Banda Aceh – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum Tsunami Aceh secara resmi menjalin kerja sama strategis melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dengan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh. Penandatanganan nota kesepakatan bersama ini berlangsung bertepatan dengan agenda pertemuan resmi kedua belah pihak pada Jumat, 7 Agustus 2026, bertempat di Aula Pascasarjana Unmuha, Banda Aceh.
Naskah kerja sama tersebut sebelumnya telah disepakati dan ditandatangani oleh Hafnidar A. Rani, selaku Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Aceh dan M. Syahputra Azwar, selaku Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh. Kesepakatan ini berlaku untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun ke depan.
Kemitraan ini mencakup pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi bidang Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Ruang lingkup kolaborasi yang disepakati di antaranya mencakup penyelenggaraan kegiatan pembelajaran, penelitian bersama, kuliah umum, seminar, workshop, magang dan praktik lapangan mahasiswa, pertukaran informasi/publikasi, hingga pengembangan kompetensi SDM dan pemanfaatan fasilitas bersama.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, M. Syahputra Azwar, menyampaikan apresiasi atas terjalinnya kerangka kerja sama ini sebagai langkah penting dalam mengoptimalkan peran museum tsunami sesuai dengan visi dan misinya.
”Dengan visi dan misi yang meliputi riset, edukasi, evakuasi dan rekreasi, Museum Tsunami Aceh dengan bangga melakukan kemitraan dengan perguruan tinggi seperti Unmuha. Kolaborasi ini menjadi energi baru dalam memperkuat riset, publikasi, dan edukasi publik yang bernilai sejarah, ilmiah, serta berdampak luas bagi masyarakat,” ujar Syahputra.
Sementara itu, Direktur Pascasarjana Unmuha Aceh, Hafnidar A. Rani, menegaskan pentingnya kolaborasi dengan museum tsunami bagi pihak Unmuha Aceh.
”Melalui kesepakatan ini, Pascasarjana Unmuha ingin memastikan bahwa setiap kajian akademis dan riset mahasiswa tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi dapat berkontribusi nyata bagi literasi kebencanaan masyarakat. Museum Tsunami Aceh merupakan laboratorium hidup yang sangat potensial bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan keselamatan kebencanaan,” kata Hafnidar.
Kegiatan diakhiri dengan penyerahan berkas MoA secara simbolis dan foto bersama jimpinan beserta seluruh staf yang hadir dengan suasana hangat penuh kebersamaan.
Acara penandatanganan dan penyerahan naskah MoA dihadiri oleh jajaran pimpinan dan civitas akademika dari kedua belah pihak. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK










