Home / Aceh Jaya / Hukrim

Jumat, 19 Juni 2026 - 20:25 WIB

Terpidana Korupsi Redistribusi Tanah di Aceh Jaya Lunasi Denda dan Uang Pengganti Rp140 Juta

mm Redaksi

Jajaran Kejaksaan Negeri Aceh Jaya menunjukkan dokumen pembayaran denda dan uang pengganti terpidana kasus korupsi redistribusi sertifikat tanah Setia Bakti, Jumat (19/6/2026). Foto: Dok. Kejari Aceh Jaya

Jajaran Kejaksaan Negeri Aceh Jaya menunjukkan dokumen pembayaran denda dan uang pengganti terpidana kasus korupsi redistribusi sertifikat tanah Setia Bakti, Jumat (19/6/2026). Foto: Dok. Kejari Aceh Jaya

Aceh  Jaya – Terpidana perkara tindak pidana korupsi penerbitan redistribusi sertifikat tanah di Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya, Aidi Akhyar bin Nazaruddin, telah membayar sanksi denda dan uang pengganti sebesar Rp140 juta yang seluruhnya telah disetorkan ke kas negara.

Informasi tersebut disampaikan Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Kejaksaan Negeri Aceh Jaya, Cherry Arida, SH, melalui siaran pers Nomor PR-03/L.1.24/Dti.3/06/2026 yang diterima awak media, Jumat (19/6/2026).

Cherry Arida menjelaskan, pembayaran tersebut terdiri atas denda sebesar Rp100 juta dan uang pengganti sebesar Rp40 juta sebagaimana amar putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.

Dalam siaran pers tersebut dijelaskan bahwa perkara yang menjerat Aidi Akhyar berkaitan dengan program redistribusi tanah objek landreform (TOL) di Kecamatan Setia Bakti pada tahun 2016. Berdasarkan kronologi perkara yang disampaikan Kejari Aceh Jaya, terpidana bersama sejumlah pihak melakukan serangkaian perbuatan yang kemudian diproses secara hukum hingga memperoleh putusan tetap.

Baca Juga :  Bupati Aceh Jaya Lepas KKN UTU, Desa Jadi Perhatian Utama

Menurut Kejari Aceh Jaya, perkara bermula ketika terpidana menawarkan diri untuk membantu pembukaan lahan sekaligus mengurus penerbitan sertifikat tanah melalui program pemerintah. Dalam perkembangannya, terpidana bersama pihak lain disebut mengumpulkan dan mengubah data administrasi yang digunakan sebagai dasar pengajuan calon penerima redistribusi tanah.

Masih berdasarkan uraian dalam siaran pers, lokasi yang diusulkan sebagai objek redistribusi tanah disebut tidak memenuhi ketentuan program landreform. Selain itu, dalam proses pengajuan penerbitan sertifikat juga ditemukan dokumen dan surat pernyataan yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya sebagaimana terungkap dalam proses persidangan.

Baca Juga :  Tuduh Wartawan Tak Bisa Dipercaya, Ini Tanggapan PWI Aceh terhadap Pemilik Akun TikTok Saif Lofitr

Kejari Aceh Jaya juga menyebutkan bahwa sebanyak 260 Sertifikat Hak Milik (SHM) diterbitkan tanpa mencantumkan klausul larangan pengalihan atau penjualan tanah selama 10 tahun sebagaimana ketentuan program redistribusi tanah. Setelah sertifikat diterbitkan, sebagian sertifikat diserahkan kepada pihak desa, sementara sebagian lainnya dikuasai oleh terpidana.

Berdasarkan hasil audit Inspektorat Kabupaten Aceh Jaya yang dikutip dalam siaran pers tersebut, perbuatan para pelaku mengakibatkan hilangnya aset negara berupa tanah seluas sekitar 5.145.910 meter persegi dengan nilai kerugian negara mencapai Rp12.607.479.500.

Baca Juga :  Tragis! Ibu dan Anak di Aceh Utara Diserang Pisau, Pelaku Tuna Rungu-Wicara Ditangkap

Lebih lanjut, Cherry Arida menjelaskan bahwa berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 3546 K/Pid.Sus/2026 tanggal 21 April 2026, Aidi Akhyar dijatuhi pidana penjara selama tiga tahun serta denda sebesar Rp100 juta, dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar maka diganti dengan pidana kurungan selama 60 hari.

Selain itu, terpidana juga dijatuhi pidana tambahan berupa pembayaran uang pengganti sebesar Rp40 juta. Apabila uang pengganti tersebut tidak dibayar, maka harta benda terpidana dapat disita dan dilelang untuk menutupi kewajiban tersebut sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Pembayaran sanksi denda dan uang pengganti oleh terpidana telah diterima dan seluruhnya disetorkan ke kas negara,” ujar Cherry Arida dalam siaran persnya.

Editor: Amiruddin. MKReporter: Sanusi

Share :

Baca Juga

Hukrim

Terkait Suap dan Gratifikasi, Kejagung Tetapkan Tiga Tersangka Oknum Hakim dan Satu Pengacara

Hukrim

YLBH CaKRA Daftarkan Praperadilan Terhadap Kapolres Lhokseumawe Terkait Prosedur Penyidikan

Daerah

LMND Dukung Sikap Tegas Polda Aceh Tindak Penjual Beras melebihi HET di Aceh Singkil

Hukrim

Caleg Terpilih DPRK Aceh Tamiang Diduga Jaringan Narkoba International  

Hukrim

Aksi Demo di Mapolda Aceh Diduga Ditunggangi Kepentingan Bandar Narkoba

Hukrim

Kasus Dugaan Korupsi Perikanan 2022–2025, Kejati Aceh Geledah Kantor PT Perikanan Simeulue

Hukrim

KBRI Phnom Penh dan Polri Perkuat Sinergi Lindungi WNI di Kamboja

Aceh Jaya

Lima Gampong di Aceh Jaya Masuk Penataan Batas Kawasan Hutan