Banda Aceh – Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Banda Aceh, Tgk. Ameer Hamzah, menegaskan bahwa Khanduri Laot merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Aceh sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki yang diberikan.
Hal tersebut disampaikan Ameer saat memberikan sambutan pada Festival Khanduri Laot dan Khanduri Aneuk Nelayan Lhok Kuala Cangkoi di Ulee Lheue, Banda Aceh, Rabu (22/7/2026).
Dalam sambutannya, Ameer mengutip kandungan Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah SWT akan menambah nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur, sedangkan mengingkari nikmat akan mendatangkan azab.
“Mensyukuri nikmat Allah ini secara turun-temurun telah diwujudkan dalam masyarakat Aceh melalui berbagai tradisi adat, seperti para nelayan dengan Khanduri Laot, serta para petani melalui Khanduri Blang dan Kenduri Glee,” ujarnya.
Menurut Ameer, berbagai tradisi adat tersebut telah disesuaikan dengan ajaran Islam sehingga tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan syariat.
Ia juga menjelaskan bahwa pemberian makanan kepada ikan atau makhluk hidup lainnya sebagai bagian dari tradisi dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap alam yang dapat bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah SWT.
“Kalau kita memberi makan ikan atau makhluk hidup lainnya, itu justru bernilai pahala. Artinya kita menjaga hubungan yang harmonis dengan alam sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah,” katanya.
Ameer menegaskan bahwa adat dan syariat merupakan dua hal yang harus berjalan beriringan. Selama suatu tradisi tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka adat dapat terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas masyarakat Aceh.
Sementara itu, Panglima Laot Kuala Cangkoi, Syafa’at, mengatakan pelaksanaan Khanduri Laot sejak dahulu selalu berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan tidak menyimpang dari syariat Islam.
“Kegiatan ini diawali dengan zikir dan doa bersama. Selain itu juga ada silaturahmi antarnelayan, santunan anak yatim, dan memberi makan kepada makhluk laut sebagai bentuk kepedulian terhadap alam,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengajak masyarakat untuk terus menjaga kelestarian laut dengan tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta berpedoman pada Hukom Adat Laot sebagai warisan leluhur Aceh.
“Mari kita manfaatkan sumber daya laut secara bijaksana, karena laut yang kita jaga hari ini akan menjadi sumber kehidupan bagi anak cucu kita di masa yang akan datang,” kata Illiza.
Editor: Amiruddin. MK













