Home / Advetorial / Banda Aceh / Kesehatan

Rabu, 3 Juni 2026 - 20:46 WIB

891 Kasus HIV/AIDS Tercatat di Banda Aceh, Stigma dan Pasien Putus Obat Masih Jadi Hambatan

mm Redaksi

Kepala dinas kesehatan Banda Aceh, Wahyudi. Foto: Dok. Istimewa

Kepala dinas kesehatan Banda Aceh, Wahyudi. Foto: Dok. Istimewa

Banda Aceh – Kasus HIV/AIDS di Kota Banda Aceh masih menjadi tantangan serius di sektor kesehatan. Hingga akhir Maret 2026, Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mencatat sebanyak 891 kasus HIV/AIDS, terdiri dari 735 kasus HIV dan 156 kasus AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, mengatakan tingginya angka kasus tersebut menjadi perhatian pemerintah dalam upaya menekan penularan dan meningkatkan kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

“Kasus HIV/AIDS masih menjadi perhatian serius. Sampai akhir Maret 2026 tercatat 891 kasus, terdiri dari 735 kasus HIV dan 156 kasus AIDS,” kata Wahyudi, Rabu (3/6/2026).

Baca Juga :  Aksi Kamisan di Taman Ratu Safiatuddin: Mengulik 30 Tahun Konflik, Merawat Ingatan dan Menuntut Keadilan

Menurutnya, tren penemuan kasus HIV/AIDS dalam beberapa tahun terakhir cenderung meningkat. Namun, peningkatan tersebut tidak sepenuhnya menunjukkan bertambahnya penularan, melainkan juga dipengaruhi semakin luasnya layanan skrining dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan.

Ilustrasi cegah HIV/Aids. Foto: Dok. antara.com

Dinas Kesehatan mencatat, akses tes HIV kini semakin mudah diperoleh melalui fasilitas kesehatan. Selain itu, kegiatan penjangkauan kelompok berisiko dan deteksi dini yang dilakukan petugas kesehatan turut berkontribusi terhadap meningkatnya temuan kasus.

Meski demikian, Wahyudi mengakui pengendalian HIV/AIDS masih menghadapi sejumlah hambatan. Salah satu tantangan terbesar adalah stigma dan diskriminasi yang masih dialami oleh penderita HIV/AIDS di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Bahaya Obat Tradisional Mengandung BKO, BPOM Ingatkan Konsumen

Selain stigma, rendahnya kesadaran untuk melakukan tes HIV serta masih adanya pasien yang menghentikan pengobatan sebelum tuntas juga menjadi persoalan yang harus dihadapi.

“Masih ada masyarakat yang enggan melakukan tes HIV karena takut atau khawatir mendapat stigma. Di sisi lain, terdapat pasien yang putus pengobatan sehingga berisiko memperburuk kondisi kesehatan dan meningkatkan potensi penularan,” ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas Kesehatan terus memperluas layanan tes HIV dan pengobatan di berbagai fasilitas kesehatan. Edukasi kepada masyarakat juga terus ditingkatkan guna mendorong kesadaran pentingnya deteksi dini dan pengobatan secara rutin.

Baca Juga :  Pasar Murah Daging Meugang Bantu Warga Banda Raya Dapatkan Daging dengan Harga Terjangkau

Selain itu, pendampingan terhadap pasien diperkuat melalui kerja sama dengan komunitas, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, serta organisasi masyarakat.

Wahyudi menegaskan, deteksi dini dan kepatuhan menjalani terapi menjadi kunci utama dalam pengendalian HIV/AIDS. Dengan pengobatan yang teratur, penderita HIV dapat hidup sehat dan produktif serta menekan risiko penularan kepada orang lain. (Adv)

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Kesehatan

Satgas Yonif 112/DJ Layani Kesehatan Gratis dan Bagikan Bahan Makanan di Puncak Jaya

Aceh Barat

Pemkab Aceh Barat Laksanakan Kick Off Intervensi Stunting Seluruh Posyandu

Advetorial

Pasar Murah Daging Meugang Jadi Program Rutin Pemko Banda Aceh Jaga Daya Beli Warga

Advetorial

Vaksin Merah Putih Masuk Tahap Uji Klinis Pertama

Banda Aceh

SAFE Gen-A Tingkatkan Kesadaran P3K Siswa SMA Al-Athiyah

Kesehatan

Pemko Banda Aceh dan TWG RSSH Perkuat Kolaborasi Pengendalian AIDS, TBC, dan Malaria Menuju Eliminasi 2030

Kesehatan

Ditpolairud Polda Aceh Gelar Vaksinasi Merdeka

Kesehatan

RSUDZA Layani 2.000 Pasien per Hari, Obat Diberikan, Administrasi Diurus