Aceh Barat Daya – Krisis bahan bakar minyak (BBM) melanda Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) di tengah kondisi mati lampu dan terganggunya distribusi BBM akibat bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Aceh.
Dalam situasi tersebut, sejumlah pengencer justru memanfaatkan keadaan dengan menjual Pertalite mulai Rp17 ribu – Rp30 ribu per liter.
Biasanya, pertalite dijual di pom mini muali dari Rp12 ribu – Rp15 ribu. Sedangkan yang menggunakan botol air mineral sedang, pertalite dijual Rp10 ribu, saat ini naik menjadi Rp20 ribu, botol air mineral (Aqua) besar dijual Rp30 ribu jauh tinggi dari biasanya hanya dijual Rp20 ribu.
Kondisi ini membuat masyarakat semakin tertekan, terutama warga yang sangat bergantung pada BBM untuk aktivitas harian. Sejak beberapa hari terakhir, warga memadati SPBU di Abdya sehingga antrean kendaraan mengular panjang dari pagi hingga malam.
Situasi semakin parah karena pemadaman listrik terjadi secara luas, menyebabkan aktivitas pengisian BBM tidak berjalan normal dan memperlambat pelayanan di SPBU.
Pasokan BBM dari depot juga tersendat akibat terganggunya akses distribusi karena bencana di beberapa daerah di Aceh.
Salah seorang warga Abdya, Amran, mengaku terpaksa mengantre di SPBU meski harus menunggu berjam-jam, lantaran harga BBM eceran sudah melampaui batas kewajaran.
“Di pengencer Pertalite sudah Rp30 ribu per liter. Kami tidak sanggup beli. Terpaksa antre di SPBU walaupun panjang dan lama,” ujar Amran, Sabtu (29/11/2025).
Ia menyebut, kondisi mati lampu membuat suasana makin kacau karena pengisian BBM tidak maksimal, bahkan beberapa kali pengisian terhenti.
“Listrik mati, pengisian terganggu, BBM langka karena tersendat tranportasi. Seperti krisis total,” katanya.
Pantauan media ini menunjukkan antrean panjang di SPBU yang mencapai ratusan meter. Tidak sedikit warga yang datang untuk membeli BBM cadangan, namun sebagian harus pulang dengan tangan kosong karena stok habis lebih dulu.
Warga menduga kelangkaan bukan hanya akibat gangguan distribusi, tetapi juga dipicu oleh perilaku penimbunan oleh oknum tertentu yang ingin mengambil keuntungan dari keadaan darurat.
“Ada yang memanfaatkan situasi bencana. Saat orang susah, mereka justru cari untung besar,” kata seorang warga.
Warga Susoh lainnya, Zarkani menyebutkan, kelangkaan BBM di tengah bencana berpotensi menimbulkan dampak sosial serius jika tidak segera ditangani.
“Ketika listrik padam dan BBM langka, aktivitas masyarakat lumpuh. Ini sudah masuk kategori darurat sosial dan perlu respons cepat,” ujarnya.
Zarkani menegaskan, pemerintah daerah harus segera berkoordinasi dengan pihak Pertamina serta instansi terkait untuk memastikan distribusi BBM kembali normal dan pengawasan harga di tingkat eceran diperketat.
“Masyarakat tidak boleh jadi korban dua kali: korban bencana dan korban permainan harga,” tegasnya.
Mahalnya harga BBM eceran mendorong masyarakat untuk mendesak aparat penegak hukum dan pemerintah kabupaten agar segera melakukan penertiban terhadap pengencer yang menjual di luar harga wajar.
“Kami minta aparat jangan diam. Ini pemerasan di saat bencana,” ujar Ridwan, warga Abdya.
Masyarakat berharap pemerintah segera bertindak untuk mencegah krisis berkepanjangan dan memulihkan distribusi BBM di Aceh Barat Daya.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar









