Home / Opini

Minggu, 20 September 2026 - 08:57 WIB

Geudeu-Geudeu, Riuh Tradisi yang Kembali Pulang ke Pidie

mm Amir Sagita

Geudeu-geudeu dimainkan pada Uroe Lahee Pidie ke 515 di PCC Kota Sigli, Kamis (18/9/2026) (Foto IST).

Geudeu-geudeu dimainkan pada Uroe Lahee Pidie ke 515 di PCC Kota Sigli, Kamis (18/9/2026) (Foto IST).

Oleh :  Amiruddin Anggota PWI Pidie

Riuh suara warga pecah di halaman Pidie Convention Center (PCC). Orang-orang berkerumun, sebagian berdiri, sebagian lainnya memilih duduk di tepian arena. Pandangan mereka tertuju pada satu pertunjukan yang mungkin bagi sebagian warga merupakan pemandangan langka.

Geudeu-geudeu kembali dimainkan.
Tradisi lama masyarakat Pidie itu tampil dalam rangkaian peringatan Peuingat Uroe Lahee Pidie ke-515, atau hari lahir Kabupaten Pidie, yang digelar September 2026.

Bagi generasi yang pernah menyaksikan geudeu-geudeu pada masa lalu, pertunjukan itu seperti membuka kembali lembaran kenangan yang lama tersimpan. Namun bagi sebagian generasi muda, permainan tersebut justru menjadi sesuatu yang asing.

Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan permainan, tetapi juga untuk mengenal kembali bagian dari sejarah budaya daerahnya.

Di tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah, tradisi seperti geudeu-geudeu perlahan semakin jarang ditemui. Perubahan zaman membuat banyak permainan dan adat istiadat lokal kehilangan ruang dalam keseharian masyarakat.

Karena itu, ketika geudeu-geudeu kembali dimainkan di tengah keramaian peringatan Uroe Lahee Pidie, pertunjukan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan. Ia menjadi semacam perjalanan pulang.

 

Tradisi Setelah Panen

Geudeu-geudeu dikenal sebagai salah satu adat dan budaya masyarakat Pidie pada masa terdahulu. Tradisi itu berkaitan dengan kehidupan masyarakat agraris, terutama setelah masyarakat menyelesaikan masa panen padi.

Ketika sawah telah dipanen, masyarakat memiliki ruang untuk berkumpul, bersuka cita, sekaligus menjaga hubungan sosial antarsesama. Dalam suasana seperti itulah berbagai permainan rakyat ditampilkan. Geudeu-geudeu menjadi salah satunya.

Dahulu, pertunjukan semacam ini bukan sesuatu yang harus dicari di sebuah panggung pertunjukan. Ia hadir di tengah kehidupan masyarakat. Warga berkumpul dan menyaksikan permainan sebagai bagian dari kehidupan sosial mereka.
Kini suasananya berbeda.

Pertunjukan budaya harus dihadirkan kembali melalui berbagai agenda agar dapat disaksikan masyarakat, terutama generasi muda yang tidak lagi tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan permainan tradisional.

Baca Juga :  Melodi Lahan Seluas 276 hektare

Perubahan itu membuat sebuah pertanyaan muncul: berapa banyak anak muda Pidie hari ini yang masih mengenal budaya daerahnya sendiri? Pertanyaan itu menjadi penting ketika berbagai tradisi lama semakin jarang terlihat.

 

Ketika Budaya Menjadi Asing di Tanah Sendiri

Di arena PCC, warga terlihat antusias menyaksikan permainan geudeu-geudeu. Ada yang datang bersama keluarga. Ada pula anak-anak muda yang berdiri di antara kerumunan, mengikuti jalannya pertunjukan dengan rasa ingin tahu. Bagi mereka, ini bukan sekadar permainan. Ada sesuatu yang sedang diperkenalkan kembali.

Tidak semua generasi muda Pidie mengetahui bahwa daerah mereka memiliki beragam adat dan permainan tradisional. Geudeu-geudeu hanyalah salah satu di antaranya.

Masih ada meuen galah dan berbagai tradisi masyarakat lainnya yang pernah hidup dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat Pidie. Sebagian tradisi tersebut kini semakin jarang dimainkan.

Perubahan gaya hidup, perkembangan teknologi, dan bergesernya pola interaksi masyarakat membuat permainan tradisional tidak lagi menjadi pilihan utama anak-anak dan remaja.

Gawai mengambil sebagian besar waktu mereka. Permainan tradisional yang dahulu membutuhkan lapangan, teman bermain, dan interaksi langsung kini berhadapan dengan permainan digital yang dapat dimainkan seorang diri.

Di sinilah persoalan pelestarian budaya menjadi lebih besar daripada sekadar mempertahankan sebuah permainan. Yang dipertaruhkan adalah ingatan kolektif masyarakat. Sebab, ketika sebuah permainan tradisional hilang, yang hilang bukan hanya bentuk permainannya.

Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, cara masyarakat berinteraksi, sejarah, bahasa, simbol, serta cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Uroe Lahee sebagai Ruang Mengingat Peringatan Uroe Lahee Pidie ke-515 tahun ini menjadi salah satu ruang untuk mengingat kembali hal tersebut.

Pemerintah Kabupaten Pidie di bawah kepemimpinan Bupati Sarjani Abdullah membawa unsur adat dan budaya daerah ke dalam rangkaian peringatan hari lahir Pidie.
Langkah itu menjadi penting karena peringatan hari jadi daerah tidak hanya berbicara tentang pemerintahan, pembangunan, atau capaian ekonomi. Ada sejarah panjang yang membentuk identitas masyarakat Pidie.

Baca Juga :  PKN: Hasan Nasbi Dan Ade Armando Ubah Kursi Komisaris Jadi Podium Buzzer

Ada bahasa, adat, kesenian, permainan rakyat, tradisi masyarakat dan berbagai warisan leluhur yang ikut membentuk wajah Pidie hari ini. Dengan menghadirkan geudeu-geudeu, masyarakat diajak melihat bahwa sejarah daerah bukan hanya sesuatu yang tersimpan dalam buku. Sejarah juga hidup dalam permainan rakyat.

Ia hidup dalam gerakan para pemain, sorak penonton, cerita orang tua, serta ingatan orang-orang yang pernah menyaksikannya.

 

Generasi Muda dan Ingatan yang Hampir Hilang

Seorang anak yang berdiri di tengah kerumunan mungkin tidak mengetahui sejarah geudeu-geudeu.
Ia mungkin tidak pernah melihat permainan itu sebelumnya.

Tetapi ketika ia menyaksikan pertunjukan tersebut, setidaknya sebuah pertanyaan baru tumbuh dalam pikirannya. “Ini permainan apa?” Pertanyaan sederhana itu justru dapat menjadi awal dari proses mengenal budaya.

Dari pertanyaan itu, seorang anak dapat bertanya kepada orang tua atau kakeknya. Dari sana muncul cerita tentang bagaimana masyarakat Pidie dahulu mengisi waktu setelah panen, bagaimana anak-anak bermain, bagaimana masyarakat berkumpul, dan bagaimana adat diwariskan. Begitulah sebuah tradisi bertahan. Bukan hanya karena dimainkan, tetapi karena diceritakan.

Sebab itu, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menghadirkan pertunjukan sekali dalam setahun. Tradisi perlu diberi ruang untuk hidup kembali di tengah masyarakat. Sekolah, gampong, komunitas pemuda, sanggar seni, keluarga dan pemerintah dapat menjadi bagian dari mata rantai tersebut.

Bukan Sekadar Pertunjukan
Di PCC, geudeu-geudeu mungkin hanya berlangsung dalam waktu tertentu.

Namun maknanya jauh lebih panjang.
Pertunjukan itu memperlihatkan bahwa budaya lokal masih memiliki daya tarik ketika diberi ruang. Warga datang dan menyaksikan. Anak-anak muda melihat. Orang-orang tua mengenang.

 

Tiga generasi itu bertemu di satu arena.

Yang satu mengenang masa lalu.
Yang lain mengenal sesuatu yang hampir hilang. Sementara generasi berikutnya memperoleh kesempatan untuk mewarisinya. Di situlah sebuah perayaan hari lahir daerah memperoleh makna yang lebih luas.

Baca Juga :  Hutan Dirampas, Rakyat Ditenggelamkan: Perluasan Hutan Lindung Harga Mati

Uroe Lahee Pidie bukan hanya tentang angka 515 tahun. Ia juga tentang bagaimana masyarakat Pidie mengingat dari mana mereka berasal.

Merawat yang Hampir Terlupakan
Keputusan menjadikan peringatan Uroe Lahee Pidie sebagai agenda tahunan juga membuka peluang lebih besar bagi pelestarian budaya.

Setiap tahun dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan adat dan permainan rakyat yang berbeda.

 

Geudeu-geudeu dapat kembali dimainkan.

Meuen galah dapat diperkenalkan kepada anak-anak. Kesenian tradisional dapat diberi panggung. Cerita-cerita sejarah masyarakat dapat kembali dituturkan.

Dengan demikian, peringatan hari lahir Pidie tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu, masa kini dan masa depan.
Sebab sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh gedung, jalan dan infrastruktur.

Sebuah daerah juga dibangun oleh ingatan masyarakatnya. Ketika ingatan itu terputus, generasi baru dapat tumbuh tanpa mengenal akar budayanya sendiri. Karena itu, menghidupkan kembali geudeu-geudeu sesungguhnya bukan semata-mata menghidupkan sebuah permainan lama.

Ia adalah usaha menghidupkan kembali ingatan. Di tengah arena PCC, sorak warga terus terdengar. Para pemain menjalankan pertunjukan, sementara penonton mengikuti setiap gerakan. Sebagian mungkin datang untuk mencari hiburan.

Sebagian lainnya datang karena ingin bernostalgia. Namun bagi generasi muda yang baru pertama kali melihatnya, geudeu-geudeu bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal Pidie lebih jauh. Dari sebuah permainan, mereka mengenal tradisi.
Dari tradisi, mereka mengenal sejarah.

Dan dari sejarah, mereka mengenal identitas daerahnya sendiri. Lima abad lebih perjalanan Pidie akhirnya tidak hanya dirayakan dengan mengingat masa lalu, tetapi dengan memperkenalkan kembali warisan itu kepada generasi yang akan membawa Pidie ke masa depan.

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Opini

Muhammad Aditia Rizki: Menghargai Perjuangan Buruh, Mengapa Hari Buruh Nasional Adalah Hari yang Penting Bagi Kita Semua

Opini

Ketika Kapal Boat Bergoyang

Advetorial

Majunya Pendidikan di Indonesia untuk Menuju Indonesia Emas 2045 dengan : Sejahterahakan Tenaga Pendidik (Guru)

Opini

Guru Lem Pox

Opini

Kaum Muda: Generasi Rentan di Tengah Dinamika Zaman

Opini

Pelayanan Publik, Pilkada Dan Wawasan Kebangsaan

Daerah

Aceh Singkil Satu Juta Lubang, Satu Juta Dosa

Opini

Muhammad Aditia Rizki : Pemilu 2024, Menjaga kesucian Pesta Demokrasi dengan Meningkatjan Transparansi dan Akuntabilitas