Nagan Raya – Minggu, 25 Januari 2026 Pemandangan kontras menyambut pengguna jalan lintas Nagan Raya. Di satu sisi, hamparan alam yang indah, di sisi lain, deretan pohon hias yang merana, kering kerontang di tengah terik kemarau. Kondisi ini mengundang tanya besar: ke mana perginya janji pemerintah daerah untuk mewujudkan lingkungan yang asri dan nyaman?
Pohon-pohon yang seharusnya menjadi penyejuk dan mempercantik wajah kota itu kini tampak memprihatinkan. Padahal, di musim kemarau seperti ini, perhatian ekstra berupa penyiraman rutin sangat dibutuhkan. Namun, kenyataannya, pohon-pohon itu seolah “ditinggal sendirian” tanpa ada upaya pemeliharaan yang memadai.
“Sangat disayangkan. Pohon-pohon ini seharusnya menjadi bagian dari upaya penataan kota, memberikan naungan bagi pejalan kaki, dan berkontribusi dalam mengurangi polusi udara. Tapi, lihatlah kondisinya sekarang, kering dan tidak terawat,” ujar Samsul, seorang pengguna jalan lintas Nagan Raya, dengan nada kecewa.
Kondisi ini bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal keselamatan. Pohon-pohon yang mati berpotensi roboh dan membahayakan pengguna jalan.
Dinas Terkait Diduga Kurang Koordinasi dan Minim Perhatian
Kritik pedas juga ditujukan kepada Dinas Pertamanan dan Pemukiman serta Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Nagan Raya. Kedua instansi ini diduga kurang koordinasi dan minim perhatian terhadap pemeliharaan tanaman kota.
“Kami menduga, kurangnya perhatian ini disebabkan oleh alokasi anggaran yang minim, kurangnya sumber daya manusia yang kompeten, dan sistem pemantauan yang tidak efektif,” ungkap Khairul, warga Ujong Fatihah, yang prihatin dengan kondisi tersebut.
Catatan Jurnalistik di Lokasi: Janji Tinggal Janji?
Dari pengamatan langsung di lapangan, Aprizal BM reporter NoA.co.id menyimpulkan bahwa kondisi pohon hias yang mengering ini mencerminkan kurangnya komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, indah, dan nyaman. Janji-janji manis saat kampanye seolah menguap begitu saja ditelan panasnya kemarau.
Beberapa langkah mendesak yang perlu dilakukan:
- Penyiraman Darurat: Lakukan penyiraman segera terhadap pohon-pohon yang masih bisa diselamatkan.
- Jadwal Pemeliharaan Rutin: Susun jadwal pemeliharaan yang teratur, terutama pada musim kemarau.
- Libatkan Masyarakat: Ajak partisipasi aktif masyarakat dalam upaya pemeliharaan tanaman kota.
“Kami berharap, pemerintah daerah segera mengambil tindakan nyata untuk mengatasi masalah ini. Jangan sampai hal kecil seperti ini terus diabaikan, karena akan berdampak besar pada citra daerah dan kenyamanan masyarakat,” pungkas Aprizali Munandar, melaporkan langsung dari lokasi, dengan nada prihatin namun tetap optimis akan adanya perubahan.
Editor: Amiruddin. MKReporter: Aprizali Munandar









