Home / Daerah

Kamis, 24 Juli 2025 - 22:59 WIB

Ketika Media Sosial Menjadi Panggung Baru: Mampukah Media Mainstream Ikut Tampil?

mm Redaksi

Diskusi Lintas Media Terkait Media Mainstream Bersama Para Jurnalis,Banda Aceh, Kamis (24/07/2025). Foto: Dok. Aininadhirah/NOA.co.id

Diskusi Lintas Media Terkait Media Mainstream Bersama Para Jurnalis,Banda Aceh, Kamis (24/07/2025). Foto: Dok. Aininadhirah/NOA.co.id

Banda Aceh – Di tengah derasnya arus informasi digital dan menjamurnya media baru pasca pemilu, muncul satu pertanyaan besar bagaimana media arus utama bisa tetap dipercaya dan relevan? Pertanyaan ini menjadi inti dari diskusi lintas media yang digelar TheAceh Post yang menghadirkan suara-suara kritis dari para jurnalis dan pegiat media tentang nasib media mainstream di era media sosial, Banda Aceh, Kamis (24/07/2025).

Salah satu fokus utama adalah pentingnya mempertahankan standar jurnalistik di tengah derasnya arus digitalisasi dan tren sosial media. Muncul pertanyaan kritis haruskah media arus utama mulai mengadopsi gaya emosional dan personal layaknya konten kreator agar bisa menarik perhatian audiens media sosial? Sebagian peserta berpendapat bahwa media perlu menyesuaikan gaya presentasi agar lebih menarik di platform digital, namun tidak boleh meninggalkan prinsip dasar jurnalisme.

Baca Juga :  Warga Melintasi Jembatan Gantung saat Mudik Idul Fitri 1445 H

“Banyak teman-teman konten kreator yang meski belum viral, sudah pandai mengikuti tren. Tapi konten mereka kadang menyalahi kode jurnalistik tapi ditambahi kata-kata puitis atau menarik komentar netizen. Itu jadi tantangan buat media mainstream sekarang,” ujarnya Irhamni salah satu narasumber di acara tersebut.

Ia juga menekankan bahwa kecepatan memang menjadi daya tarik media sosial. Namun, pada akhirnya masyarakat tetap akan mencari validasi dan pendalaman dari media yang kredibel.

Baca Juga :  Rapat Paripurna Di DPRK Pendapatan Aceh Timur Raih Rp 1,9 Triliun

“Orang tetap akan searching lagi, baca ulang dari sumber yang bisa dipercaya. Tapi sayangnya itu terjadi di tahap akhir. Harusnya dari awal masyarakat langsung membaca dari sumber resmi,” tambahnya.

Diskusi juga mengulas aspek bisnis media, termasuk soal harga iklan yang kini melonjak signifikan. Sebagai contoh, biaya iklan di Instagram bisa mencapai satu juta rupiah untuk satu konten promosi, sementara pada 2018 harga layanan publikasi pemerintah masih jauh lebih rendah. Ini menunjukkan dinamika ekonomi media yang turut berubah seiring perubahan pola konsumsi informasi.

Dalam konteks branding, media sosial kini menjadi senjata penting untuk membangun citra, baik bagi individu maupun institusi. Karena itu, wartawan masa kini dituntut tak hanya mahir menulis berita, tetapi juga aktif di media sosial agar mampu menjangkau audiens yang lebih luas dan mengikuti tren yang sedang berkembang.

Baca Juga :  Bakri Siddiq; Kerjasama BASAJAN Harus Diintensifkan dan Ditingkatkan

Diskusi ditutup dengan kesimpulan bahwa media harus tetap memegang teguh etika dan profesionalisme, namun juga harus cerdas membaca perubahan zaman. Kolaborasi antar media, peningkatan kapasitas wartawan, dan adaptasi terhadap pola komunikasi digital menjadi langkah penting agar media tetap relevan, kredibel, dan mampu bersaing di era transformasi digital yang tak terbendung.

Editor: Amiruddin. MKReporter:

Share :

Baca Juga

Daerah

Ngopi Sore, Awali Sinergitas Dandim 0115/Simeulue dengan Wartawan

Aceh Barat

Meriahkan HKN ke-60, Dinkes Aceh Barat Gelar Jambore dan Lomba Antar Puskesmas

Daerah

Pidie Susun Rencana Aksi Koridor Satwa Liar Ulu Masen

Aceh Besar

Kemenparekraf Ajak Aceh Besar Pamerkan Produk UMKM di Hotel Borobudur

Daerah

SPM Nanggroe Aceh Melaporkan Dugaan Korupsi Beasiswa 2017 ke KPK: Tuntutan Serius atas Kegagalan Penegakan Hukum

Daerah

Gubernur Aceh Ajak Pegawai Jaga Kekompakan dan Kedisiplinan di Bulan Ramadan

Daerah

Pengurus IWATAN Banda Aceh Dikukuhkan

Aceh Besar

Pj Bupati Iswanto Buka Festival Gelar Karya Seni Siswa dan Festival Tunas Bahasa Ibu