Aceh Timur – Pendidikan lingkungan tak cukup berhenti di ruang kelas. Di Kecamatan Julok, Aceh Timur, Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bersama Forum Konservasi Leuser (FKL) mengenalkan pentingnya menjaga alam dan hutan kepada siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.
Kegiatan edukasi konservasi itu menyasar sejumlah sekolah, yakni SDN 1 Julok, MIN 2 Aceh Timur di Kuta Binjei, SMPN 1 Julok, dan SMPN 2 Julok. Program tersebut melibatkan Pemerintah Kecamatan Julok dan unsur musyawarah pimpinan kecamatan (muspika), serta didampingi kepala sekolah dan guru.
Materi dimulai dengan pengenalan alam, hutan, dan satwa yang hidup di dalamnya.
FKL juga menayangkan video tentang kerusakan lingkungan akibat ulah manusia untuk memperlihatkan dampak aktivitas manusia terhadap kelestarian alam.
Bunda PAUD Julok, Raudhatul Jannah, mengatakan pelibatan FKL bertujuan menanamkan kesadaran konservasi sejak dini. Menurut dia, edukasi lingkungan perlu diberikan secara berkelanjutan, terutama kepada anak-anak yang baru memasuki jenjang sekolah dasar.
“Anak-anak kelas I SD/MI ini merupakan jenjang transisi yang masih membutuhkan pemahaman dan pengenalan lingkungan,” kata Raudhatul.
Pada tahap awal, siswa diajak memahami hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti menjaga kebersihan sekolah dan rumah. Raudhatul juga meminta guru meneruskan pendidikan tentang kebersihan dan kelestarian lingkungan dalam proses pembelajaran, termasuk melalui pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Bagi Raudhatul, kegiatan semacam ini tidak semestinya berhenti setelah kunjungan edukasi berakhir. Sekolah memiliki peran penting membiasakan anak menjaga kebersihan dan menghargai lingkungan melalui kegiatan sehari-hari.
Manager Edukasi FKL, Feri Irawan, menjelaskan bahwa hutan memiliki peran penting bagi keberlangsungan hidup manusia, antara lain sebagai penyangga tata air dan penyedia oksigen. Karena itu, kerusakan hutan dan lingkungan dapat mengancam kehidupan manusia maupun satwa.
“Bumi adalah tempat kita menumpang hidup sebelum datangnya kematian. Untuk mempertahankan kehidupan, bumi ini harus dijaga, dirawat, dan dilindungi,” ujar Feri.
Ia mengajak siswa membangun kebiasaan sederhana untuk melindungi lingkungan, mulai dari tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak hutan, hingga tidak membunuh satwa liar.
Feri juga mendorong masyarakat membudayakan penanaman pohon di sekitar rumah. Menurut dia, menjaga bumi bukan hanya tanggung jawab aktivis lingkungan atau pemerintah, melainkan kebiasaan yang perlu ditanamkan kepada setiap generasi sejak kecil.
Melalui edukasi di sekolah, FKL dan Pemerintah Kecamatan Julok berharap kesadaran konservasi tumbuh menjadi perilaku sehari-hari, bukan sekadar pengetahuan yang diperoleh siswa di ruang kelas.
Editor: Amiruddin. MKReporter: Amir Sagita















