Banda Aceh – Mengusung tema “Prahara Pulau Emas” Pameran kolaboratif yang diinisiasi oleh Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat, Yayasan mataWaktu, dan PT PLN (Persero) menyapa masyarakat Serambi Mekah di Museum Tsunami Aceh pada 3–8 Agustus 2026.
Pameran ini menyajikan puluhan karya visual dokumenter terbaik dari para pewarta foto lintas wilayah, mulai dari Aceh, Medan, Padang, hingga Jakarta. Seluruh karya memotret secara mendalam dampak kedahsyatan bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang pada akhir November 2025 lalu.
Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, dalam sambutannya mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya atas penyelenggaraan kegiatan roadshow pameran foto “Prahara Pulau Emas” di kota Banda Aceh. Sebuah kehormatan bagi Kota Banda Aceh yang terpilih untuk dilaksanakan kegiatan kedua, dan insyaAllah berakhir di Kota Medan.
“Kegiatan ini sebetulnya sangat amat penting untuk bagaimana kita mengabadikan sebuah kejadian. Sayangnya, banyak orang tidak melihat ini sesuatu yang sangat sakral dan penting. Dan pameran foto kebencanaan mungkin menampilkan rangkaian gambar yang biasa, tapi setiap yang dipamerkan adalah rekaman dari sejarah. Jadi, apa yang digambarkan pada foto ini biasanya karya pewarta foto itu jauh lebih jujur,” ujar Illiza saat membuka kegiatan, Senin (3/8/2026).
Sementara itu, ketua PFI Pusat, Dwi Pambudo, menerangkan bahwa visual adalah perekam sejarah paling jujur. Ketika bencana melanda Aceh, Medan, dan Padang, kamera para pewarta foto bukan sekadar alat bekerja. Ia adalah saksi bisu sekaligus pemantik bangkitnya kemanusiaan.
“Kegiatan ini hadir sebagai momentum dokumen ingatan kolektif agar kita tidak pernah lupa pada jejak pilu sekaligus daya hidup masyarakat Sumatra yang luar biasa,” kata Pambudo.
Ketua PFI Aceh, Muhammad Anshar, berharap pameran ini melahirkan generasi pewarta foto yang profesional, menjunjung tinggi etika jurnalistik, serta memiliki kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
”Melalui pameran ini kami berharap setiap foto menjadi ruang edukasi, refleksi, dan hingga inspirasi. Semoga setiap pengunjung tidak hanya membawa pulang kesan terhadap karya-karya yang dipamerkan, tapi juga membawa empati, menumbuhkan kepedulian, dan menguatkan semangat untuk bersama-sama membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi bencana,” harap Anshar.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, pihak penyelenggara juga menggelar workshop fotografi jurnalistik yang diikuti oleh mahasiswa dan komunitas fotografi dari berbagai daerah di Aceh. Workshop ini menghadirkan Pendiri Yayasan Research Visual Mata Waktu, Oscar Motuloh dan Kurator pameran sekaligus pewarta foto Harian Kompas, Danu Kusworo.
Estafet pameran kini berlanjut ke Kota Banda Aceh. Pemilihan Museum Tsunami Aceh sebagai venue berikutnya dirasa sangat sakral dan pas, mengingat arsitekturnya yang monumental sekaligus menjadi simbol global tentang ketangguhan sebuah bangsa dalam menghadapi bencana besar. (Adv)
Editor: Amiruddin. MK










