Home / Advetorial

Senin, 1 September 2025 - 20:00 WIB

Tradisi Didong Lampahan: Malam Penuh Syair Gayo

mm Syaiful Anshori

Penampilan Tradisi Didong Lampahan. dok. Ist

Penampilan Tradisi Didong Lampahan. dok. Ist

Redelong – Desa Lampahan di Kabupaten Bener Meriah tidak hanya dikenal dengan kesejukan udaranya dan hamparan kebun kopi yang menenangkan, tetapi juga dengan kehidupan seni budaya yang terus berdenyut di tengah masyarakat.

Salah satu tradisi yang menjadi kebanggaan dan identitas masyarakat Gayo di desa ini adalah Didong, sebuah kesenian malam penuh syair dan makna yang diwariskan turun-temurun.

Bagi masyarakat Lampahan, Didong bukan sekadar hiburan rakyat. Ia adalah wadah untuk menyalurkan nilai, nasihat, dan filosofi kehidupan dalam balutan pantun dan lagu yang merdu.

Baca Juga :  Baitul Mal Aceh : Zakat Berdampak Positif Terhadap Kesejahteraan Masyarakat

Setiap bait syair Didong memuat pesan moral, kisah sejarah, bahkan sindiran halus terhadap kehidupan sosial yang disampaikan dengan penuh rasa dan keindahan bahasa Gayo.

Tradisi Didong Lampahan
Pertunjukan Tradisi Didong Lampahan. dok. Ist

Adnan, Sabtu (1/9/2025), seorang pengunjung dari luar daerah yang berkesempatan menyaksikan langsung pertunjukan Didong di balai desa Lampahan, mengaku terpesona oleh suasana yang tercipta malam itu.

“Saya tidak menyangka, kesenian seperti ini begitu hidup dan bersemangat. Dentuman ritmis dari tepukan tangan para pemain, disertai syair-syair puitis dalam bahasa Gayo, benar-benar menggugah perasaan,” ujarnya dengan mata berbinar.

Baca Juga :  Disbudpar Aceh Gelar Festival Seni Teater

Malam itu, dua kelompok Didong saling beradu syair sebuah tradisi yang dikenal sebagai “seserune” atau adu pantun. Penonton duduk melingkar, menikmati setiap untaian kata yang dilantunkan penuh semangat dan tawa. Setiap kelompok berusaha menampilkan kreativitas terbaiknya, sering kali dengan improvisasi yang cerdas dan jenaka.

Bagi warga Lampahan, Didong menjadi perekat sosial yang memperkuat kebersamaan. Tradisi ini juga menjadi media belajar bagi generasi muda untuk mencintai bahasa dan budaya Gayo.

Baca Juga :  Plt Sekda Aceh Terima Laporan Penyerahan Hasil Pemeriksaan BPK

Meski zaman terus berubah, Didong tetap bertahan, menjadi kebanggaan yang menghidupkan malam-malam di dataran tinggi Gayo.

Didong Lampahan memang lebih dari sekadar seni ia adalah denyut kehidupan Gayo yang tak lekang oleh waktu, menjadikan setiap malam yang dipenuhi syair sebagai perayaan atas warisan leluhur yang terus bernyanyi di langit Bener Meriah. [Adv]

Editor: Amir SagitaReporter: Syaiful Anshori

Share :

Baca Juga

Advetorial

Wakil Wali Kota Lhokseumawe Secara Resmi Membuka Pembagian Kanji Rumbi gratis di halaman Masjid Agung Islamic Center 

Advetorial

Wisata Dermaga Pante Menye, Sensasi Baru Menikmati Keindahan Danau Lut Tawar Takengon

Advetorial

Koleksi Terbatas dan Kendala Teknologi, Pustaka Digital Aceh Belum Optimal

Advetorial

The Wonder of Nanggroe, Spirit Kejayaan Iskandar Muda di Belantara Perbankan Ibukota

Advetorial

Pesona Teluk Lhok Mamuni, Pantai Eksotik Tersembunyi di Pidie

Advetorial

Gandeng Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK, BPKA Gelar FGD Penyusunan Naskah Raqan Pajak Aceh

Advetorial

Asiknya Kamping Sembari Menikmati Kesegaran Air Sungai di Objek Wisata Wihni Kulus di Bener Meriah

Advetorial

Serunya Wisata Kuliner di Pusat Jajanan UMKM di Tengah Kota Takengon