Aceh Barat Daya — Penyertaan modal Pemerintah Kabupaten kepada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Abdya sejak perusahaan tersebut berdiri tercatat telah mencapai Rp19,5 miliar.
Namun ironisnya, selama bertahun-tahun PDAM belum mampu memberikan kontribusi nyata berupa Pendapatan Asli Daerah (PAD) kepada pemerintah daerah.
Baru pada tahun 2026, manajemen PDAM Tirta Abdya menyatakan tidak lagi mengajukan penyertaan modal kepada pemerintah daerah dan mulai menargetkan perusahaan plat merah tersebut mampu menyumbang PAD pada tahun-tahun berikutnya.
Kondisi ini memunculkan sorotan publik, mengingat besarnya dana yang telah digelontorkan pemerintah daerah selama ini seharusnya dibarengi dengan feedback atau timbal balik bagi daerah, baik dalam bentuk PAD maupun peningkatan kualitas layanan air bersih kepada masyarakat.
Direktur PDAM Tirta Abdya, Riza Ariffiandi, tidak menampik fakta tersebut. Ia mengakui bahwa sejak awal berdirinya PDAM, perusahaan masih sangat bergantung pada penyertaan modal pemerintah untuk menjaga operasional dan pelayanan.
“Benar, sejak PDAM berdiri, penyertaan modal dari pemerintah daerah totalnya mencapai sekitar Rp19,5 miliar. Selama ini PDAM memang belum mampu menyumbang PAD,” kata Riza Ariffiandi kepada wartawan, Senin (12/1/2026).
Namun demikian, Riza menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Bupati Dr. Safarudin, S.Sos, MSP dan Wakil Bupati Zaman Akli, S.Sos dengan selogan arah baru Abdya maju saat ini, manajemen PDAM mulai melakukan pembenahan menyeluruh, baik dari sisi keuangan, operasional, maupun pelayanan pelanggan.
“Mulai tahun 2026, PDAM tidak lagi mengajukan penyertaan modal. Kami menargetkan perusahaan bisa mandiri dan ke depan mulai memberikan kontribusi PAD kepada daerah,” tegasnya.
Salah seorang warga, Ahmad menilai, penyertaan modal daerah seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban pemerintah mendukung BUMD, tetapi juga harus dibarengi dengan akuntabilitas dan target kinerja yang jelas.
“Penyertaan modal itu uang rakyat. Sudah selayaknya ada timbal balik yang dirasakan daerah, baik berupa PAD maupun pelayanan publik yang berkualitas,” ujarnya.
Menurutnya, fakta bahwa PDAM baru menargetkan PAD setelah bertahun-tahun berdiri menunjukkan lemahnya perencanaan bisnis BUMD di masa lalu.
“Ini menjadi pelajaran penting agar ke depan penyertaan modal tidak lagi bersifat rutin tanpa target. Harus ada kontrak kinerja yang tegas,” tambahnya.
Riza Ariffiandi menjelaskan, langkah-langkah strategis yang kini dilakukan antara lain efisiensi biaya operasional, penertiban pelanggan, pengurangan tingkat kebocoran air (non revenue water), serta optimalisasi potensi pelanggan baru.
“Kami sedang fokus menurunkan tingkat kehilangan air yang selama ini cukup tinggi. Jika ini bisa ditekan, otomatis pendapatan perusahaan akan meningkat,” jelas Riza.
Selain itu, PDAM juga mulai memperbaiki sistem administrasi dan penagihan untuk memastikan seluruh layanan yang diberikan berkontribusi terhadap pendapatan perusahaan.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap rupiah yang masuk benar-benar tercatat dan dikelola dengan baik,” katanya.
Masyarakat berharap komitmen manajemen PDAM saat ini tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar terealisasi. Dengan tidak lagi mengajukan penyertaan modal, beban keuangan daerah diharapkan bisa dialihkan untuk sektor lain yang juga membutuhkan perhatian.
“Jika PDAM sudah mandiri dan bisa menyumbang PAD, itu tentu sangat membantu keuangan daerah,” ujar Fitria warga di Kecamatan Susoh.
Ia menambahkan, masyarakat tetap akan melakukan pengawasan agar target PAD yang dicanangkan PDAM dapat tercapai sesuai rencana.
Komitmen PDAM Tirta Abdya untuk tidak lagi meminta penyertaan modal dan mulai menyumbang PAD menjadi ujian kepercayaan publik terhadap manajemen baru.
Masyarakat menunggu pembuktian bahwa dana Rp19,5 miliar yang telah digelontorkan selama ini tidak berakhir tanpa hasil.
“Sekarang tantangannya adalah pembuktian. Target PAD harus benar-benar terealisasi, bukan sekadar janji,” ujar Khalid warga lainnya.
Dengan target baru yang dicanangkan pada 2026, PDAM Tirta Abdya di bawah kepemimpinan Riza Ariffiandi diharapkan mampu bertransformasi dari perusahaan yang bergantung pada APBD menjadi BUMD yang sehat, mandiri, dan berkontribusi nyata bagi daerah.
Editor: RedaksiReporter: Teuku Nizar









