususnya bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Sebaliknya, bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Padang Arafah, puasa justru tidak dianjurkan agar kondisi fisik tetap prima untuk memperbanyak doa, istighfar, dan zikir.

Keutamaan Puasa Arafah sendiri ditegaskan dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa pada Hari Arafah memiliki keutamaan luar biasa.

Baca Juga :  DPRA Fraksi Nasdem Soroti Kualitas Pendidikan di Aceh

Beliau berharap Allah SWT menghapus dosa satu tahun yang telah berlalu dan satu tahun yang akan datang bagi orang yang melaksanakannya dengan penuh keikhlasan.

Keutamaan besar inilah yang membuat umat Islam berlomba-lomba menjalankan puasa Arafah setiap tahunnya.

Sementara itu, dalil khusus mengenai Puasa Tarwiyah memang menjadi ruang diskusi para ulama hadis. Sebagian hadis yang menyebut pahala spesifik Puasa Tarwiyah dinilai berstatus dhaif atau lemah.

Namun demikian, para ulama tetap membolehkan pengamalannya berdasarkan prinsip fadhailul a’mal atau keutamaan amal, mengingat 8 Dzulhijjah masih termasuk dalam sepuluh hari terbaik bulan Dzulhijjah.

Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah. “Karena itu, Puasa Tarwiyah tetap menjadi bagian dari ikhtiar spiritual umat Islam untuk memperbanyak ibadah di hari-hari istimewa,” jelas Safwan.

Polemik Penentuan Hari: Ikut Arab Saudi atau Pemerintah?
Salah satu persoalan yang kerap muncul menjelang Puasa Arafah adalah perbedaan penentuan tanggal antara Arab Saudi dengan negara-negara Muslim lain, termasuk Indonesia.

Dalam kajian fikih kontemporer, persoalan ini dikenal dengan istilah ikhtilaf matla’, yakni perbedaan wilayah penentuan hilal.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Puasa Arafah sebaiknya mengikuti waktu wukuf jamaah haji di Arab Saudi, karena nama “Arafah” berkaitan langsung dengan aktivitas wukuf di lokasi tersebut.

Namun mayoritas ulama madzhab memandang bahwa pelaksanaan puasa tetap mengikuti ketetapan kalender hijriah masing-masing negara atau wilayatul hukmi.

Artinya, umat Islam di Indonesia menjalankan puasa berdasarkan keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat dan penanggalan nasional.
“Perbedaan ini adalah bagian dari dinamika pemikiran Islam yang harus disikapi secara dewasa. Jangan sampai perbedaan hari justru menimbulkan perpecahan di tengah umat,” ujar Safwan.

Baca Juga :  Jemaah Calon Haji Aceh Kloter Pertama Berangkat, Gubernur Ingatkan Jemaah Ikhlas dan Sabar 

Lebih dari Sekadar Menahan Lapar
Di balik praktik menahan lapar dan dahaga, Puasa Tarwiyah dan Arafah menyimpan pesan spiritual yang sangat mendalam.

Dalam perspektif tasawuf, kedua puasa ini merupakan proses cleansing atau pembersihan jiwa menjelang Idul Adha. Manusia diajak membersihkan hati dari kesombongan, iri, dendam, hingga kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Sementara dari sudut pandang sosiologi Islam, puasa ini menghadirkan solidaritas spiritual antara umat Muslim yang tidak berhaji dengan jutaan jamaah di Tanah Suci.

Ketika para tamu Allah bermunajat di Padang Arafah di bawah terik matahari, umat Islam di berbagai penjuru dunia turut merasakan getaran spiritual yang sama melalui puasa, doa, dan munajat.
Ada rasa keterhubungan batin yang melampaui batas geografis.

Puasa Tarwiyah dan Arafah pada akhirnya bukan hanya tentang ritual tahunan. Ia adalah pelajaran tentang kesabaran Nabi Ibrahim, ketulusan Nabi Ismail, dan kepasrahan total seorang hamba kepada kehendak Allah SWT.
Menjelang Idul Adha, umat Islam diajak kembali bertanya kepada diri sendiri: apa yang selama ini terlalu dicintai hingga sulit dikorbankan demi kebaikan?

Sebab hakikat kurban sejatinya bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih ego, keserakahan, dan segala hal yang menjauhkan manusia dari Tuhan.

Sebagai bentuk niat sederhana untuk diamalkan, umat Islam dapat melafalkan niat puasa sunnah Tarwiyah dan Arafah pada malam harinya. Dengan harapan, dua hari istimewa ini menjadi pintu pengampunan dosa sekaligus momentum memperbaiki diri sebelum menyambut gema takbir Idul Adha. “Puasa ini bukan semata tradisi tahunan, tetapi jalan mendekatkan diri kepada Allah. Momentum untuk memperkuat takwa dan memperbarui kesadaran spiritual,” tutup Safwan.

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Internasional

Presiden Palestina Minta Hamas Serahkan Senjata-Bebaskan Sandera

News

Tinjau Lahan Rencana Pembangunan Pabrik Rokok di Aceh Utara, Mualem : Pembangunan Langsung Dimulai Sekarang! 

Nasional

Kunjungan ke Pelabuhan ASDP Merak, BHS Dorong Penambahan Dermaga pada Lintasan Merak-Bakauheni

News

Muzakir Manaf Tunjuk M Nasir Sebagai Plt Sekda Aceh

News

April, Gubernur Muzakir Manaf Resmikan Pembangunan Pabrik Ban di Aceh Barat

News

Pj Gubernur Safrizal Apresiasi Peningkatan Pelayanan Publik di Aceh dalam Penganugerahan Predikat Kepatuhan 2024

Hukrim

TNI Amankan Senjata dan Munisi Usai Kontak Tembak dengan OPM di Papua Tengah

News

Masyarakat Diminta Laporkan Siapa Pun yang Mengaku Bisa Meluluskan Rekrutmen Polri