Home / Internasional / Pemko Banda Aceh

Jumat, 21 November 2025 - 10:00 WIB

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal Gaungkan “Charming Banda Aceh” di Maritime Silk Road Conference Wenzhou

mm Redaksi

Illiza Sa’aduddin Djamal berfoto bersama perwakilan UNESCO, World Tourism Alliance, dan delegasi lainnya setelah menyampaikan paparan tentang Banda Aceh di Maritime Silk Road Conference, Wenzhou, China, Kamis (20/11/2025). Foto: Dok. Prokopim Kota Banda Aceh

Illiza Sa’aduddin Djamal berfoto bersama perwakilan UNESCO, World Tourism Alliance, dan delegasi lainnya setelah menyampaikan paparan tentang Banda Aceh di Maritime Silk Road Conference, Wenzhou, China, Kamis (20/11/2025). Foto: Dok. Prokopim Kota Banda Aceh

Wenzhou, China – Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, memenuhi undangan khusus dari Kantor Cabang Zhejiang Kantor Berita Xinhua dan Pemerintah Rakyat Kota Wenzhou untuk menjadi salah satu pembicara pada Maritime Silk Road Conference. Forum internasional tersebut berfokus pada kerja sama pariwisata budaya, perdagangan, serta pengembangan potensi ekonomi kreatif di sepanjang jalur sutra maritim.

Dalam presentasinya, Illiza menggaungkan kembali peran Banda Aceh sebagai bagian penting dari Jalur Sutra Maritim dunia, terutama di kawasan Asia Tenggara. Ia menegaskan bahwa posisi Banda Aceh di ujung barat Indonesia menjadikannya titik awal jalur maritim bersejarah yang telah terhubung dengan Tiongkok, Arab, dan India sejak abad ke-15.

“Pelabuhan Banda Aceh sejak dulu menjadi persinggahan kapal dari berbagai bangsa, membawa rempah, sutra, ilmu, dan nilai-nilai peradaban,” ujar Illiza di hadapan perwakilan Unesco, World Tourism Alliance, pejabat berbagai kota dunia, serta perwakilan platform besar seperti TikTok, Tripadvisor, Trip.com, dan Fliggy.

Baca Juga :  MUI Terima Kunjungan Aliansi Organisasi Rohingya Dunia

Illiza menekankan bahwa Banda Aceh bukan hanya dikenal sebagai Serambi Mekkah, tetapi juga sebagai pusat peradaban Islam tertua di Asia Tenggara yang kaya warisan sejarah, mulai dari Masjid Raya Baiturrahman hingga situs Gunongan.

Ia memaparkan nilai pembangunan kota yang ia anut: Faith, Culture, and Harmony, yang dirangkum dalam visi besar “Banda Aceh Kota Kolaborasi”, menekankan peran penting kemitraan antar pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

Pada forum tersebut, Illiza memperkenalkan brand pariwisata baru, “Charming Banda Aceh”, yang membawa lima pesona utama: budaya dan seni, tsunami dan ketangguhan, religi dan sejarah Islam, kuliner, serta wisata bahari melalui sinergi Basajan (Banda Aceh–Sabang–Jantho).

Baca Juga :  91 WNI Diduga Korban TPPO, 44 Diantaranya bisa dipulangkan Ke Tanah Air

Selain pariwisata, Illiza memaparkan perkembangan Banda Aceh sebagai pusat ekonomi kreatif, termasuk identitas baru sebagai “Kota Parfum Indonesia” melalui pengembangan tanaman aromatik lokal seperti nilam, kenanga, dan melati.

Ia menyampaikan bahwa Banda Aceh bersama Universitas Syiah Kuala dan pelaku UMKM baru-baru ini berhasil mengekspor 1 ton minyak nilam ke Prancis senilai Rp1,5 miliar. “Kami ingin aroma Banda Aceh menjadi simbol kreativitas dan kemandirian ekonomi yang berakar pada nilai Islam,” ujarnya.

Illiza juga mengulas hubungan historis Aceh–Tiongkok sejak masa Dinasti Ming, termasuk pengiriman utusan Sultan Alauddin Riayat Syah ke Kaisar Wanli pada 1602 dan ditemukannya keramik Dinasti Ming di Gampong Pande dan Lamreh.

Masuk ke peluang modern, Illiza menawarkan sejumlah kolaborasi baru, di antaranya:

  • Promosi wisata lintas negara “From Wenzhou to Banda Aceh: The Maritime Silk Route Experience”

  • Investasi pariwisata halal dan waterfront city

  • Pertukaran SDM untuk pelatihan pariwisata, hospitality, dan teknologi digital

  • Kolaborasi Smart Tourism berbasis integrasi data dan AI

  • Pengembangan rute penerbangan Banda Aceh–Kuala Lumpur–Wenzhou/Guangzhou

  • Kerja sama media digital dengan TikTok/Douyin, Trip.com, Fliggy, dan WeChat

  • Dukungan logistik serta branding lintas negara bagi wisata, UMKM, dan event budaya

Baca Juga :  Plt Kadispar Banda Aceh: Agam Inong Harus Jadi Promotor dan Inspirator Wisata Islami

Menutup presentasinya, Illiza menyampaikan pesan perdamaian dan kolaborasi.

“Banda Aceh adalah kota kecil, tapi semangatnya besar—menjaga warisan, membangun kolaborasi, dan menebar kedamaian. Dari sejarah kita belajar kebersamaan, dari budaya kita belajar kemanusiaan, dan dari kolaborasi kita membangun masa depan yang damai. May our partnership sail together for peace, prosperity, and shared humanity,”tutupnya.

Editor: Amiruddin. MK

Share :

Baca Juga

Internasional

WNI Meninggal di Penjara Malaysia usai duel dengan Polisi

Advetorial

Kolaborasi Jadi Kunci Masa Depan Kota

Internasional

Demi menjaga Kinerja Ekspor Matras Indonesia, Kemendag Fasilitasi Verifikasi Penyelidikan Antisubsidi oleh Otoritas AS

Internasional

Kemlu RI : Anggaran Pemberangkatan TNI ke Palestina Masih Dibahas

Pemko Banda Aceh

Pemko Banda Aceh Mulai Data Menara Telekomunikasi di Kecamatan Lueng Bata

Internasional

Kemenko Polkam Kawal Proses Deportasi 150 PMIB dari Malaysia

Hukrim

Lindungi Calon PMI Dari Potensi Eksploitasi, Imigrasi Banda Aceh Tunda Keberangkatan 54 Calon Penumpang

Internasional

Kemlu Pulangkan 84 WNIB Terduga Korban TPPO, Tiga Diantaranya Berasal Dari Aceh